20 Negara Paling Rawan Kejahatan Siber, RI Masuk Zona Mengerikan

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan digitalisasi global ternyata diiringi lonjakan risiko penipuan dan kejahatan siber. Melansir dari Visual Capitalist, sejumlah negara berkembang menjadi wilayah paling rentan terhadap fraud atau penipuan pada 2025, termasuk Indonesia.

Dalam peringkat yang mengukur kerentanan fraud di 112 negara, Indonesia bahkan berada di posisi kedua sebagai negara yang paling rentan terhadap fraud. Kondisi ini menunjukkan tantangan besar dalam pengawasan digital, perlindungan data, hingga kesiapan sistem keamanan siber nasional.

Indeks kerentanan fraud global tersebut disusun berdasarkan empat faktor utama, yakni tingkat aktivitas penipuan, aksesibilitas sumber daya, intervensi pemerintah, serta kondisi kesehatan ekonomi suatu negara.

Negara Berkembang Dominasi Daftar Risiko Fraud Tertinggi

Data di bawah menunjukkan bahwa Pakistan menempati posisi pertama sebagai negara paling rentan terhadap fraud pada 2025 dengan skor indeks 7,5. Di bawahnya terdapat Indonesia dengan skor 6,5, disusul Nigeria sebesar 6,4 dan India dengan skor 6,2.

Selain itu, sejumlah negara berkembang lain di kawasan Afrika dan Asia juga masuk dalam daftar tingkat kerentanan fraud tertinggi dunia.

Menariknya, sejumlah negara Asia dengan tingkat digitalisasi tinggi juga masuk daftar 20 besar negara paling rentan terhadap fraud, seperti Vietnam dengan skor 4,2 serta China sebesar 4,1.

Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya penetrasi digital tanpa diimbangi sistem pengawasan dan perlindungan siber yang kuat dapat meningkatkan risiko kejahatan digital dan penipuan lintas negara.

Negara Eropa Dominasi Daftar Paling Aman dari Fraud

Sebaliknya, negara-negara Eropa mendominasi daftar negara dengan tingkat kerentanan fraud terendah di dunia pada 2025. Luxembourg menempati posisi pertama sebagai negara paling aman dari fraud dengan skor indeks hanya 0,8.

Posisi berikutnya ditempati Denmark dengan skor 0,9 serta Finland sebesar 1,0. Sementara Norway dan Netherlands sama-sama mencatat skor 1,1.

Dominasi negara Eropa dalam daftar ini menunjukkan kuatnya sistem pengawasan digital, regulasi keamanan siber, serta stabilitas institusi dan ekonomi di kawasan tersebut. Negara-negara tersebut juga dikenal memiliki tingkat literasi digital yang tinggi dan perlindungan data yang relatif ketat.

Selain Eropa, beberapa negara maju di kawasan Asia Pasifik juga masuk daftar paling aman dari fraud global, seperti Singapura, Australia, dan New Zealand.

Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan teknologi, pengawasan digital, dan penguatan sistem keamanan siber menjadi faktor penting dalam menekan risiko penipuan di era digital.

Amerika Serikat Masuk Kelompok Negara dengan Risiko Fraud Tinggi

Menariknya, negara maju seperti AS juga tercatat memiliki tingkat kerentanan fraud yang relatif tinggi secara global.  Amerika Serikat masuk dalam kelompok 20% dengan resiko fraud tertinggi secara global dengan skor 3,8.

Hal ini menunjukkan bahwa ancaman fraud digital kini tidak hanya menjadi masalah negara berkembang, tetapi juga negara maju dengan tingkat digitalisasi tinggi.

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Sebut Banyak Negara Bergantung pada Pupuk dan Beras RI
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Top 3 Sport: Pesan Vanja Bukilic untuk Megawati Hangestri, Media Korea Beri Peringatan, Prediksi Line Up Hyundai Hillstate
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Indonesia dan Belarus Tandatangani MoU Bisnis Senilai Rp7 Triliun
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polda Metro Bentuk Tim Pemburu Begal, Siap Beraksi 24 Jam
• 20 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Ungkap Alasan Diresmikannya 1.061 Kopdes Merah Putih: Saya Suka Angka 8
• 45 menit lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.