EtIndonesia. Sanksi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kuba terus memberikan tekanan besar terhadap negara tersebut. Pada Kamis (14 Mei), delegasi pejabat AS yang dipimpin Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan ke Kuba.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Kuba, Ratcliffe pada hari itu mengadakan pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri Kuba di ibu kota Havana.
Ini merupakan pertama kalinya sejak kunjungan mantan Presiden AS Barack Obama ke Kuba pada tahun 2016, sebuah pesawat pemerintah Amerika mendarat di Kuba — di luar pangkalan militer AS di Guantanamo Bay.
Pihak Kuba mengklaim bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat, serta tidak memiliki pangkalan militer atau intelijen asing di wilayahnya. Mereka juga menyatakan tidak pernah mendukung tindakan permusuhan terhadap AS.
Namun sebelumnya, Trump menuduh Kuba menindas dan menyiksa oposisi politik, memberikan perlindungan kepada organisasi seperti Hizbullah dan Hamas, serta mendukung kekuatan yang memusuhi Amerika Serikat. Trump menyebut tindakan Kuba sebagai “ancaman luar biasa” terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS.
Pada Januari tahun ini, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara manapun yang mengirim bahan bakar ke Kuba.
Pada 13 Mei, Menteri Energi dan Pertambangan Kuba, Vicente de la O Levy, mengatakan bahwa Kuba kini telah benar-benar kehabisan solar dan bahan bakar minyak, sehingga sistem kelistrikan negara itu berada dalam kondisi “kritis”.
Ia juga mengatakan bahwa pemadaman listrik besar-besaran setiap hari kini memengaruhi jutaan warga Kuba.
Menurut laporan Reuters, krisis listrik tersebut memicu aksi protes di berbagai wilayah Havana pada malam hari. Ini disebut sebagai demonstrasi terbesar sejak krisis energi meledak pada Januari lalu.
Seorang warga setempat mengungkapkan bahwa wilayah tempat tinggalnya telah mengalami pemadaman listrik selama lebih dari 40 jam tanpa henti. Ia mengatakan banyak lansia di lingkungannya, termasuk beberapa yang sedang sakit di tempat tidur. Pemadaman juga menyebabkan makanan di rumah mulai membusuk.
Warga hanya bisa memukul panci dan wajan sebagai bentuk protes, berharap pemerintah setidaknya memulihkan listrik selama tiga jam. “Ini bukan masalah politik, kami hanya ingin kehidupan dasar bisa tetap berjalan,” ujarnya.
Sumber : NTDTV.com





