Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan ke China dan bertemu pemimpin China, Xi Jinping pada Kamis (14/5/2026). Pertemuan tersebut selain bertujuan memperkuat stabilitas hubungan AS-China pada aspek ekonomi dan politik, juga membahas situasi geopolitik internasional yang terus memanas.
Kunjungan Trump ini tentu menarik perhatian publik internasional karena inilah kunjungan pertama presiden AS dalam satu dekade terakhir dan di tengah ruwetnya negosiasi damai antara AS dan Iran. Publik internasional kemudian berspekulasi apakah ini tanda Trump frustasi dan memandang China sebagai sebagai aktor penting dalam penyelesaian konflik?
Sejak Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada 7 April 2026 lalu dan terus diperpanjang hingga kini belum ada sinyal positif bahwa konflik akan berakhir dengan damai. Pembahasan proposal perdamaian diantara kedua belah pihak belum menemukan titik temu. Situasi makin memanas ketika Iran menutup selat Hormuz dan dibalas AS dengan melakukan blokade laut.
Saling serang antara kedua negara pun kerap terjadi. Mediasi damai yang difasilitasi Pakistan pada 11 April 2026 berakhir dengan kebuntuan dan belum ada kata sepakat diantara kedua negara.
Trump butuh China
Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah sebagai akibat perang AS vs Iran ini memperlihatkan ironi geopolitik bahwa negara yang dianggap super power ternyata tidak mampu menyelesaikan konflik ini sendirian. Dalam konstelasi politik global multipolar saat ini, Trump membutuhkan China sebagai mitra dalam mendorong de-eskalasi konflik dengan Iran.
Kenapa China penting? Pertama, Martin Jaquez, dalam bukunya When China Rules the World (2011), menempatkan China sebagai kekuatan global abad 21 yang akan menggeser dominasi Barat, bukan hanya soal ekonomi namun juga pengaruh politik di berbagai belahan dunia. Menggunakan proyeksi Goldman Sachs, dalam buku tersebut China diramalkan akan menggeser posisi AS sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada tahun 2050.
Saat ini berdasar data tahun 2025 AS masih memimpin dengan PDB 30,34 triliun dollar AS dan China membayangi di posisi kedua dengan PDB 19,53 triliun dollar AS. Artinya dengan melesatnya ekonomi China dalam beberapa dekade ini, Trump tahu bahwa China juga tidak ingin stablitas ekonominya terganggu akibat eskalasi konflik Timur Tengah.
Kedua, saat ini China tidak hanya dipandang sekedar kekuatan ekonomi dunia, melainkan juga aktor penting di Timur Tengah, terutama ketika China berhasil melakukan normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi tahun 2023 melalui penandatanganan Joint Trilateral Statement di Beijing. Peristiwa ini menunjukkan bahwa China mempunyai pengaruh yang kuat di Timur Tengah dengan keberhasilannya memediasi hubungan Arab Saudi-Iran yang memburuk sejak 2016.
Ketiga, China juga memiliki posisi strategis bagi ekonomi Iran. Sanksi ekonomi AS terhadap Iran yang diperketat kembali di era periode pertama Trump, 2018 telah menyebabkan Iran harus berkreasi untuk menjual minyaknya sebagai komoditas andalan negeri itu. Isolasi AS terhadap Iran dari sebagian besar pembeli minyak global menyebabkan Iran harus mencari alternatif negara pembeli. Untuk menarik pembeli, Iran menjual minyaknya dengan harga lebih murah.
China kemudian menjadi negara pembeli utama minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir. Dominasi ini didukung dengan lebih dari 80 % ekspor minyak Iran yang mengalir ke China, dengan nilai ekspor sekitar US$ 32.5 miliar atau sekitar Rp 549,3 triliun. Hubungan Iran dengan China menunjukkan ketergantungan asimetris.
Iran bergantung pada pasar China untuk menjaga pendapatan dari sektor minyak, sementara China diuntungkan melalui akses energi berharga murah sekaligus memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, China pun sebenarnya memiliki kepentingan akan pentingnya stabiltas di selat Hormuz untuk pasokan minyaknya ke depan.
Posisi inilah yang menyebabkan China memiliki leverage yang lebih kuat dibandingkan AS. Pendekatan koersif yang selama ini dilakukan AS tidak mampu membuat Iran tunduk pada keinginan AS. Justru pengalaman dua kali agresi AS bersama Israel tahun 2025 dan 28 Februari 2026 lalu yang menewaskan supreme leader Iran, Ali Khamenei telah menyebabkan kepercayaan Iran terhadap AS berada pada titik terendah. Inilah yang menyebabkan sulitnya tercapai kesepakatan pada poin-poin krusial seperti soal nuklir Iran, pengelolaan selat Hormuz, dan jaminan non agresi terhadap Iran di masa mendatang.
Insentif China bagi Perdamaian
Dalam konteks inilah kunjungan Trump ke China dimaknai publik sebagai cara Trump mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik dengan baik di tengah tekanan ekonomi dan politik dalam negeri AS dan menjaga muka AS sebagai negara super power. Kebutuhan AS terhadap China untuk sementara akan menggeser rivalitas kedua negara ke arah kerjasama untuk mencegah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Hal itu juga ditegaskan Xi Jinping dalam pertemuan tersebut bahwa hubungan AS dan China harus dibangun berdasarkan kemitraan, bukan persaingan. Konfrontasi hanya membawa kerugian bagi kedua pihak.
Reputasi dan pengaruh China akan menjadi insentif bagi stabilitas Timur Tengah. Bukan tidak mungkin setelah pertemuan ini China akan melakukan komunikasi dengan Iran untuk mendorong dihasilkannya kesepakatan damai dengan AS.
Tapi perlu dipahami juga bahwa pertemuan tersebut tidak lantas menjadikan China sebagai sekutu AS dalam konflik Iran. China akan tetap memainkan posisinya sebagai stabilisator dan secara pragmatis karena kepentingan ekonomi domestiknya dari kawasan ini maka China akan ikut terlibat dalam perdamaian kawasan bersama AS.
Terlepas kendala persoalan Taiwan yang hingga akhir pertemuan Trump belum mengubah posisinya, sementara Xi Jinping telah secara tegas langkah salah AS dalam kasus Taiwan dapat mengubah hubungan kedua negara, pertemuan tersebut menunjukkan pengakuan AS terhadap China sebagai sebuah kekuatan global untuk menekan Iran untuk mencapai titik temu dan segera mengakhiri konflik.
Trump harus mengakui bahwa China bukan lagi hanya rivalitas di berbagai arena, tapi China merupakan bagian dari mekanisme global yang tidak bisa diabaikan. Barangkali inilah yang disebut competitive interdependence, Hubungan AS dan China tetap berada dalam koridor kompetisi strategis di Indo Pasifik, Laut China Selatan, masalah Taiwan, hingga perang dagang. Namun dalam konflik Timur Tengah ini AS membutuhkan kerjasama China untuk de-eskalasi konflik di Timur Tengah, menekan Iran untuk kooperatif dan membangun kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan damai sehingga Trump dapat keluar dari perang ini dengan kepala tegak.
(zap/zap)





