Pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga ketahanan mental yang prima. Perubahan lingkungan yang drastis serta suhu ekstrem di Makkah saat ini memicu ancaman gangguan psikis, yakni disorientasi akut, terutama bagi kelompok jemaah lanjut usia (lansia).
Petugas kesehatan haji kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kelelahan fisik dan dehidrasi yang dapat menyebabkan jemaah kehilangan fokus hingga mengalami disorientasi. Sebagai langkah antisipasi, pendampingan dan pemantauan kesehatan di lapangan terus dioptimalkan.
Dokter Spesialis Jiwa Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr. Rismayanti, menjelaskan bahwa jemaah lansia merupakan kelompok yang paling berisiko. Hal ini disebabkan oleh kesulitan mereka dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang sangat berbeda serta paparan cuaca panas ekstrem.
"Faktor eksternal utama terjadinya disorientasi adalah suhu yang ekstrem," ujar dr. Rismayanti yang dikutip Liputan Haji 2026 pada Sabtu 16 Mei 2026. Langkah Pencegahan dan Penanganan Untuk memitigasi risiko ini, tim medis menekankan pentingnya upaya preventif yang dilakukan secara humanis. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
- Hidrasi Rutin: Jemaah sangat diimbau untuk tidak menunggu haus sebelum minum. Dr. Rismayanti menyarankan konsumsi cairan sebanyak 200 cc per jam secara teratur.
- Batasi Aktivitas Fisik: Menjelang puncak ibadah haji, jemaah lansia diminta membatasi aktivitas fisik yang berlebihan untuk menjaga kebugaran tubuh.
- Penggunaan Pelembap dan Oralit: Penggunaan pelembap kulit dan pemberian cairan oralit sangat disarankan bagi jemaah yang mulai menunjukkan gejala awal kelelahan.
- Kolaborasi Petugas: Penanganan disorientasi akut memerlukan kolaborasi erat antara pendamping, ketua kloter, dan petugas kesehatan sebagai kunci utama pencegahan di lapangan.
Baca juga: Catat, Ini Ciri Fisik Hewan Kurban Sehat dan Layak
Pihak medis menegaskan kolaborasi erat antara pendamping, ketua kloter, dan petugas kesehatan sebagai kunci utama pencegahan dan penanganan disorientasi akut. Melalui pendampingan yang optimal dan kepatuhan jemaah terhadap anjuran kesehatan, diharapkan risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem dapat ditekan seminimal mungkin selama prosesi ibadah haji berlangsung.




