Polusi Udara Picu Depresi, Kecemasan, dan Berbagai Gangguan Mental

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Sebagian besar wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara, termasuk DKI Jakarta, sudah memasuki musim kemarau sejak April 2026 dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Seiring datangnya El Nino, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering dan lebih panjang sehingga suhu udara akan terasa lebih panas.

Meski sejumlah wilayah masih dilanda hujan deras, suhu siang hari di beberapa kota di Indonesia sejak awal hingga pertengahan Mei 2026 terasa sangat terik. Kondisi itu kerap berlanjut hingga udara malam pun terasa amat gerah.

Bahkan sebagian warga di beberapa kota yang identik dengan cuaca panasnya mengaku pendingin ruangan dan kipas angin seringkali tidak banyak membantu mengurangi panasnya udara.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara sepekan terakhir di sejumlah kota di Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sumatera Utara berkisar antara 36-37,1 derajat Celsius.

Di Kota Surabaya, Jatim, suhu mencapai 36,4 derajat Celsius pada Kamis (14/5) dan Jumat (15/5) turun menjadi 35,2 derajat Celsius. Sementara di Kota Tangerang Selatan, Banten, suhu udara mencapai 35,4 derajat Celsius pada Kamis dan turun menjadi 34,4 derajat Celsius pada Jumat.

Baca JugaSuhu Panas Berpotensi Menggerus Produktivitas dan Pendapatan UMKM-Pekerja Informal

Meski suhu udara sudah sangat tinggi, perlu diingat bahwa saat ini musim kemarau belum mencapai puncak. Karena itu, suhu udara berpotensi terus meningkat hingga beberapa bulan ke depan. Musim kemarau biasanya akan mencapai puncak pada Agustus, tapi dampaknya bisa bertahan hingga beberapa bulan kemudian.

Tak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan di sejumlah wilayah, tingginya suhu udara juga akan meningkatkan risiko pencemaran udara dan berbagai gangguan kesehatan terutama dehidrasi, sakit kepala, dan serangan panas atau heat stroke.

Bahkan tingginya pencemaran udara membuat sejumlah perkantoran dan sekolah di Jakarta menerapkan kegiatan belajar dari rumah (BDR) dan bekerja dari rumah (WFH) pada periode bulan September-Oktober 2023.

Meski demikian, dampaknya tingginya suhu udara yang meningkatkan pencemaran udara tersebut terhadap kesehatan mental warga dinilai kurang terperhatikan.

Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memicu depresi, kecemasan, hingga penurunan kemampuan kognitif. Polusi udara juga meningkatkan risiko skizofrenia, gangguan bipolar, hingga hasrat bunuh diri.

Padahal, seperti ditulis Livescience, Rabu (13/5), makin banyak hasil riset di Asia, Amerika Serikat (AS), dan Eropa yang membuktikan paparan polusi udara dalam jangka panjang bisa memicu depresi, kecemasan, hingga penurunan kemampuan kognitif. Polusi udara juga meningkatkan risiko skizofrenia, gangguan bipolar, hingga hasrat bunuh diri.

Masalah global

Polusi udara merupakan masalah global. Sekitar 99 persen populasi dunia tinggal di negara-negara dengan mutu udara buruk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, mayoritas warga yang menghirup udara dengan tingkat pencemaran melebihi nilai ambang aman berada di negara-negara miskin dan berkembang, terutama di Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Papua Nugini.

India merupakan salah contoh negara dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di dunia. Kondisi tersebut diyakini menjadi penyebab lonjakan senyap kasus gangguan kesehatan mental yang berlangsung di negara tersebut selama beberapa tahun terakhir.  

Analisis Khaiwal Ravindra dan rekan yang dipublikasikan di npj Mental Health Research, 28 Oktober 2025, menemukan penduduk India utara yang tinggal dalam radius 5 kilometer dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara lebih cenderung mengalami stres, kecemasan, dan depresi dibandingkan mereka yang tinggal jauh dari pembangkit listrik.

Dampak lebih besar dirasakan oleh kaum perempuan. Sebab, rumah tangga di perdesaan India umumnya masih menjadikan bahan bakar biomassa, seperti kayu bakar, sisa tanaman, hingga kotoran sapi kering, sebagai sarana utama untuk memasak.

Sementara banyak perempuan tersebut berada di lingkungan dapur selama beberapa jam dalam sehari. Mereka yang menggunakan bahan bakar padat tersebut lebih cenderung melaporkan gejala depresi dibanding yang memasak menggunakan kompor gas atau kompor lisrik.

Baca JugaPerempuan dan Anak Rentan terhadap Polusi Udara Kota

Di India pada tahun 2023, rata-rata kandungan partikulat halus akibat pencemaran udara atau disebut PM2.5 di negara tersebut mencapai 41 mikrogram per meter kubik alias delapan kali lebih tinggi dibandingkan batas aman yang ditetapkan WHO.

Adapun PM2.5 adalah partikel kecil berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau sepersejuta meter. Partikel ini dapat menembus paru-paru. Masyarakat di wilayah dengan paparan PM2.5 yang melebihi ambang batas aman berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan.

Namun tidak semua partikel PM2.5 memicu gangguan kesehatan mental. Komponen partikel PM2.5 yang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental adalah partikel karbon dan aerosol anorganik sekunder, seperti sulfat, amonium, dan nitrat.

Karena itu, fokus memperhitungkan konsentrasi unsur-unsur tersebut dinilai lebih bermakna dalam memprediksi kesehatan mental masyarakat dibandingkan hanya menghitung konsentrasi partikel PM2.5 secara umum dari udara yang tercemar.

“Memperlakukan polusi udara sebagai polutan tunggal dan seragam dapat meremehkan dampaknya terhadap kesehatan mental, terutama di India yang sumber polusi dan komposisi kimianya sangat bervariasi, bergantung pada wilayah dan musim,” kata Kepala Pusat Ilmu Atmosfer di Institut Teknologi India Delhi (ITID) Sagnik Dey.

Dampak polusi udara pada kesehatan mental menumpuk dalam jangka lama sehingga kerap diabaikan dalam tingkat individu. Namun saat jutaan orang yang terpapar polutan udara selama puluhan tahun diperhitungkan dalam tingkat populasi, maka masalah yang selama ini diremehkan akan jadi beban kesehatan mental warga yang berdampak besar.

Tingginya gangguan mental akibat polusi udara itu tidak hanya terjadi di India, tetapi telah menjadi masalah global. Di AS pada Desember 2025 ditemukan ada 23,7 juta orang lanjut usia atau lansia berisiko mengalami depresi lebih tinggi akibat paparan polutan udara PM2.5 dibandingkan mereka yang kurang terpapar polusi udara sejak muda.

Persoalan ini muncul pada semua kelompok pendapatan dan pendidikan. Artinya, mau miskin atau kaya serta mampu melanjutkan pendidikan tinggi atau tidak, mereka semua tetap memiliki risiko yang sama terhadap paparan polutan udara.

Komponen partikel PM2.5 yang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental adalah partikel karbon dan aerosol anorganik sekunder, seperti sulfat, amonium, dan nitrat.

Baca JugaSemua Terdampak Polusi Udara
Peradangan otak

Polusi udara bisa menimbulkan berbagai gangguan mental karena polutan udara bisa memicu neruoinflamasi atau peradangan otak. Menurut mahasiswa program doktoral di ITID Payel Kundu, peradangan otak itu memicu aktifnya sistem kekebalan otak.

Ukuran polutan PM2.5 yang sangat kecil membuatnya mampu masuk ke dalam aliran darah dan mencapai otak dengan menembus sawar darah-otak atau membran pelindung otak.

Partikel tersebut juga dapat bergerak langsung dari hidung ke otak melalui saraf penciuman maupun tidak secara langsung melalui poros usus-otak atau jaringan komunikasi yang menghubungkan sistem pencernaan dan otak.

Di laboratorium, sel-sel otak yang terpapar langsung partikulat halus polusi udara akan langsung rusak hingga mengganggu fungsi sel dan memicu kematian sel.

Penelitian pada hewan juga menemukan bahwa jaringan otak merespon polusi dengan mengaktifkan sistem pertahanan imunnya, sekaligus memproduksi molekul tidak stabil yang merusak sel atau dikenal sebagai efek stres oksidatif.

Meski banyak riset berbasis sel tentang peradangan dan polusi berfokus pada penyakit neurodegeneratif atau gangguan perkembangan otak, riset yang dilakukan oleh Kundu juga menghubungkan antara neuroinflamasi dengan kecemasan dan depresi.

Menurut Kundu, unsur-unsur tertentu dari partikulat halus polusi udara, seperti karbon dan aerosol anorganik sekunder menjadi pemicu aktifnya sistem imunitas dan inflamasi di otak.

PM2.5 juga bisa mengganggu sinyal zat kimia otak yang terlibat dalam penentuan suasana hati, seperti dopamin maupun norepinefrin. Partikulat halus itu dapat mengganggu komponen kunci dari sistem respon tubuh pada stres disebut sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), yaitu sistem komunikasi antaketiga bagian otak itu yang merespons stres.

Saat stres, ketiga organ itu akan melepaskan hormon yang meningkatkan kadar kortisol dan menandakan orang tersebut mengalami stres.

Dari percobaan pada tikus, dampak partikulat halus polusi udara terhadap neuroinflamasi dan masalah kesehatan mental itu menunjukkan hubungan sebab akibat.

Tikus yang terpapar pertikulat  halus sebanyak 185 mikrogram per meterkubik menunjukkan perilaku mirip depresi yang lebih banyak dibanding tikus yang hanya terpapar 58 mikrogram per meter kubik partikulat halus.

Baca JugaKemacetan dan Polusi Udara Pengaruhi Kesuburan Manusia

Tikus yang terpapar polutan lebih banyak terlihat lebih sedikit bergerak dan menjelajahi lingkungan sekitarnya. Saat uji stres berbasis air dilakukan, tikus yang terpapar partikulat halus lebih banyak mengambang di permukaan air daripada mencoba untuk melarikan diri keluar dari air.  

Selain itu, polusi udara memengaruhi kesehatan mental secara tidak langsung. Saw Swee Hock daari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Nasional Singapura mengatakan udara tercemar berkontribusi pada penyakit jantung dan paru-paru. Masalah kesehatan fisik pada dua organ itu meningkatkan risiko depresi dan masalah kesehatan mental lain.

“Penurunan fisik akibat pencemaran udara memediasi dampak pada kesehatan mentalnya,” katanya.

Studi lain yang dilakukan di China menunjukkan terbentuknya lapisan ozon juga meningkatkan munculnya gejala depresi, khususnya pada penduduk berumur lebih dari 45 tahun. Ozon merupakan gas reaktif yang terbentuk ketika sinar Matahari berinteraksi dengan polutan dari kendaraan dan industri.

PM2.5 juga dapat mengganggu sinyal zat kimia otak yang terlibat dalam penentuan suasana hati, seperti dopamin maupun norepinefrin.

Terbentuknya ozon itu dikaitkan dengan peningkatan peradangan dan risiko penyakit kardiovaskular yang pada gilirannya, kedua masalah kesehatan fisik itu akan berdampak pada risiko depresi yang lebih tinggi.

Pengendalian

Meski makin banyak bukti menunjukkan polusi udara meningkatkan risiko gangguan mental, profesor kesehatan lingkungan di Universitas Emory, Atlanta, AS, Yang Liu mengatakan butuh riset lebih dalam untuk memahami bagaimana partikulat halus PM2.5 memengaruhi risiko depresi.

Studi tersebut membutukan pelacakan jangka panjang banyak individu dari waktu ke waktu sambil mengukur besaran paparan polusi udara dan tanda-tanda peradangan otak.

Selain itu, studi lanjutan perlu dikaitkan dengan berbagai kondisi lain karena prolusi udara umumnya tidak muncul sebagai gangguan tunggal. Polusi udara sering muncul dengan berbagai kondisi tekanan lingkungan lainnya, seperti suhu panas ekstrem, kebisingan, dan stres sosial.

Dengan memahami berbagai faktor yang saling berinteraksi dan tumpang tindih tersebut, hal itu dapat mendorong munculnya kebijakan pengendalian pencemaran udara yang lebih tepat dan efektif.

Namun solusi paling jelas dan bisa dilakukan dari sekarang yakni membersihkan udara di sekitar kita. “Jika kita mengurangi polusi di sumbernya, maka kita mengurangi paparan (polutan) bagi semua orang secara bersamaan, termasuk kelompok rentan tanpa sarana untuk melindungi diri mereka (dari polusi udara) secara individual,” katanya.

Baca JugaPaparan Polusi Udara Selama Kehamilan Ancam Perkembangan Otak Bayi

Karena itu, kebijakan pengendalian pencemaran udara dengan mengendalikan emisi yang dihasilkan sektor transprtasi, industri, dan pembangkit listrik sangat penting untuk dlakukan untuk menjaga kesehatan mental masyarakat.

Upaya tersebut akan lebih berguna jika pengendalian difokuskan pada pengurangan pada unsur-unsur tertentu dalam partikulat halus polutan udara, seperti pengurangan emisi sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan amonia yang bisa memicu pembentukan partikel sekunder seperti sulfat, nitrat, dan amonium.

Untuk itu, sebelum musim kemarau mencapai puncaknya di Indonesia, pencegahan perlu segera dilakukan agar buruknya kualitas udara akibat tingginya suhu ekstrem beberapa tahun terakhir tidak terus berulang.

Udara bersih tidak hanya menciptakan kesehatan fisik yang baik, tetapi juga menjaga mental dan fungsi kognitif otak hingga kesejahteraan masyarakat bisa senantiasa dijaga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ivar Jenner Siap Bantu Ambisi Dewa United Pertahankan Posisinya di Papan Atas: Ogah Rontok dari Empat Besar
• 14 jam lalubola.com
thumb
Intip Garasi Prabowo yang Miliki Kekayaan Rp2,06 Triliun
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Lihat Sepeda Onthel di Museum Marsinah Nganjuk
• 7 jam laluberitajatim.com
thumb
KO Brutal dalam Hitungan Detik Guncang Dunia Tinju
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Hacker Iran Dituding Serang SPBU di AS, Berpotensi Bikin Kebocoran Gas dan BBM
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.