FAJAR, MAKASSAR – Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai langkah Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) berkeliling Indonesia mulai Juni 2026 bertujuan membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lolos ke Senayan pada Pemilu Legislatif 2029.
Menurut Jamiluddin, langkah tersebut sejalan dengan komitmen Jokowi saat menghadiri Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 31 Januari 2026 lalu.
“Jokowi ketika itu berkomitmen bekerja serius untuk membesarkan PSI dengan berkeliling Indonesia,” ujar Jamiluddin melalui layanan pesan kepada JPNN, Sabtu (16/5).
Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu menilai PSI memang sangat membutuhkan figur Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas partai.
Menurutnya, belum ada kader PSI yang cukup kuat untuk menarik dukungan publik secara signifikan, termasuk Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
Ia menilai sejumlah petinggi PSI, seperti Kaesang Pangarep dan Ahmad Ali, sebenarnya telah melakukan safari politik ke berbagai daerah. Namun, elektabilitas PSI dinilai belum mengalami peningkatan berarti.
“PSI tampaknya tinggal berharap pada Jokowi agar mimpinya ke Senayan dapat terwujud,” katanya.
Meski demikian, Jamiluddin menilai langkah PSI yang terlalu bergantung pada figur Jokowi merupakan strategi yang spekulatif.
Ia berpendapat masa keemasan Jokowi mulai memudar dan mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak lagi memiliki pengaruh sebesar sebelumnya dalam menggalang dukungan publik.
“Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait isu ijazahnya,” ungkapnya.
Menurut Jamiluddin, dukungan loyal terhadap Jokowi saat ini dinilai tidak lagi signifikan untuk membantu mendongkrak kekuatan PSI.
“Berharap kepada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI tampaknya akan berujung pada kekecewaan,” ujarnya.
Bahkan, ia menilai PSI berpotensi mengalami dampak negatif jika terlalu mengandalkan Jokowi untuk misi lolos ke Senayan pada Pileg 2029.
“Tidak menutup kemungkinan semakin banyak masyarakat yang justru antipati terhadap PSI,” katanya.
Karena itu, Jamiluddin menyarankan PSI mengkaji secara matang keuntungan dan risiko apabila memberikan ruang besar kepada Jokowi untuk berkeliling Indonesia membawa panji partai berlambang gajah tersebut.
“Jangan sampai PSI kembali gagal ke Senayan hanya karena salah menilai keperkasaan Jokowi,” tutupnya. (jpnn/*)





