Jejak Kemanusiaan Jusuf Kalla

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Pagi yang cerah di kediaman Jusuf Kalla di Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, berubah menjadi ruang refleksi yang mendalam. Tawa, doa, dan tepuk tangan mengiringi perayaan ulang tahun ke-84 Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 tersebut. Semua yang hadir mengakui dan meneladani sepak terjang Kalla dalam bidang kemanusiaan.

Ketika para kerabat menghujaninya dengan doa umur panjang, pria yang akrab disapa JK itu meresponsnya dengan sebuah pengakuan bahwa dirinya memasuki usia senja. ”Banyak yang mengatakan alhamdulillah umur panjang. Sebenarnya umur tinggal pendek, ya kan? Jadi kita boleh mengatakan umur panjang, tapi alhamdulillah umur bapak tinggal sedikit. Artinya, di situlah ibadah penting. Amal harus diperbanyak,” ucapnya di hadapan kerabat dan keluarganya yang hadir, Sabtu (16/5/2026).

Kesadaran akan sisa waktu itulah yang tampaknya menjadi bahan bakar utama JK untuk menolak berhenti bergerak. Setelah purna tugas dari pusaran pemerintahan, kakinya justru melangkah semakin jauh ke ranah sosial. Jejak pengabdian tanpa jeda terekam secara komprehensif dalam buku JK: Jejak Kemanusiaan, terbitan Penerbit Buku Kotapi. Buku yang baru terbit itu diserahkan sebagai kado ulang tahun..

Buku tersebut menyoroti sepak terjang JK sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Suhartono, mantan wartawan senior yang juga perwakilan tim penulis menyerahkan langsung buku ke JK.

”Buku ini adalah rekam jejak kemanusiaan, bermula saat kami mengikuti kegiatan beliau menangani PMI dan DMI,” ujar pria yang akrab disapa Mas Har tersebut.

Buku itu tidak sekadar catatan jejak pengabdian, tetapi sebuah rekaman literasi atas fase ketiga kehidupan JK. Dalam pandangan Kalla, hidupnya terbagi menjadi tiga babak. Pertama, awal 25 tahun untuk pendidikan dan organisasi. Kedua, 35 tahun berikutnya untuk membangun bisnis keluarga. Selanjutnya, dua dekade terakhir didedikasikan untuk pemerintahan serta kerja-kerja kemanusiaan tingkat global.

Bagi JK, kerja kemanusiaan dan merajut perdamaian, termasuk konflik-konflik negara yang hingga kini masih ia tangani secara senyap, bukanlah sekadar mengisi waktu luang di masa pensiun. Ini adalah manifestasi dari keyakinan religiusnya. .

Kalian semua bakal menjadi penghuni neraka. Tunjukkan kepada saya dalam Bibel ataupun dalam Al-Qur’an, mana ajaran yang mengatakan bahwa membunuh orang itu masuk surga, ayo tunjukkan.

Ia pun mengutip sebuah dialog antara Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya

”Anal yang lebih tinggi dari puasa dan shalat adalah mendamaikan orang. Mendamaikan satu orang saja pahalanya luar biasa, apalagi mendamaikan banyak orang,” tuturnya.

Menariknya, lembaran-lembaran dalam buku JK: Jejak Kemanusiaan itu justru membuka tabir paradoks dari sosok Sang Juru Damai. Publik kerap membayangkan seorang negosiator perdamaian bekerja dengan kelembutan, tutur kata yang pelan, dan kompromi tanpa batas. Namun, buku ini membongkar persepsi tersebut, memperlihatkan bagaimana JK meramu kemanusiaan dengan ketegasan.

Baca JugaJusuf Kalla: Perdamaian Jamin Masa Depan Dunia

Hal ini terekam jelas saat ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan ditugasi oleh Presiden Megawati Soekarnoputri untuk menangani konflik Poso pada tahun 2001. Dalam mewujudkan misi perdamaian, JK tidak jarang menggunakan pendekatan verbal agar pihak yang bertikai berhadapan langsung dengan realitas kehancuran yang bisa terjadi.

Saat kelompok yang bertikai di Poso sama-sama menganggap perseteruan mereka sebagai perang suci atau jihad yang akan membawa ke surga, JK mematahkan doktrin tersebut dengan keras.

”Kalian semua bakal menjadi penghuni neraka. Tunjukkan kepada saya dalam Bibel ataupun dalam Al-Qur’an, mana ajaran yang mengatakan bahwa membunuh orang itu masuk surga, ayo tunjukkan,” kata JK kala itu, seperti seperti tertuang dalam bab awal buku tersebut.

Ia tidak memberi ruang untuk alasan berbelit-belit. JK langsung memberikan ultimatum tiga pilihan kepada mereka, yakni mau terus perang dan diberi tambahan peluru, mau tambah tentara untuk menembak siapa saja yang memulai tembakan, atau duduk berunding bersamanya. Ketegasan itu yang akhirnya melunakkan kerasnya ego dan memaksa kedua belah pihak memilih opsi ketiga untuk duduk merajut kesepakatan damai.

Cendekiawan Muslim yang juga mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Komaruddin Hidayat, menyebut JK sebagai sosok yang tak tergantikan. Latar belakangnya yang berlapis, mulai dari aktivis mahasiswa, pedagang, politisi, Ketua Umum PMI, hingga Wakil Presiden, membuat jejaring relasinya melampaui sekat-sekat kelompok.

Baca JugaPerdamaian Poso yang Terus Dirawat

Senada dengan Komaruddin, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang turut hadir, memandang JK sebagai bapak bangsa yang rekam jejaknya wajib menjadi rujukan. Publik kerap merindukan kedamaian hanya saat konflik berdarah tengah berkecamuk. Namun, banyak yang lupa bahwa ada sosok yang harus berjuang keras menempuh proses perdamaian itu di belakang layar.

”Kalau kita melihat hari ini Ambon yang tenang, kita melihat Poso yang tenang, kita melihat Aceh yang tenang, di situ ada sidik jarinya Pak JK. Karena itulah kita merasa bersyukur memiliki bapak bangsa yang terus jadi teladan,” ucap Anies.

Buku JK: Jejak Kemanusiaan mencatat dedikasi panjangnya memimpin PMI selama empat periode beruntun dari 2009 hingga 2026, serta dipercaya sebagai Ketua Umum DMI sejak 2010 hingga 2026. Di tangannya, urusan kemanusiaan tidak lagi dikelola secara konvensional, melainkan dengan pendekatan yang presisi, cepat, dan modern.

Langkah kaki Kalla di PMI dinilai berhasil mengubah evolusi penanganan bencana dari yang sebelumnya sekadar reaktif tanpa peringatan dini, menjadi sebuah sistem manajemen krisis yang terintegrasi berbasis teknologi. Jika di masa lalu respons kebencanaan pasrah pada keadaan, seperti pencarian korban dan bantuan medis terbatas pascabencana, JK mendorong upaya mitigasi dan pencegahan secara proaktif.

Baca JugaPMI Harus Siap Jadi Solusi Persoalan Kemanusiaan di Masa Mendatang

Setelah puluhan tahun berdiri di garis depan krisis dan konflik, panggung pengabdian struktural sang lokomotif kemanusiaan ini perlahan merencanakan titik perhentian. Dalam bagian pendahuluan buku tersebut, JK mengisyaratkan bahwa kepemimpinannya saat ini di PMI dan DMI akan menjadi penutup fasenya di jalur struktural.

”Biar yang muda-muda menggantikan saya untuk melayani sesama saat menghadapi bencana dan memberdayakan umat dan ekonominya,” ucap JK..


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sudah 2 Kali Ditinjau PSSI, Stadion Pakansari Jadi Kandang Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
• 8 jam lalubola.com
thumb
Cuaca Malang Raya Sabtu 16 Mei 2026: Siang Terik, Malam Berkabut di Batu dan Kabupaten Malang
• 12 jam laluberitajatim.com
thumb
Tarik Ulur Upaya Tangkap Windfall Harga Komoditas antara Pemerintah dan Pengusaha
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Prabowo Tegaskan Ribuan Triliun Harus Diselamatkan Demi 287 Juta Rakyat
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kasus Pencurian Tas di Soetta, InJourney Airports Pastikan Pelaku Bukan Karyawannya
• 22 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.