MADRID, KOMPAS.TV - Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez membela keputusan negaranya memboikot kontes menyanyi Eurovision 2026. Sanchez menegaskan langkah ini diambil karena genosida Israel di Gaza dan serangan ke Lebanon.
Dia menekankan mundurnya perwakilan Spanyol dari kompetisi menyanyi tersebut menunjukkan konsistensi dalam membela hukum internasional dan hak asasi manusia. Menurutnya, tindakan Israel di Gaza tidak diboleh dibiarkan.
Dalam pesan video yang disiarkan di media sosial X, Jumat (15/5/2026), Sanchez menyebut sikap Spanyol konsisten dan dibutuhkan untuk "melawan ketidakadilan."
"Itulah mengapa Spanyol tidak berpartisipasi di Kontes Eurovision, karena komitmen kami terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional juga diekspresikan melalui kebudayaan," kata Sanchez, sebagaimana dikutip Anadolu.
Baca Juga: Warga Palestina Peringati 78 Tahun Nakba, Sebut Genosida Israel di Gaza Lebih Parah
Lebih lanjut, dia menyoroti dikeluarkannya Rusia dari Eurovison karena invasi ke Ukraina pada 2022 lalu. Dia menekankan Israel harus diperlakukan sama.
"Ketika Rusia menginvasi Ukraina, mereka dilarang mengikuti kontes dan Spanyol mendukung keputusan itu. Prinsip-prinsip ini juga harus berlaku ketika kita membicarakan Israel. Tidak boleh ada standar ganda," kata Sanchez.
Dia menilai kontes Eurovision dibuat untuk mempromosikan perdamaian. Namun, negara-negara partisipan kontes menyanyi tidak bisa diam saja di hadapan "perang ilegal dan genosida."
"Kita tidak boleh abai dengan apa yang terus terjadi di Gaza dan Lebanon. Ini masalah konsistensi, tanggung jawab, dan kemanusiaan," kata Sanchez.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Anadolu
- eurovision 2026
- pm spanyol
- Pedro Sanchez
- Gaza
- genosida di gaza
- Israel





