Perjalanan menuju Tanah Suci selalu menyimpan cerita-cerita kemanusiaan yang menyentuh. Terungkap potret jemaah haji Indonesia dari latar belakang sederhana yang menjalani perjalanan spiritual dengan cara tidak biasa. Ada yang menabung recehan selama puluhan tahun, menyimpan uang di ember tua dan bawah kasur, bekerja sebagai pemulung atau penjahit, hingga bertahan dengan keterbatasan fisik di usia lanjut.
Kisah-kisah itu memperlihatkan bahwa ibadah haji bagi sebagian masyarakat Indonesia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perjalanan hidup yang dibangun oleh ketekunan, solidaritas keluarga, dan keyakinan yang dijaga bertahun-tahun.
1. Bagaimana jemaah haji dari kalangan sederhana mewujudkan impian ke Tanah Suci?
2. Apa makna kesabaran dan ketekunan dalam perjalanan haji?
3. Bagaimana keluarga dan lingkungan sekitar membantu mewujudkan perjalanan haji?
4. Bagaimana penyandang disabilitas dan lansia menunaikan ibadah haji?
5. Apa pesan sosial-spiritual yang muncul dari kisah-kisah mereka?
Banyak kisah jemaah haji Indonesia menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk menunaikan ibadah haji. Mereka justru menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk bekerja lebih keras dan hidup lebih hemat. Jemaah itu berasal dari latar belakang sederhana, seperti penjual makanan keliling, guru mengaji, petani, pemulung, hingga juru parkir. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yakni ketekunan menabung selama bertahun-tahun demi memenuhi panggilan ibadah.
Salah satu kisah datang dari Ismaiyah, warga Mojokerto, Jawa Timur, yang menabung Rp 5.000 hingga Rp 10.000 setiap hari dari berjualan ketan sambal dan nasi rawon kikil. Setelah suaminya meninggal, ia menjadi tulang punggung keluarga bagi tujuh anaknya. Tabungan itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit sejak 1990 hingga akhirnya bisa mendaftar haji pada 2016 dan berangkat pada 2024. Ketika tiba di Mekkah, ia menangis saat melihat Kabah karena tidak menyangka perjuangan panjangnya benar-benar terwujud.
Kisah serupa terlihat pada Sopiah, guru mengaji asal Palembang, Sumatera Selatan. Selama sekitar 40 tahun, ia mengajar mengaji dari rumah ke rumah tanpa pernah mematok bayaran. Upah kecil dari orangtua murid ia kumpulkan secara telaten hingga mencapai Rp 25,5 juta untuk mendaftar haji pada 2013. Bahkan, setelah mendaftar, Sopiah tetap harus menabung selama belasan tahun lagi untuk melunasi biaya keberangkatan hingga akhirnya berangkat pada 2026 di usia 72 tahun.
Keteguhan serupa terlihat pada Nenek Jumaria dari Maros, Sulawesi Selatan. Selama hampir 20 tahun, ia menyimpan uang hasil bekerja di sawah ke dalam ember tua yang disembunyikan di bawah tempat tidur. Ia hidup sangat sederhana demi menjaga tabungan hajinya tetap utuh. Kisahnya kemudian menjadi perhatian luas hingga didokumentasikan oleh program Makkah Route Kerajaan Arab Saudi.
Kesabaran menjadi bagian penting dalam perjalanan haji banyak anggota jemaah Indonesia. Mereka harus menunggu puluhan tahun sejak mulai menabung hingga akhirnya memperoleh kesempatan berangkat. Penantian itu dijalani dengan tetap bekerja keras dan menjaga harapan.
Sopiah menjadi contoh nyata ketekunan tersebut. Ia mulai menabung dari hasil mengajar mengaji sejak pertengahan 1980-an. Setelah berhasil mendaftar haji pada 2013, ia masih harus menunggu lebih dari satu dekade sebelum berangkat pada 2026. Selama masa tunggu itu, ia tetap mengajar dan menabung dengan sabar.
Kesabaran juga tampak pada pasangan Khumaidi dan Siti Fatimah dari Mojokerto yang bekerja sebagai pemulung. Mereka rela hidup hemat dan menyetor uang sedikit demi sedikit untuk biaya haji. Ketika kesulitan melunasi dana talangan, keduanya tetap yakin bahwa akan ada jalan untuk memenuhi panggilan ibadah.
Muayatur Rohmah, penjahit disabilitas asal Jember, Jatim, juga menunjukkan semangat serupa. Dengan penghasilan kecil, ia menabung Rp 50.000-Rp 100.000 sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa berangkat haji di usia 77 tahun.
Perjalanan haji banyak anggota jemaah Indonesia tidak terlepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Bantuan itu hadir dalam bentuk biaya, pendampingan, ataupun semangat agar jemaah tetap kuat menjalani proses panjang menuju Tanah Suci.
Mardeka bin Bidulan Imran, petani karet asal Kalimantan Tengah yang mengalami kebutaan akibat glaukoma, dapat berangkat haji berkat dukungan anak-anaknya. Mereka membantu membiayai perjalanan orangtuanya hingga Mardeka bisa menunaikan ibadah haji bersama sang istri.
Dukungan keluarga juga terlihat pada pasangan Khumaidi dan Siti Fatimah. Anak-anak mereka ikut membantu menyiapkan biaya haji. Bahkan, anak bungsu mereka menggunakan hasil ternak kambing untuk menambah biaya keberangkatan orangtuanya. Hal ini menunjukkan bahwa haji sering menjadi cita-cita bersama dalam keluarga.
Sementara itu, Hermanto dari Palembang mendapat bantuan dari mantan atasannya yang memenuhi nazar memberangkatkan karyawannya berhaji. Meski sudah pensiun, Hermanto tetap dibantu hingga bisa berangkat pada 2026.
Keterbatasan fisik tidak menghalangi sejumlah anggota jemaah Indonesia untuk berhaji. Banyak warga lansia dan penyandang disabilitas tetap berangkat dengan semangat tinggi serta dukungan layanan yang lebih ramah terhadap kebutuhan mereka.
Muayatur Rohmah, penyandang tunadaksa asal Jember, tetap berangkat haji di usia 77 tahun dengan kursi roda. Meski memiliki keterbatasan fisik, ia berusaha mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain selama dalam perjalanan ibadah.
Kisah lain datang dari Mardeka dan Sajeriah yang sama-sama mengalami disabilitas netra. Mardeka kehilangan penglihatan akibat glaukoma, sedangkan Sajeriah sudah tidak dapat melihat sejak kecil. Namun, keduanya tetap menjalani ibadah dengan penuh semangat dengan dukungan petugas haji.
Penyelenggaraan haji Indonesia juga semakin memperhatikan layanan ramah kelompok lansia dan disabilitas, mulai dari bus khusus, jalur kursi roda, hingga pendampingan saat tawaf dan sai. Layanan ini membantu jemaah berkebutuhan khusus menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman.
Kisah jemaah haji Indonesia menunjukkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan juga perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Banyak anggota jemaah dari kelompok masyarakat kecil tetap menjaga harapan untuk memenuhi panggilan agama.
Dalam berbagai cerita, haji dimaknai sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian kepada Tuhan. Ismaiyah menangis saat melihat Kabah, Sopiah bersyukur masih diberi kesehatan untuk berhaji di usia lanjut, sedangkan Hermanto menjadikan haji sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadahnya.
Kisah-kisah tersebut juga memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial di masyarakat Indonesia. Anak-anak membantu orangtua berhaji, tetangga mendukung, petugas mendampingi, bahkan mantan atasan membantu membiayai keberangkatan mantan karyawannya.
Kisah jemaah haji itu menunjukkan bahwa mimpi besar dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sabar dan tekun. Dari uang receh, kaleng tabungan, hingga ember tua, semuanya menjadi simbol perjuangan menuju Tanah Suci.





