Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin dipastikan akan berkunjung ke Beijing, beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengumumkan bahwa kunjungan Putin tersebut atas undangan dari Presiden Xi Jinping.
"Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 19-20 Mei 2026," demikian disebutkan dalam laman Kementerian Luar Negeri China, dikutip dari Antara, Sabtu (16/5/2026).
Kunjungan tersebut berselang hanya 4 hari dari lawatan resmi Donald Trump ke Beijing pada 13-15 Mei 2026.
"China dan Rusia terus berkomunikasi erat mengenai persiapan pertemuan antara kedua presiden. Kami akan merilis informasi lebih lanjut pada waktunya," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun pada Jumat (15/5).
Sementara itu, Kantor Kepresidenan Rusia menyatakan bahwa kunjungan Putin dijadwalkan bertepatan dengan peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Bertetangga Baik, yang menjadi landasan hubungan Rusia-China.
Baca Juga
- Xi Jinping dan Trump Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Dibuka
- Ini Daftar Pembahasan Trump Saat Bertemu Xi Jinping, dari Isu Taiwan hingga Selat Hormuz
- Pimpinan Partai Oposisi Taiwan Tiba di China Hadiri Undangan Temui Xi Jinping
"Vladimir Putin dan Xi Jinping akan membahas berbagai isu bilateral terkini, upaya untuk semakin memperkuat kemitraan komprehensif, dan kerja sama strategis antara Federasi Rusia dan Republik Rakyat Tiongkok, serta bertukar pandangan mengenai berbagai isu penting internasional dan regional," dikutip dari laman resmi Presidential Executive Office Rusia, Sabtu (16/5/2026).
Kedua pemimpin negara juga akan menghadiri upacara pembukaan Tahun Pendidikan Rusia–Tiongkok (2026–2027).
Agenda kunjungan ini juga mencakup pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang untuk membahas prospek kerja sama perdagangan dan ekonomi.
Adapun, pertemuan terakhir antara Presiden Putin dan Presiden Xi secara langsung adalah pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization di Tianjin pada 31 Agustus-1 September 2025.
Selain itu, Xi dan Putin juga sempat berkomunikasi melalui sambungan video pada 4 Februari 2026.
Sebelumnya, pada Kamis (14/5), juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Putin segera mengunjungi China.
"Kami akan segera mengumumkannya. Kunjungan ini sedang dipersiapkan. Dapat dikatakan persiapannya sudah selesai, hanya tinggal sentuhan akhir. Ini akan berlangsung dalam waktu dekat," ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan kontak Rusia-China setelah kunjungan pemimpin AS itu, Peskov mengatakan, kepemimpinan Rusia tetap mengharapkan komunikasi dengan Xi terlepas dari kunjungan Trump ke Beijing.
Presiden Putin pada Kamis (9/5) sempat mengatakan interaksi antara Rusia dan China merupakan faktor terpenting dalam menstabilkan hubungan internasional.
Berbicara dalam konferensi pers, Putin menggambarkan kerja sama antara negara-negara seperti China dan Rusia sebagai "faktor pencegahan dan stabilitas yang jelas" dalam urusan global.
Ia mengatakan bahwa China merupakan mitra perdagangan dan ekonomi terbesar Rusia, seraya menambahkan bahwa diversifikasi perdagangan bilateral terus berlanjut melalui industri teknologi tinggi, yang sangatlah penting.
Putin juga mengatakan bahwa Rusia dan China telah mencapai level kesepakatan yang tinggi untuk "mengambil langkah maju yang serius" dalam kerja sama minyak dan gas.
Jika kunjungan Putin terjadi, China akan menjadi negara pertama yang menjamu seluruh empat pemimpin negara anggota tetap lainnya di Dewan Keamanan PBB dalam rentang beberapa bulan.
Dewan Keamanan PBB memiliki lima anggota tetap, yakni Rusia, AS, Inggris, Prancis, dan China.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi China pada Desember 2025, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berkunjung pada Januari 2026.




