Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp 17.600 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar pergerakan pasar, tapi sinyal awal kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Ketika rupiah melemah, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli barang berbasis impor. Dampaknya langsung terasa ke produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mulai dari mie instan, roti, tahu, tempe, hingga susu berpotensi ikut naik. Kenaikan ini terjadi karena bahan bakunya masih bergantung pada impor.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan utama datang dari faktor global.
“Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah,” ujarnya.
Situasi global memang sedang tidak ramah bagi rupiah. Ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan suku bunga tinggi Amerika Serikat membuat dolar semakin perkasa.
Namun tekanan tidak hanya datang dari luar. Dari dalam negeri, ada faktor lain yang ikut menekan nilai tukar.
Ekonom Wijayanto Samirin menilai risiko pelebaran defisit APBN hingga kebutuhan utang pemerintah ikut membebani rupiah. Kondisi ini memperkuat tekanan yang sudah terjadi dari sisi global.
Di titik ini, dampaknya mulai merembet ke sektor riil. Pelemahan rupiah berisiko memicu inflasi impor yang perlahan terasa di harga barang.
Guru Besar Rahma Gafmi menyebut kenaikan harga bahan baku sudah mulai terlihat sejak akhir April.
“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik,” ujarnya.
Artinya, lonjakan harga bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ini proses yang berjalan bertahap dan akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Prabowo soal Rupiah Melemah: Orang Desa Enggak Pakai Dolar Kok
Selama Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku, pelemahan rupiah hampir pasti berujung pada kenaikan harga. Dari pangan hingga produk olahan, semuanya ikut terdorong naik.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan biaya produksi industri juga akan ikut naik. Pada akhirnya, beban tersebut akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih mahal.





