Surabaya (beritajatim.com) – Nama A. Jauhar Fikri sebelumnya memang masih samar-samar terdengar dalam bursa calon Ketua DPC PKB Lamongan.
Namun belakangan, pria yang akrab disapa Saleho ini mulai santer diperbincangkan sebagai salah satu kandidat kuat yang berpotensi menduduki kursi pimpinan tersebut.
Kehadiran Saleho di panggung kontestasi terbilang mengejutkan karena di usianya yang baru menginjak 33 tahun, ia sukses memecahkan rekor sebagai calon ketua termuda dari generasi milenial se-antero Jawa Timur.
Di Lamongan sendiri, ia harus bersanding dengan figur-figur senior seperti Ketua DPC PKB Haji Ghofur, Ketua DPRD M. Fredy Wahyudi, serta Ketua Bapemperda DPRD Suherman.
Meski dikepung para tokoh kawakan, peluang Saleho untuk memimpin DPC PKB Lamongan berikutnya tetap terbuka lebar, terutama karena besarnya ceruk pasar pemilih muda di wilayah tersebut.
Kiprah politik pemuda kelahiran Sugio ini hingga bisa menembus jajaran pejabat teras DPW PKB Jawa Timur pun tidak didapatkan secara instan.
Langkah awalnya bermula dari ruang aktivisme kampus di IAIN Sunan Ampel Surabaya—sekarang UINSA—pada tahun 2011 silam.
Melalui organisasi PMII, ia menempa diri hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Ketua Cabang PMII Surabaya Selatan pada 2014, di mana pria yang gemar menenteng buku Tan Malaka ini sukses melahirkan berbagai program pengembangan organisasi.
Pasca-merampungkan pengabdian di PMII, barulah ia mulai berproses di DPW PKB Jawa Timur dengan membantu lini kesekretariatan serta mengawal berbagai kebijakan pimpinan.
Memasuki tahun 2019, Saleho memulai babak baru di Jakarta untuk mengawal kebijakan partai dalam skala yang lebih luas di tingkat nasional.
Puncaknya pada Muswil DPW PKB Jatim 2025, ia resmi ditunjuk mengemban amanah strategis sebagai Wakil Sekretaris mendampingi kepengurusan baru di bawah arahan Gus Halim dan Multazamudz Dzikri.
Kini, garis takdir membawanya kembali ke tanah kelahiran Bumi Joko Tingkir, sebagai salah satu kandidat ketua dalam Muscab DPC Lamongan, sebuah tantangan besar yang tidak sedikit pun menyurutkan langkah pengabdiannya.
Setelah melewati seluruh rangkaian panjang mulai dari Muscab hingga Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) yang diselenggarakan oleh DPP PKB, pemilik tagline “Berjuang hingga Tuntas” ini menegaskan komitmennya untuk menghormati apa pun keputusan mutakhir dari mahkamah tertinggi partai.
“Saya sudah mengikuti seluruh rangkaian Muscab hingga UKK tahap kedua. Selebihnya, siapa pun yang jadi harus dihormati bersama. Sebab, ini adalah keputusan tertinggi partai dan tidak bisa diganggu gugat,” ujar Saleho, Sabtu (16/5/2026).
Fenomena ini sekaligus menjadi sinyal penting bahwa PKB merupakan partai yang inklusif terhadap kehadiran sosok baru, sekaligus membuktikan bahwa ruang bagi generasi muda untuk tampil di panggung politik kini terbuka lebar. (rma/kun)




