PEMILU 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Namun dalam politik Indonesia, pembicaraan tentang suksesi sering datang jauh sebelum agenda pemerintahan benar-benar selesai dikerjakan.
Di tengah situasi itu, satu nama terus hadir dalam hampir setiap percakapan politik nasional: Joko Widodo.
Nama itu kini tidak lagi sekadar melekat pada seorang mantan presiden. Ia telah berkembang menjadi simbol keberlanjutan politik, titik temu kepentingan elite, sekaligus referensi elektoral yang masih diperhitungkan banyak partai.
Karena itu, fenomena yang populer disebut “Jokowi Effect” terus muncul dalam diskursus menuju Pemilu 2029.
Istilah tersebut memang bukan konsep baku dalam ilmu politik. Namun, publik memahaminya sebagai pengaruh politik Jokowi terhadap perilaku pemilih, arah koalisi, hingga pembentukan figur penerus setelah dirinya tidak lagi menjabat.
Dalam demokrasi modern, pengaruh mantan pemimpin sebenarnya bukan hal aneh. Di banyak negara, mantan presiden tetap memiliki pengaruh moral maupun politik.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika demokrasi terlalu bertumpu pada satu figur, sementara institusi politik tidak tumbuh cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Di titik inilah Indonesia menghadapi tantangan penting menjelang 2029.
FigurIlmu politik mengenal istilah personalization of politics, yaitu situasi ketika figur politik menjadi lebih dominan dibanding partai atau program kebijakan.
Pemilih tidak lagi terutama memilih ideologi atau platform, melainkan memilih sosok yang dianggap paling dekat secara emosional.
Fenomena itu terlihat cukup kuat dalam politik Indonesia satu dekade terakhir.
Baca juga: Grace di Ujung Solidaritas
Jokowi berhasil membangun citra sebagai pemimpin sederhana, dekat dengan rakyat, dan bekerja konkret melalui pembangunan infrastruktur maupun program kesejahteraan.
Kombinasi antara komunikasi politik yang efektif, media sosial, dan tingkat kepuasan publik yang relatif tinggi membuat pengaruh elektoralnya tetap terasa, bahkan setelah tidak lagi menjabat.
Sejumlah survei nasional memperlihatkan hal tersebut. Survei Ipsos Indonesia pada awal 2024 menunjukkan banyak pemilih melihat pasangan Prabowo-Gibran sebagai representasi keberlanjutan pemerintahan Jokowi.
Survei lain dari Poltracking Indonesia dan Indikator Politik Indonesia juga memperlihatkan bahwa tingkat kepuasan terhadap pemerintahan sebelumnya memiliki hubungan dengan preferensi politik pemilih menjelang kontestasi berikutnya.





