Orang Desa Tidak Pakai Dolar dan Retorika Populis Prabowo

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

PIDATO Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026 seketika menjadi viral.

Menanggapi kekhawatiran publik atas kenaikan dollar Amerika Serikat, ia berkata ringan: “orang desa tidak pakai dollar.”

Kalimat itu terdengar sederhana, membumi, bahkan menghibur. Tepuk tangan pun pecah.

Namun justru di situlah persoalannya. Ketika krisis ekonomi dijawab dengan retorika simplifikasi, politik sedang bergerak dari ruang rasional menuju panggung populisme emosional.

Pernyataan itu bukan sekadar candaan spontan. Ia adalah cermin cara kekuasaan membaca rakyat.

Dalam satu kalimat pendek, tampak bagaimana negara mencoba membangun ilusi bahwa rakyat kecil berada di luar pusaran kapitalisme global.

Desa diposisikan sebagai benteng moral ekonomi nasional: sederhana, tahan krisis, dan jauh dari gejolak pasar dunia. Tetapi benarkah demikian?

Di sinilah pidato Presiden Prabowo layak dibaca bukan sebagai hiburan politik, melainkan sebagai gejala ideologis.

Populisme dan Penyederhanaan Realitas

Dalam What Is Populism?, Jan-Werner Müller menjelaskan bahwa populisme bekerja dengan menciptakan oposisi moral antara “rakyat murni” dan “elite yang rumit” (Müller, 2016).

Rakyat dipahami bukan sebagai kategori sosial yang kompleks, melainkan simbol politik yang harus terus dipelihara emosinya.

Dalam pidato Presiden Prabowo di Nganjuk, “orang desa” menjadi simbol itu.

Presiden Prabowo sedang membangun narasi bahwa rakyat kecil hidup dalam ekonomi riil, bukan ekonomi abstrak ala pasar global.

Sekilas narasi ini terdengar patriotik. Namun problemnya, ekonomi Indonesia hari ini tidak pernah benar-benar terpisah dari dollar.

Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi

Petani desa memang tidak membeli barang dengan mata uang Amerika. Tetapi harga pupuk mereka dipengaruhi impor bahan baku global.

Harga BBM dipengaruhi geopolitik minyak dunia. Harga pakan ternak, obat-obatan, hingga ongkos logistik semuanya berkaitan dengan kurs dolar.

Bahkan kenaikan harga beras dan kebutuhan pokok di warung desa sering kali merupakan efek domino dari ekonomi global yang tak terlihat.

Karena itu, ketika seorang Presiden mengatakan “orang desa tidak pakai dollar,” persoalannya bukan soal literal benar atau salah.

Persoalannya adalah reduksi realitas. Negara sedang menyederhanakan problem struktural menjadi psikologi massa.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Di sinilah populisme bekerja yakni bukan menjelaskan kerumitan, melainkan memproduksi rasa tenang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh Kasus TNI Tembak TNI di Palembang, Ini Janji Kodam II/Sriwijaya
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Minat Baca Tinggi Gen Z Ditopang Komunitas Digital
• 15 jam lalukompas.id
thumb
Link Live Streaming Final AVC Champions League 2026: Jakarta Bhayangkara vs Foolad Sirjan Malam Ini
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo: Bung Karno Bukan Milik Satu Partai, Tapi Seluruh Bangsa Indonesia
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Imigrasi Bandarlampung deportasi WNA Singapura 
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.