JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom senior Didik J. Rachbini menilai Indonesia sulit keluar dari stagnasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, apabila investasi asing dan ekspor nasional masih tertinggal dibanding negara-negara pesaing di Asia Tenggara.
Menurut Didik, untuk keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi rendah, pemerintah perlu mempercepat reformasi birokrasi dan deregulasi guna menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.
“Jika kita hendak lepas dari kutukan pertumbuhan ekonomi 5 persen, maka harus ada kebijakan untuk mencapai kinerja ekspor yang maksimal dan menarik investasi asing secara dinamis,” kata Didik dalam keterangan tertulis kepada Kompas.tv, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga: Purbaya Sentil Ekonom soal Pertumbuhan Ekonomi: Angka Jelek Ribut, Angka Tinggi Ribut Juga
Ia menyoroti lemahnya daya saing dan persoalan birokrasi yang dinilai masih menjadi hambatan utama masuknya investasi asing ke Indonesia.
Didik menyebut rasio investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih relatif rendah, yakni sekitar 1,8 persen.
Angka itu tertinggal dibanding Vietnam sebesar 4,2 persen dan Malaysia 3,7 persen.
“Untuk berinvestasi di Indonesia harus menunggu izin sangat lama, bahkan sampai satu hingga dua tahun. Sementara di negara lain hanya perlu hitungan minggu,” ujar Rektor Universitas Paramadina itu.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen di Triwulan I, Purbaya Sebut RI Lepas dari Kutukan 5 Persen
Didik mengatakan, kondisi itu membuat sektor industri nasional gagal menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- pertumbuhan ekonomi
- kinerja ekspor indonesia
- ekonomi vietnam
- didik j rachbini
- ekonom senior
- deregulasi





