DI TENGAH kecemasan pasar terhadap pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto justru memilih jalan retorika yang tidak lazim.
Ia tidak bicara dengan bahasa teknokrat Bank Sentral. Tidak ada istilah capital outflow, tekanan eksternal, atau volatilitas global.
Yang keluar dari mulutnya justru kalimat sederhana: “Orang desa tidak pakai dolar.”
Kalimat itu segera mengundang reaksi. Sebagian menganggapnya menenangkan. Sebagian lain menyebutnya terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi.
Namun jika dicermati lebih dalam, ucapan itu sebenarnya bukan sekadar komentar spontan mengenai nilai tukar.
Di baliknya, tersimpan cara pandang politik yang jauh lebih besar: tentang bagaimana sebuah negara seharusnya memahami kekuatan dirinya sendiri.
Prabowo tampaknya sedang berusaha menggeser pusat gravitasi percakapan ekonomi nasional.
Selama ini, kesehatan negara hampir selalu diukur dari angka-angka pasar: kurs rupiah, indeks saham, sentimen investor, dan laporan lembaga pemeringkat internasional.
Dalam logika semacam itu, kepanikan pasar bisa dengan cepat berubah menjadi kepanikan nasional.
Baca juga: Bom Waktu di Bantar Gebang
Namun Prabowo memilih sudut yang lain. Ia membawa perhatian publik ke desa, sawah, pupuk, pangan, dan energi.
Seolah hendak mengatakan bahwa fondasi sebuah bangsa bukan pertama-tama terletak pada layar bursa saham, melainkan pada kemampuan rakyatnya untuk tetap hidup, makan, dan bekerja.
Cara pandang seperti ini memiliki akar panjang dalam filsafat politik klasik.
Dalam Politics, Aristoteles menyebut tujuan negara bukanlah sekadar mengumpulkan kekayaan, melainkan menjamin kehidupan yang baik bagi warga.
Ekonomi, dalam pengertian itu, harus tunduk pada kebutuhan manusia, bukan sebaliknya.
Nada serupa terasa dalam pidato-pidato Prabowo. Ketika menekankan bahwa Indonesia aman karena memiliki pangan dan energi, Prabowo sedang membangun definisi tentang kedaulatan yang sangat material: bangsa dianggap kuat bila mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sendiri.
Pandangan ini mengingatkan pada gagasan berdikari Soekarno.
Dalam banyak pidatonya, Soekarno berkali-kali memperingatkan bahaya ketergantungan ekonomi terhadap kekuatan global.
Baginya, bangsa pascakolonial akan tetap lemah bila pangannya bergantung impor dan industrinya dikendalikan modal asing.





