Beberapa pendengar Radio Suara Surabaya melaporkan taman-taman rute parade Surabaya Vaganza, Sabtu (16/5/2026) malam kemarin kotor dan rusak usai diduga terinjak-injak pengunjung.
Salah satunya disampaikan Teguh pendengar SS, yang melaporkan kondisi taman di tepi Jalan Pemuda depan Alun-Alun Surabaya kotor karena banyak sampah berserakan.
“Kondisi taman di tepi jalan Balai Pemuda (Jalan Pemuda) Surabaya pagi ini. Kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas taman kota masih rendah,” ujarnya lewat kiriman gambar kondisi taman di trotoar depan Balai Pemuda yang kotor, pada Minggu (17/5/2026) pagi.
Terkait hal ini, M. Fikser Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengakui kalau antusiasme warga semalam memang luar biasa. Namun hal itu dibarengi aksi menerobos beberapa fasilitas pembatas taman sehingga kerusakan tak terhindarkan dan terpantau bervariasi di sepanjang rute parade.
Dari temuan di lapangan, taman yang mengalami kerusakan di antaranya Area Tugu Pahlawan, Kawasan Alun-alun Contong, Pojok Praban, Kawasan Air Mancur Balai Pemuda dan sekitaran taman Bambu Runcing di Jalan Panglima Sudirman.
“Khusus untuk taman, dari semalam setelah acara kan kita lakukan penyapuan, pembersihan sampah dan pembongkaran beberapa (properti) seperti barrier, terus panggung-panggung itu, kita akhirnya mengetahui ada beberapa titik (taman rusak). Jadi dimulai dari Tugu Pahlawan itu yang rusak, sebagian rusak ya. Ya memang orang banyak, antusias banyak, acaranya sukses ya itulah resiko ya,” ujar Fikser saat on air di Radio Suara Surabaya, Minggu pagi.
Fikser memastikan, seluruh area tersebut langsung dipulihkan dan dikembalikan ke kondisi semula. Petugas kebersihan dan pertamanan telah dikerahkan sejak dini hari untuk menyapu bersih sampah serta melakukan aksi “penyulaman” atau penanaman kembali tanaman-tanaman yang rusak terinjak.
“Enggak apa-apa kita tanami lagi karena memang kita buat acara buat warga Surabaya ya. Begitu banyak warga yang tadi malam hadir. Kalaupun ada seperti begitu (masalah taman rusak) ya sudah kita kita selesaikan aja. Enggak usah banyak omong-omong nanti tidak ada yang kerjakan,” ucapnya.
Selain kerusakan taman, volume sampah yang ditinggalkan penonton pasca-acara juga melonjak drastis. Jenis sampah didominasi oleh limbah non-organik makanan dan minuman (mamin), seperti botol kemasan plastik, mika alas duduk, hingga tusuk sate.
Untuk membersihkannya, DLH Kota Surabaya juga memobilisasi armada truk besar secara berulang-ulang yang terdiri dari 10 unit dump truck, serta tiga unit truk compactor.
“Sampah semalam itu luar biasa ya. Bekas karpet yang diduduki lah, mika-mika plastik-plastik, banyak sekali terus botol-botol minuman ya. Ya dari plastik. Jadi mayoritas itu semalam itu plastik botol-botol plastik terus plastik-plastik macam makan-makan pentolan gitu ya. Terus seperti itu tusuk-tusuk sate gitu. Tapi kami kami sadar kok ekonomi juga bergerak ya. Jadi ya memang dampaknya ya kita pemerintah harus selesaikan itu,” terang Fikser yang juga Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya.
Seluruh sampah plastik tersebut, lanjutnya, tidak langsung dibuang ke TPA, melainkan dialihkan menuju fasilitas Reduce, Reuse, Recycle (3R) di Gedung Coek untuk dipilah karena memiliki nilai ekonomis. Petugas DLH terus menyisir jalanan kota tanpa henti hingga pukul 03.45 WIB.
DLH Kota Surabaya, tegas Fikser, telah memastikan penanganan pasca-acara tidak ditunda demi menjaga estetika kota dan menghindari komplain publik.
“Kita sadar betul ya, semalam itu sudah saya ingatkan ke teman-teman, ini sampah harus kita bersihkan apapun yang terjadi sampai pagi harus bersih. Kalau kita tinggalkan jejak, waduh pasti ramai ini karena orang Surabaya cinta kotanya lihat begitu langsung diviralkan ya kan? Nah, jatuh-jatuhnya nanti teman di LH yang kemudian harus melakukan klarifikasi. Tapi memang kita untuk sampah alhamdulillah kita bisa kendalikan bersih semua,” tegasnya.
Setelah penanganan sampah itu selesai, Fikser mengatakan sejak minggu pagi, fokus utama petugas beralih ke restorasi jalur hijau. Rumput-rumput yang mati akibat pijakan serta bunga-bunga yang patah langsung diganti dengan tanaman baru dari pembibitan.
“Kita pastikan bahwa mereka sudah harus kembalikan lagi seperti semula gitu,” ungkapnya.
Terakhir, Fikser mengimbau agar pada agenda-agenda besar berikutnya, warga Surabaya bisa lebih proaktif menjaga fasilitas publik yang dibiayai oleh uang rakyat.
“Ayo kita sama-sama juga menjaga fasilitas publik milik kita semuanya. Salah satunya taman, ya. Jangan diinjak karena kita gunakan APBD uang rakyat Surabaya untuk membangun taman tersebut. Jadi kami sangat berharap memohon bantuan kerja sama dari seluruh warga Surabaya. Ayo kita jaga kota ini, jaga taman, jaga kebersihan,” pungkasnya. (bil/iss)




