Krisis Hormuz Guncang Pasar Energi, China dan AS Juru Selamat?

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – China dan Amerika Serikat dinilai memberikan dukungan krusial terhadap pasar minyak mentah global di tengah gangguan pasokan besar-besaran dari Timur Tengah, sehingga lonjakan harga energi tidak bergerak lebih tinggi.

Berdasarkan laporan International Energy Agency yang dikutip dari CNBC International pada Minggu (17/5/2026), pasar minyak kehilangan sekitar 10 juta barel per hari (barrel per day/bpd) ekspor dari Teluk Persia akibat blokade Iran terhadap Selat Hormuz.

Gangguan tersebut menjadi disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah, setara sekitar 10% dari total konsumsi minyak dunia. 

Meski demikian, harga minyak mentah acuan Brent pada perdagangan Jumat (15/5/2026) ditutup sedikit di atas US$100 per barel, lebih rendah dibandingkan lonjakan harga pada gangguan pasokan yang lebih kecil, seperti setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Baca Juga : RI-Rusia Perkuat Kerja Sama Energi, dari Minyak hingga Nuklir Modular

Salah satu faktor yang menjelaskan kondisi tersebut adalah pengaruh besar China dan Amerika Serikat terhadap pasar minyak global. China merupakan importir minyak terbesar dunia, sementara AS adalah produsen sekaligus eksportir minyak terbesar.

IEA mencatat ekspor minyak dari produsen di luar Timur Tengah, yang dipimpin AS, melonjak 3,5 juta bpd selama perang Iran berlangsung. Pada saat yang sama, China memangkas impor minyaknya sebesar 3,6 juta bpd, setara dengan total konsumsi harian Jepang.

Secara gabungan, langkah kedua negara itu mencapai 7,1 juta bpd atau sekitar 70% dari pasokan ekspor yang hilang dari kawasan Teluk Persia. Selain itu, Jepang, Korea Selatan, dan India juga secara kolektif memangkas impor minyak sebesar 3,6 juta bpd.

Analis Deutsche Bank Michael Hsueh mengatakan AS dan China memainkan peran penting dalam menyesuaikan pasar untuk mengompensasi gangguan ekspor dari Teluk Persia. Menurutnya, kondisi itu menjadi salah satu alasan harga minyak Brent belum melonjak hingga US$120 per barel.

Sementara itu, ahli strategi komoditas Morgan Stanley Martijn Rats menyebut pengurangan impor minyak China sebagai faktor paling penting yang menahan kenaikan harga minyak global.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan ini. Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus kembali dibuka untuk mendukung kelancaran arus energi global.

Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan jalur pelayaran tersebut dapat kembali beroperasi normal seperti sebelum perang.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dunia mengetahui komitmen Trump untuk meningkatkan pasokan minyak dan produk olahan AS. Wright juga menilai China berpotensi meningkatkan impor minyak dari AS pada masa mendatang.

“Ada hubungan perdagangan energi yang alami di sana. Saya memperkirakan impor minyak China dari Amerika Serikat akan meningkat,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tanda Tanya di Balik AS Tak Jadi Kirim 4.000 Tentara ke Polandia
• 20 jam laludetik.com
thumb
KDMP Pacu Desa Jadi Motor Pertumbuhan dan Kemandirian Pangan, Legislator Klaim Jatim Siap Sokong Ekonomi Makro
• 11 menit lalutvonenews.com
thumb
Viral Curanmor Pura-pura Sewa Kontrakan di Depok, Polisi Selidiki
• 5 jam laludetik.com
thumb
Sedang Berlangsung! Link Live Streaming Bali United vs Bhayangkara FC, Tayang di Tv Mana?
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Momen Prabowo Naik Traktor Pimpin Panen Raya Jagung di Tuban, Pakai Topi Koboi!
• 20 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.