Bisnis.com, MAKASSAR - Deru mesin perontok padi dan hamparan hijau tanaman cabai menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Marannu, Kabupaten Pinrang. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Namun di balik suburnya tanah Marannu, tersimpan tantangan klasik masyarakat pelosok, yaitu akses terhadap lembaga keuangan formal.
Bagi warga setempat, urusan perbankan sempat menjadi perkara yang menguras waktu dan energi. Ketiadaan kantor bank maupun mesin anjungan tunai mandiri (ATM) memaksa mereka menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju pusat kota Pinrang hanya untuk sekadar mentransfer uang atau menabung.
Tantangan ini dirasakan langsung oleh Jumriah, seorang petani padi dan cabai di Desa Marannu. Langkah kakinya sehari-hari tidak hanya tertuju pada sepetak sawah dan lahan cabai miliknya sendiri, tetapi juga pada lahan persawahan milik orang lain yang dikelolanya sebagai pekerja bagi hasil.
Setiap musim panen tiba, rutinitas Jumriah bertambah pelik. Dia harus menyetorkan uang hasil panen kepada pemilik lahan. Dahulu, hal ini berarti dia harus meluangkan waktu khusus dan ongkos untuk menembus jarak jauh ke kota Pinrang demi melakukan transfer.
"Sebelum ada AgenBRILink, saya juga selalu menyimpan uang hasil pendapatan di celengan atau tempat penyimpanan khusus yang dibuat di rumah. Repot kalau harus ke kota cuma untuk menyimpan uang di bank," kenang Jumriah, yang tidak sempat menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, kepada Bisnis, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga
- BRI Kuasai 73,86% Penyaluran KUR di Sulsel, Tembus Rp12,43 Triliun pada 2025
- Pemprov Sulsel dan BI Berencana Menata Alur Investasi Berdasarkan Kebutuhan
- Investasi di Sulsel Capai Rp5,41 Triliun pada Kuartal I/2026, Tumbuh 37,63%
Peta mati akses keuangan itu kini berubah. Kehadiran AgenBRILink, yang biasa disebut masyarakat sekitar sebagai 'bank mini' di dekat tempat tinggalnya menjadi titik balik.
Layanan tanpa kantor (branchless banking) milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. ini sukses memangkas jarak geografis yang selama ini mengisolasi petani dari sistem perbankan modern.
Kini, Jumriah tidak perlu lagi menyimpan uang di bawah kasur atau sudut rumah yang sarat risiko. Transaksi setor tunai, transfer ke pemilik lahan, hingga pemenuhan kebutuhan harian dapat diselesaikan dalam hitungan menit di desanya sendiri.
Dampak inklusi keuangan ini bahkan mulai merambah ke manajemen keuangan keluarganya. Ibu dari tiga anak, yang masing-masing duduk di bangku SMA, SMP, dan SD ini sekarang aktif mengajarkan anak-anaknya untuk menabung di bank.
Langkah tersebut disiapkannya sebagai bantalan dana darurat untuk kebutuhan sekolah anak yang kerap datang mendadak.
Bagi Jumriah dan komunitas petani di Marannu, AgenBRILink bukan sekadar tempat bertransaksi, melainkan instrumen pendukung dalam mengelola likuiditas keluarga dan usaha tani mereka.
Secara makro, strategi BRI memperluas jaringan AgenBRILink di wilayah rural memang didesain untuk menciptakan efisiensi ekonomi dan mendorong perputaran uang di tingkat tapak.
Regional CEO BRI Regional Office (RO) 15 Makassar Argo Prabowo mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, penetrasi AgenBRILink di wilayah kerjanya, yang mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku, telah mencapai 71.255 agen.
Jaringan raksasa ini telah mencatatkan volume transaksi yang fantastis, yakni sekitar 130 juta kali transaksi.
"Sebenarnya layanan AgenBRILink itu sama dengan bank konvensional, tidak ada bedanya. Mau transfer bisa, beli pulsa listrik bisa, bahkan mau beli game saja bisa," ujar Argo.
Dia menjelaskan, penempatan agen di hampir setiap desa bertujuan untuk memicu timbulnya aktivitas ekonomi baru sekaligus menghadirkan efisiensi biaya logistik masyarakat. Kehadiran agen ini juga menjadi jawaban bagi pelaku ekonomi rural, seperti pedagang pasar dan petani, yang tidak memiliki waktu di siang hari untuk mengunjungi kantor bank konvensional.
Lebih jauh, peran AgenBRILink kini telah bertransformasi tidak sekadar sebagai loket pembayaran. Agen-agen ini bertindak sebagai perpanjangan tangan BRI dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif.
"AgenBRILink kami juga bisa menjadi referral jika masyarakat membutuhkan pinjaman. Jadi, harapan kami, masyarakat di daerah terpencil di mana kantor kami tidak ada, mereka tetap bisa mengajukan pinjaman melalui AgenBRILink. Ini adalah upaya nyata kami memperluas akses keuangan," pungkas Argo.
Lewat integrasi teknologi dan pemberdayaan warga lokal sebagai agen, BRI tidak hanya berhasil meruntuhkan dinding pembatas geografis di lumbung padi Sulsel, tetapi juga mengarsiteki kemandirian finansial dari pinggiran.





