Punya Teman Suka Playing Victim, Benarkah Dia Psikopat?

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: ilustrasi psikopat (Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Film sering menggambarkan psikopat sebagai pembunuh berdarah dingin tanpa empati. Namun, kenyataannya perilaku mereka tidak selalu se-ekstrem itu, bahkan bisa saja mereka sebenarnya ada di lingkungan sekitar kita, termasuk orang yang suka play victim atau yang memposisikan diri jadi korban.

Mengutip Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 17% perempuan yang dipenjara memenuhi kriteria psikopat. Angka ini tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan narapidana pria yang jumlahnya mencapai 30%.

Psikopat sendiri merupakan sebuah gangguan mental. Bentuk kemunculan atau manifestasi dari kondisi tersebut cenderung memiliki perbedaan antara laki-laki dan perempuan.


Baca: Studi Ungkap Cara Mudah Mendeteksi Bos yang Narsis

Adapun psikopat laki-laki memiliki stereotipe perilaku seperti kekerasan terhadap binatang, kekerasan fisik, dan ekspresi yang datar, berbeda dengan perempuan. Perbedaannya terletak pada narsisme dan agresi perempuan dan laki-laki.

Psikopat laki-laki, narsisis cenderung memuja dan membanggakan diri di depan orang lain, sedangkan perempuan tak terdeteksi namun cenderung bersikap manis di depan orang lain. Mereka cenderung menunjukkan sifat agresinya melalui perilaku yang membahayakan, sering terlibat dalam kekerasan fisik, melukai binatang, bahkan melakukan perbuatan kriminal.

Namun, psikopat perempuan lebih mampu menyembunyikan perilaku jahatnya, mengintimidasi secara halus, dan mengancam dengan sikap playing victim.

Bagaimana jika Anda menemukan seorang psikopat?

Sebenarnya, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengubah seorang psikopat. Menjadi seorang psikopat bukanlah pilihan, itu adalah sesuatu yang tertanam dalam otak orang.

Misalnya, ketika orang melihat gambar yang menyusahkan atau perilaku tidak bermoral, psikopat (baik pria maupun perempuan) menunjukkan aktivitas yang berkurang di amigdala, bagian otak kita yang mengontrol dan memproses emosi, dibandingkan dengan non-psikopat. Ini menjelaskan mengapa psikopat tidak terpengaruh oleh penderitaan orang lain.

Dalam arti tertentu, psikopat adalah penyakit di sirkuit emosi otak, terutama bagian yang berhubungan dengan emosi antarpribadi.

Jadi, jika ada seseorang teridentifikasi dengan perilaku psikopat lebih baik tidak usah berurusan dengannya. Itulah cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari psikopat. Jangan terlibat dalam gosip mereka. Pertahankan posisi dan jangan biarkan mereka mengintimidasi.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Barcelona Jadi Juara Liga Spanyol Usai "Bantai" Real Madrid 2-0

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panen raya jagung, Kapolri sampaikan aspirasi petani kepada Presiden
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras di Perumahan Bekasi, 1 Pelaku Ditangkap
• 8 jam laludetik.com
thumb
KAI Layani 554 Ribu Penumpang Selama Tiga Hari Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Operasi Rahasia AS Buat Salahkan Kuba Gagal Dieksekusi
• 2 jam laludetik.com
thumb
RedBird Mulai Siapkan Wajah Baru di AC Milan, Direktur Toulouse Masuk Radar Pengganti Igli Tare Musim Depan
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.