Mataram (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI mendorong jurnalisme di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memperkuat menulis berita-berita ilmiah atau sains di tengah tantangan era kecerdasan buatan (AI) dan banjir disinformasi yang terjadi di tengah masyarakat.
Peneliti BRIN Mega Mardita mengatakan pentingnya kemampuan wartawan membaca, membingkai, dan memverifikasi informasi ilmiah, agar tidak terjebak dalam penyebaran informasi yang menyesatkan.
"Media saat ini memiliki peran sebagai agen pengetahuan publik di tengah semakin kompleksnya isu berbasis sains dan teknologi," ujar Mega pada sosialisasi teknik menulis berita ilmiah populer kerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, Minggu.
Mega Mardita menyoroti hampir seluruh isu publik saat ini bersinggungan dengan sains, mulai dari teknologi dan AI, krisis global, hingga kebijakan berbasis data. Karena itu, media dituntut mampu menerjemahkan bahasa ilmiah yang rumit menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.
Baca juga: ANTARA raih penghargaan Media Massa Online Terbaik 2021 dari BRIN
Menurutnya, banyak berita sains gagal menarik perhatian publik karena terlalu teknis dan dipenuhi jargon ilmiah. Padahal masyarakat lebih tertarik pada dampak nyata suatu penelitian terhadap kehidupan sehari-hari.
"Publik tidak hanya ingin tahu bahwa penelitian dilakukan, tetapi mengapa mereka harus peduli terhadap hasil riset tersebut," kata Mega.
Ia memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yakni terkait temuan, dampak, dan manusia, dimana hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi publik.
Selain itu bagaimana cara cepat membaca jurnal ilmiah dengan memahami abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan untuk menghindari pemberitaan yang berlebihan terhadap hasil riset yang masih prematur.
Pada sesi lain, Mega mengingatkan wartawan agar tidak terjebak pada kesalahan umum, seperti menyamakan korelasi dengan kausalitas, serta terlalu cepat mengutip hasil riset preprint yang belum melewati proses peer review.
Baca juga: Tesis Tentang Perilaku Wartawan di DPR Sesuai Kaidah Ilmiah
Ia juga menegaskan AI kini membawa tantangan baru dalam dunia jurnalistik, mulai dari deepfake audio dan video, artikel sintetis, jurnal palsu, hingga halusinasi AI yang dapat memanipulasi data dan informasi.
"Karena itu wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan AI," katanya.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai penguatan kapasitas wartawan penting agar informasi berbasis riset dapat dipahami publik secara benar dan tidak menimbulkan disinformasi.
"Di era digital dan perkembangan AI saat ini wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat kapasitas insan pers, khususnya di NTB," ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara BRIN, DPR RI, dan PWI NTB menjadi langkah strategis dalam membangun literasi publik berbasis data dan riset ilmiah.
Baca juga: Populer, Menjaga "nyawa" jurnalisme visual-dana hilirisasi 794 riset
Peneliti BRIN Mega Mardita mengatakan pentingnya kemampuan wartawan membaca, membingkai, dan memverifikasi informasi ilmiah, agar tidak terjebak dalam penyebaran informasi yang menyesatkan.
"Media saat ini memiliki peran sebagai agen pengetahuan publik di tengah semakin kompleksnya isu berbasis sains dan teknologi," ujar Mega pada sosialisasi teknik menulis berita ilmiah populer kerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, Minggu.
Mega Mardita menyoroti hampir seluruh isu publik saat ini bersinggungan dengan sains, mulai dari teknologi dan AI, krisis global, hingga kebijakan berbasis data. Karena itu, media dituntut mampu menerjemahkan bahasa ilmiah yang rumit menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.
Baca juga: ANTARA raih penghargaan Media Massa Online Terbaik 2021 dari BRIN
Menurutnya, banyak berita sains gagal menarik perhatian publik karena terlalu teknis dan dipenuhi jargon ilmiah. Padahal masyarakat lebih tertarik pada dampak nyata suatu penelitian terhadap kehidupan sehari-hari.
"Publik tidak hanya ingin tahu bahwa penelitian dilakukan, tetapi mengapa mereka harus peduli terhadap hasil riset tersebut," kata Mega.
Ia memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yakni terkait temuan, dampak, dan manusia, dimana hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi publik.
Selain itu bagaimana cara cepat membaca jurnal ilmiah dengan memahami abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan untuk menghindari pemberitaan yang berlebihan terhadap hasil riset yang masih prematur.
Pada sesi lain, Mega mengingatkan wartawan agar tidak terjebak pada kesalahan umum, seperti menyamakan korelasi dengan kausalitas, serta terlalu cepat mengutip hasil riset preprint yang belum melewati proses peer review.
Baca juga: Tesis Tentang Perilaku Wartawan di DPR Sesuai Kaidah Ilmiah
Ia juga menegaskan AI kini membawa tantangan baru dalam dunia jurnalistik, mulai dari deepfake audio dan video, artikel sintetis, jurnal palsu, hingga halusinasi AI yang dapat memanipulasi data dan informasi.
"Karena itu wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya digantikan AI," katanya.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menilai penguatan kapasitas wartawan penting agar informasi berbasis riset dapat dipahami publik secara benar dan tidak menimbulkan disinformasi.
"Di era digital dan perkembangan AI saat ini wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat kapasitas insan pers, khususnya di NTB," ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara BRIN, DPR RI, dan PWI NTB menjadi langkah strategis dalam membangun literasi publik berbasis data dan riset ilmiah.
Baca juga: Populer, Menjaga "nyawa" jurnalisme visual-dana hilirisasi 794 riset





