Wakaf Dua Abad Itu Terus Mengalir ke Kantong Jemaah Haji asal Aceh

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Ada pemandangan berbeda di Hotel Burj al-Wahda al-Mutamayiz, hotel jemaah haji asal Aceh, setiap selesai shalat jemaah Asar. Pemandangan ini tidak terjadi di hotel-hotel jemaah haji Indonesia lainnya di Mekkah, Arab Saudi. Di mushala lantai bawah tanah hotel itu, setiap sore anggota jemaah haji asal Aceh memanen riyal Saudi.

Seperti terlihat pada Jumat (15/5/2026) sore itu, wajah-wajah jemaah terlihat ceria dan semringah. Hanya mengantre sejenak, lalu membubuhkan tanda tangan di sebuah kertas dan menyerahkan selembar kartu, mereka sudah mengantongi lembaran-lembaran senilai 2.000 riyal Arab Saudi. Jika dirupiahkan kira-kira setara Rp 9,3 juta.

Bagi mereka, uang ini menjadi tambahan uang saku dari negara 750 riyal Saudi per orang. ”Dengan adanya (tambahan uang) ini, masyarakat Aceh sangat terbantu, terutama masyarakat kita yang lagi susah di Kabupaten Gayo Lues yang ditimpa bencana. Alhamdulillah,” ujar Siti Mayang, anggota jemaah.

Baca Juga”Haji Bonek” ala Orang Madura

Uang 2.000 riyal tersebut diserahkan Syaikh Abdul Latif Muhammad Baltu, pejabat nazir atau pengelola wakaf Baitul Asyi. Sore itu, penyerahan uang terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok, penyerahan uang dilakukan Syaikh Baltu, satu kelompok lainnya di meja sebelah oleh Syaikh Khalid Asyi.

Saat menerima lembaran riyal, sebagian jemaah menyerahkan bingkisan. Isinya, menurut Jamaluddin Asyi, penghubung antara jemaah Aceh dan Baitul Asyi, oleh-oleh dari Aceh. ”Ada yang bawa kerupuk mulieng, terasi, dan makanan khas Aceh. Ada juga yang bawa sarung, kopi, dan aneka makanan untuk nazir dan teman-teman yang mengurus wakaf,” kata Jamaluddin.

Baca JugaJaringan Mukimin di Mekkah dan Lika-liku Bisnisnya di Tanah Suci

Suasananya seperti Lebaran. Jemaah datang ke Mekkah sebagai tamu-tamu Allah untuk menunaikan ibadah haji, membawa oleh-oleh buah tangan. Sementara Syaikh Baltu, warga atau tuan rumah, mengulurkan lembaran-lembaran riyal kepada mereka.

”Senang sekali (menerima uang wakaf ini). Saya pakai buat bayar dam (denda haji sebesar 720 riyal). Sisanya buat beli oleh-oleh untuk keluarga di Aceh,” ujar Siti Halimah, anggota jemaah asal Kabupaten Gayo Lues.

”(Uang ini) sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kami di sini. Selain itu, juga membantu adik-adik saya melanjutkan sekolah dan kuliah,” kata Erisma Wati, anggota jemaah lainnya.

Uang 2.000 riyal Saudi yang diberikan Syaikh Baltu untuk setiap anggota jemaah Aceh itu merupakan hasil pengelolaan wakaf Baitul Asyi yang berusia lebih dari 200 tahun dan dibagikan turun-temurun kepada jemaah Aceh. Syaikh Baltu menyebut Baitul Asyi adalah lembaga wakaf tertua di Mekkah. Usianya sudah 220 tahun.

Sejak tahun 1809

Hermansyah, pengajar Fakultas Adab IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry, menulis di laman Badan Wakaf Indonesia bahwa Baitul Asyi merupakan badan pengelola hasil sumbangan, sedekah, dan infak jemaah haji asal Aceh yang diwakafkan dalam bentuk tanah dan rumah di seputar Masjidil Haram. Wakaf ini dikoordinasikan oleh Habib Bugak dan diikrarkan di depan Hakim Mahkamah Syariah Mekkah sekitar tahun 1224 H/1809 M.

Pengelolanya adalan nazir wakaf yang dibentuk oleh mahkamah. Dikutip Media Center Haji (MCH) 2026, dengan merujuk laman Kementerian Agama RI, pada awalnya Habib Bugak juga menunjuk seorang nazir, yakni ulama asal Aceh yang menetap di Mekkah. Nazir tersebut diberikan hak sesuai tuntunan syariat Islam.

Warisan wakaf Habib Bugak Asyi kepada masyarakat Aceh kini bernilai lebih dari 200 juta riyal atau setara Rp 5,2 triliun sebagai wakaf fisabilillah.

Seiring waktu, Mahkamah Syariah Mekkah kemudian mengukuhkan Syaikh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani al-Asyi sebagai nazir Baitul Asyi pada 1420 H atau 1999 M. Ia generasi keempat pengelola wakaf tersebut. Selanjutnya, sejak 1424 Hijriah atau 2004 Masehi, tugas nazir dilanjutkan oleh tim yang dipimpin Syaikh Munir bin Abdul Ghani al-Asyi, anak dari nazir sebelumnya, dan generasi kelima pengelola wakaf.

Selain Syaikh Munir, pengelolaan Baitul Asyi juga dipercayakan kepada Syaikh Abdul Latif Baltu. Warisan wakaf Habib Bugak Asyi kepada masyarakat Aceh kini bernilai lebih dari 200 juta riyal atau setara Rp 5,2 triliun sebagai wakaf fisabilillah.

Harta wakaf tersebut berkembang menjadi sejumlah aset penting, antara lain Hotel Ajyad setinggi 25 lantai yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjidil Haram. Selain itu, Baitul Asyi juga memiliki Menara Ajyad setinggi 28 lantai yang berjarak sekitar 600 meter dari Masjidil Haram. Kedua bangunan tersebut mampu menampung lebih dari 7.000 orang dan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.

Sebagian aset itu terpampang di kartu wakaf jemaah Aceh, seperti Hotel Maysan al-Mashaer yang menghadap langsung ke Masjidil Haram, juga Hotel Grand Massa dan aset-aset penginapan lainnya. ”(Wakaf) ini terjadi berkat Allah SWT. Kerajaan Arab Saudi juga menjaga dengan memberikan kewenangan kepada sejumlah orang untuk mengelolanya,” ujar Syaikh Baltu.

Baca JugaMengelola Girah Beribadah di Masjidil Haram

Dengan usia setua itu, sudah tidak terhitung berapa total nilai aset dan manfaat yang dikelola, termasuk dana manfaat yang diberikan kepada jemaah haji asal Aceh. Menurut Baltu, tahun ini merupakan tahun kesebelas jemaah haji asal Aceh memperoleh pembagian dana wakaf tersebut. Jika ditotal, jumlahnya lebih dari 120 juta riyal atau sekitar Rp 560 miliar.

Tahun 2026, dana wakaf untuk jemaah Aceh mencapai 11,4 juta riyal Saudi atau lebih dari Rp 53 miliar. Jemaah haji asal Aceh tahun ini berjumlah 5.426 orang, terbagi ke dalam 14 kloter.

Kesepakatan dengan Aceh

Baltu menyebutkan pembagian uang wakaf bagi jemaah Aceh merupakan hasil kesepakatan dengan Pemerintah Aceh.

”Tidak diragukan lagi, ikatan kami dengan Aceh sangat kuat. Saya sudah dua kali berkunjung ke Aceh, dan masyarakat Aceh berkunjung ke sini untuk melaksanakan umrah atau haji,” ujarnya.

Baca JugaKartu Nusuk dan Dag-dig-dug di Tengah Keramatnya Tanah Suci

Muhammad Yunus, Ketua Baitul Mal Aceh, yang hadir dalam pembagian uang wakaf tersebut, mengatakan, pembagian uang wakaf ini membuat jemaah haji asal Aceh merasa sangat terhormat dan teristimewa. Ia berharap acara ini kian menggairahkan program Gema Berwakaf yang digalakkan Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

”Di Aceh, wakaf sangat digalakkan. Tidak ada kampung di Aceh yang tidak ada tanah wakafnya,” katanya. ”Insya Allah, dengan adanya Baitul Asyi dan Baitul Mal Aceh, bagaimana agar kami di Aceh bisa meningkatkan (program) dengan wakaf.” 

Bagi jemaah Aceh, benih semangat berwakaf itu telah disemai di Mekkah. Jemaah Kelompok Terbang (Kloter) 7 dan 8, yang menerima uang wakaf Baitul Asyi pada Kamis-Jumat lalu, misalnya, membawa dua karung berisi sandal jepit. Sandal-sandal jepit ini diwakafkan untuk jemaah haji lain yang kehilangan sandal saat menunaikan haji.

”Ini juga gerakan wakaf. Gerakan wakaf sandal,” ujar Jamaluddin tersenyum.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nusraya Fertility Center, Klinik Bayi Tabung dengan Teknologi AI Pertama di KTI
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Hukum sepekan, Nadiem dituntut penjara hingga Pigai soal nobar film
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
IHSG Performance Continues to Decline, Sharia Insurance Investments Under Pressure
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Vin Diesel Kenang Paul Walker di Karpet Merah Festival Cannes 2026
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Proyek HAT, Dirut PT Berdikari Siapkan Fondasi Emas Perunggasan Nasional
• 20 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.