Sedikitnya delapan orang terluka setelah sebuah mobil menerjang kerumunan pejalan kaki di pusat Kota Modena, Italia, Sabtu (16/5). Empat korban dilaporkan dalam kondisi luka serius.
Menurut Reuters, dua korban bahkan harus diterbangkan ke rumah sakit di Kota Bologna untuk menjalani perawatan intensif. Salah satu korban perempuan juga harus menjalani amputasi pada kedua kakinya.
Rekaman CCTV yang disiarkan media Italia memperlihatkan mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke jalan pusat kota yang dipenuhi pejalan kaki dan pesepeda.
Wali Kota Modena Massimo Mezzetti mengatakan pengemudi diduga sengaja mengarahkan mobil ke trotoar.
"Sepertinya dia sengaja mengarahkan mobil ke trotoar dan menabrak beberapa orang," kata Mezzetti kepada RaiNews24, dikutip Reuters.
Pelaku Idap Gangguan JiwaPelaku diketahui merupakan pria berusia 30 tahun kelahiran Bergamo dan berdarah Afrika Utara.
Kantor berita AFP menyebut pelaku merupakan warga Italia keturunan Maroko kelahiran 1995.
Prefek Kota Modena, Fabrizia Triolo, mengatakan pelaku sempat mengalami gangguan psikologis pada 2022.
"Dia sempat dirawat di pusat kesehatan mental karena gangguan skizoid," kata Triolo dalam konferensi pers.
"Namun kami kehilangan jejaknya setelah masa observasi awal di fasilitas perawatan," lanjutnya.
Sumber Kementerian Dalam Negeri Italia mengatakan pelaku memang tengah menjalani perawatan gangguan kejiwaan. Namun belum ada keterangan soal motif atau kemungkinan unsur terorisme, menurut Reuters.
Pelaku Bawa Sajam, Sempat Coba KaburSetelah mobil menabrak etalase toko, pelaku sempat mencoba melarikan diri. Namun sejumlah warga mengejar dan menghentikannya sebelum polisi datang.
AFP melaporkan pelaku sempat mengeluarkan pisau dan melukai salah satu warga yang mengejarnya.
"Saya mendengar benturan dan melihat orang-orang ditabrak. Dia mengeluarkan pisau dan memukul kepala saya," kata seorang warga, Luca Signorelli.
Sementara itu, korban penikaman mengatakan kepada RaiNews24 bahwa pelaku tampak berada di bawah pengaruh alkohol atau narkoba, meski hal itu belum dikonfirmasi pihak berwenang, menurut Reuters.





