Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan pengusaha mewanti-wanti pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini tidak lagi sekadar angka di pasar keuangan, melainkan telah mendistorsi struktur biaya produksi, mengganggu arus kas (cashflow), hingga menahan syahwat ekspansi pelaku usaha riil.
Berdasarkan data RTI Infokom pada akhir pekan ini, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp17.556 per dolar AS, atau mengalami pelemahan sebesar 5,27% sejak awal tahun (year to date/YtD). Sepanjang 2026, pergerakan rupiah mencatatkan rentang volatilitas yang lebar, yakni antara Rp16.670 hingga Rp17.604 per dolar AS.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira menjelaskan bahwa pergerakan kurs yang fluktuatif ini menjadi perhatian serius dunia usaha karena memicu tekanan berantai dari hulu ke hilir. Sektor-sektor dengan ketergantungan impor yang tinggi kini berada di garis depan paparan risiko.
"Bagi sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, mesin, komponen industri, logistik, maupun kewajiban utang dalam dolar AS, tekanan ini sangat terasa. Margin usaha makin tergerus," ujar Anggawira kepada Bisnis, Minggu (17/5/2026).
Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya ruang bagi pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian harga jual. Alasannya, daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih, sehingga menaikkan harga produk secara agresif justru berisiko mengorbankan volume penjualan.
Menurut Angga, situasi ini telah menciptakan efek psikologis yang membuat pengusaha cenderung mengambil posisi bertahan (wait and see) daripada melakukan ekspansi. Banyak pengusaha, sambungnya, yang mulai memperketat efisiensi operasional dan menahan rencana ekspansi demi menjaga ketersediaan likuiditas internal.
Baca Juga
- Prediksi Rupiah Masih Lesu ke Level Rp17.530 per Dolar AS Awal Pekan (18/5)
- Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Ketiga Mei 2026
- Simalakama Ongkos Tinggi Stabilkan Rupiah, Risiko Likuiditas di Balik Kejar Stabilitas
Jika volatilitas kurs ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang maka Hipmi mengkhawatirkan dampaknya akan semakin menggerogoti ketahanan sektor manufaktur, konstruksi, otomotif, elektronik, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan komponen impor.
Angga pun berharap otoritas fiskal dan moneter menjadikan pelemahan kurs ini sebagai dorongan untuk melakukan penguatan struktur ekonomi domestik agar tidak terus-menerus bergantung pada barang impor dan arus modal jangka pendek (hot money).
"Pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum mempercepat penguatan industri substitusi impor, hilirisasi, penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri [TKDN] yang realistis dan kompetitif, serta memperkuat ekspor bernilai tambah," jelasnya.
3 Tuntutan Pengusaha
Demi memitigasi risiko pemburukan lebih lanjut di sektor riil, Hipmi melayangkan sejumlah rekomendasi dan harapan kepada pemerintah serta otoritas moneter.
Pertama, otoritas diminta untuk fokus menjaga stabilitas volatilitas di pasar valas dan memberikan kepastian kebijakan. Bagi dunia usaha, kejelasan arah kebijakan jauh lebih penting agar kalkulasi bisnis tetap dapat diprediksi secara akurat.
Kedua, menjaga likuiditas dunia usaha, terutama pada sektor produktif dan padat karya. Angga menyebut saat ini pengusaha tengah menghadapi tekanan ganda (double pressure) akibat pelemahan rupiah yang dibarengi dengan tren suku bunga tinggi.
Oleh karena itu, instrumen pelonggaran seperti insentif fiskal spesifik, relaksasi pembiayaan, percepatan restitusi pajak, hingga stimulus padat karya sangat dibutuhkan untuk menjaga napas cashflow korporasi.
Ketiga, memperkuat kepercayaan investor melalui bauran kebijakan yang sejalan antara fiskal dan moneter. Komunikasi publik dari pemerintah kepada pasar juga diminta terukur agar tidak memantik kepanikan di tengah sensitivitas sentimen global.
Hipmi mengakui bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebetulnya masih kokoh, tercermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik, dan kinerja investasi yang terjaga. Hanya saja, tantangan terbesar saat ini berada pada aspek pengelolaan ekspektasi pasar.
"Fokusnya bukan sekadar mempertahankan angka kurs tertentu, tetapi memastikan ekonomi riil tetap hidup, industri tetap bergerak, dan dunia usaha tidak kehilangan optimisme untuk terus berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja," tutup Angga.





