EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump mengakhiri kunjungan tiga harinya ke Tiongkok pada Jumat 15 Mei 2026. Dalam pesawat saat perjalanan pulang, ia mengungkapkan bahwa Xi Jinping pernah bertanya kepadanya apakah Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan militer untuk membela Taiwan jika terjadi konflik di Selat Taiwan.
Mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan, Trump mengatakan ia perlu berbicara terlebih dahulu dengan Presiden Republik Tiongkok (Taiwan), Lai Ching-te, sebelum mengambil keputusan. Selain itu, sebelum menaiki Air Force One, seluruh staf AS dilaporkan membuang semua barang yang diberikan pihak Tiongkok, bahkan tidak membawa satu pin pun.
“Saya pikir hal yang paling tidak kami inginkan saat ini adalah perang yang terjadi sejauh 9.500 mil dari sini (Selat Taiwan). Saya pikir itu yang paling tidak kami inginkan. Saat ini keadaan berjalan baik,” katanya.
Reporter Gedung Putih bertanya:“Jika perang benar-benar pecah, apakah Amerika Serikat akan membela Taiwan?”
Trump menjawab:“Saya tidak ingin membahas pertanyaan itu. Saya hanya bisa mengatakan bahwa hanya satu orang yang tahu jawabannya. Kalian tahu siapa? Saya. Saya satu-satunya orang yang tahu.”
Trump melanjutkan:“Pertanyaan itu juga ditanyakan Xi kepada saya hari ini. Saya bilang, saya tidak ingin membahas pertanyaan itu.”
Reporter bertanya lagi:“Dia menanyakannya hari ini?”
Trump menjawab:“Ya.”
Reporter:“Dia bertanya apakah Anda akan mengirim pasukan?”
Trump :“Dia bertanya apakah saya akan membela Taiwan. Saya bilang saya tidak ingin membahas pertanyaan itu.”
Meskipun Trump berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak yakin konflik di Selat Taiwan akan pecah dalam waktu dekat, saat ini perhatian utama masyarakat di kedua sisi Selat adalah apakah AS akan semakin meningkatkan penjualan persenjataan canggih kepada Taiwan.
Trump juga memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.
Trump berkata:“Saya akan membuat keputusan (mengenai penjualan senjata ke Taiwan) pada waktu yang tepat dalam waktu dekat.”
Reporter Gedung Putih bertanya:“Jadi menurut Anda belum perlu segera memutuskan sekarang?”
Trump menjawab : “Untuk membuat keputusan itu, saya harus berbicara dengan seseorang. Kalian tahu siapa dia. Dia sekarang memimpin Taiwan.”
Ketika berbicara mengenai ambisi Xi Jinping terhadap Taiwan, Trump menggunakan penjelasan yang dianggap cukup menarik perhatian.
Trump mengatakan : “Mengenai Taiwan, dia (Xi) tidak ingin melihat gerakan kemerdekaan Taiwan. Dia berkata: kalian tahu, kami (Tiongkok) telah memiliki Taiwan selama ribuan tahun. Pada suatu titik, Taiwan memisahkan diri, dan kami (PKT) ingin mengambilnya kembali. Perang Korea dan banyak hal lainnya terjadi selama periode itu, tetapi… Mengenai Taiwan, dia sangat keras sikapnya, tetapi saya sendiri tidak menyatakan posisi apa pun.”
Pernyataan Trump yang mengulang sikap Xi Jinping itu memicu perhatian besar di kalangan komunitas Tionghoa.
Kementerian Luar Negeri Taiwan kemudian mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali bahwa tugas terpenting Taiwan adalah mempertahankan status quo. Namun ancaman militer PKT memaksa Taiwan memperkuat kemampuan pertahanannya sendiri.
Taiwan juga menyampaikan terima kasih kepada Trump karena selama lebih dari satu tahun sejak menjabat, ia telah dua kali menyetujui penjualan senjata kepada Taiwan. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa kerja sama erat Taiwan-AS selalu menjadi fondasi perdamaian di Selat Taiwan.
Waspada Penyadapan? Rombongan AS Buang Semua Barang dari Tiongkok Sebelum Naik PesawatSebelum berangkat ke Tiongkok, seluruh rombongan Trump dilaporkan telah mengganti ponsel dan laptop mereka dengan perangkat sekali pakai. Pada Jumat sebelum pulang ke AS, menurut laporan rombongan pers Gedung Putih, semua orang membuang seluruh barang yang diberikan atau disediakan pihak Tiongkok sebelum naik ke Air Force One, termasuk kartu identitas kerja, ponsel sekali pakai, lencana delegasi, dan sebagainya.
Langkah ini dianggap sebagai upaya ketat untuk mencegah kemungkinan perangkat penyadap atau alat mata-mata buatan PKT masuk ke Air Force One.
Setelah menyelesaikan kunjungan kurang dari tiga hari tersebut, para wartawan Gedung Putih juga mengeluhkan perlakuan pihak Tiongkok terhadap mereka.
Seorang reporter Fox News mengenang bahwa kesan paling mendalam baginya adalah sebuah mikrofon yang lupa dimatikan dan merekam seorang wartawan AS berkata kepada wartawan Tiongkok:“Kalian tidak akan diperlakukan seperti ini di Gedung Putih.”
Ucapan itu dianggap menyindir bahwa PKT tidak memperlakukan wartawan secara manusiawi dan tidak menunjukkan rasa hormat yang mendasar. Hal tersebut juga dinilai mencerminkan cara PKT memperlakukan rakyat maupun orang lain.
Laporan reporter NTDTV, Ren Hao, dari Washington DC, Amerika Serikat.




