Anak lanang kudu iso
Nyonggo abote donyo
Kabeh ora ngandalke wong tuo
Tabungan ora sepiro
Sangu mung restu lan dongo
Ngadepi pacoban sing teko
Suara violin dan viola mengalun lembut, disambut dengan gemuruh timpani dan alunan vocalise dari Yogyakarta Royal Choir menjadi pembuka yang dramatis sekaligus menyayat hati. Suara Helarius Daru Indrajaya alias Ndarboy Genk pun masuk diiringi violin lembut dengan aksen penjaga tempo dari petikan kontrabas.
Saya pernah mendengar lagu ini sebelumnya, dengan aransemen asli ala Pop Jawa. Bagian ini biasanya diiringi oleh suara keyboard. Makna lagunya tetap sedih, tapi terasa “agak jauh”, mungkin karena saya tidak pernah merasakan menjadi “anak lanang”.
Tapi di bawah aransemen MP Widyoyitnowaditro, konduktor Yogyakarta Royal Orchestra, rasanya berbeda. Tanpa terasa hati saya ikut terenyuh. Lagu ini tidak lagi terasa seperti curhatan anak laki-laki yang tumbuh menjadi dewasa, tapi jadi soal hidup kita sehari-hari.
Tumbuh dewasa, tak boleh hanya mengandalkan orang tua. Isi tabungan tak seberapa, yang dipunya hanya doa. Tapi harus tetap kuat bertahan menghadapi semua cobaan yang datang silih berganti.
Kira-kira begitu isi lagu “Lanang Tenan” yang jadi pembuka dari tiga lagu utama di sesi Ndarboy Genk pada konser “Gregah Nusa” Yogyakarta Royal Orchestra di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (16/5) malam. Babak ini adalah babak terakhir dari tiga babak utama dalam konser tersebut.
Baru tuntas, Ndarboy Genk langsung melanjutkan penampilannya dengan lagu “Indonesia Bakoh” yang dirilis tahun 2022. Lagu ini menceritakan tentang masyarakat Indonesia yang tangguh dan pekerja keras. Iya, pekerja keras.
“Kerja opo wae tak lakoni. Pancen dudu balungan gedhi. Mangkat mruput, bali tengah wengi. Senajan hasile ben sasi ra mesti.”
Kerja apa saja dilakukan, karena memang kita bukan orang kaya. Berangkat subuh-subuh, pulang tengah malam, padahal hasil yang didapat tidak pasti. Lirik yang sesedih ini bisa dibawakan dengan megah bahkan sejak intro dinyanyikan. Tonika G mayor digarap apik dengan dinamika crescendo yang diletakkan pas.
Meski digarap ulang, namun MP Widyoyitnowaditro terlihat sekali ingin tetap mempertahankan “ruh” lagu ini sebagai musik dangdut-pop jawa dengan memberikan peran pada flute, oboe, french horn yang ritmikal. Begitu masuk di bagian interlude, pola ritme march masuk dan dipadukan dengan susunan nada melodis hingga terasa begitu maestoso, megah dan agung, sesuai pesan lagu ini.
“Eling-eling mbiyen pahlawan sing merjuangke. Awak dewe mung gari neruske perjuangane. Urip susah, luwih susah jamane penjajah. Ojo sambat wae, kandeli usaha lan ngibadah.”
Ingat-ingat dulu pahlawan berjuang. Kita cuma tinggal meneruskan perjuangannya. Hidup memang susah, tapi lebih susah waktu dijajah. Jangan mengeluh terus, perbanyak usaha dan ibadah.
Lagu terakhir adalah Sikep alias Siap Kelangan Pengarep-arep (Siap Kehilangan Harapan). Sebelum memulai, Ndarboy Genk sempat meminta penonton untuk menyalakan flash dan mengangkat tangan. Saya tidak pernah menyangka, konser orkestra bisa seseru dan seatraktif ini.
Sikep ini sebetulnya tak kalah sedih. Ini tentang perpisahan seorang laki-laki dengan gadis pujaan hatinya. Di bawah aransemen MP Widyoyitnowaditro, pesan soal keikhlasan, harapan, dan rasa tersakiti ini dibalut elegan dengan mengambil tonika E Mayor dan tempo 65 BPM.
Aransemen ini digarap apik dengan mengolah tekstur honofonik dan teknik doubling melody. Bukan cuma lagu Sikep yang dibawakan berbeda, tapi pengalaman menikmati konser orkestra yang terasa lebih dekat, meski tetap megah.
Selain tiga lagu Ndarboy Genk itu, Yogyakarta Royal Orchestra juga membawakan beberapa repetoar lain. Yang pertama adalah Jenang Gulo dan Kidung Pamuji yang terdiri dari dua movement. Sedangkan bagian kedua terdiri dari Indonesia Pusaka, dan lagu masa kecil yang populer di tanah Jawa: Gambang Suling, Mentok Mentok, dan Lelo Ledung.
Jenang Gulo yang awalnya adalah salah satu lagu Jawa dengan laras pelog, diaransemen ulang dalam format orkestra dengan sinden dan duet siter-gender. Laras pelog di musik gamelan Jawa yang punya karakter halus, dikawinkan sempurna dengan gaya musik klasik barat.
Sedangkan Kidung Pamuji adalah karya terbaru yang disusun MP Widyayitnowaditro dalam format solo violin yang dimainkan oleh MJ Cakrawaditro dan orkestra. Karya ini berisi dua materi lagu karya Sunan Kalijaga di abad ke-15 atau abad ke-16, yaitu Kidung Rumeksa Ing Wengi dan Kidung Lingsir Wengi.
Buang jauh-jauh kesan mistis seperti rumor modern soal Lingsir Wengi, di sini lagu ini justru terasa begitu romantis dan kompleks yang dibagi menjadi dua movement. Movement pertama temponya cepat dan dramatis. Permainan solois violin di bagian ini membuat kesan gaya orkestrasi era Romantik jadi lebih kuat. Sedangkan pada movement kedua, temponya lebih variatif. Lambat-cepat-lambat-cepat lagi, sangat kontras dengan movement pertama yang lebih terasa melankolis.
Menonton konser Yogyakarta Royal Orchestra ini adalah sebuah pengalaman menyenangkan dan berbeda. Ada perkawinan musik klasik barat, musik tradisional, dan pop jawa yang sedang populer. Ada masalah sehari-hari, hingga kenangan masa lalu yang hangat, yang dibalut ulang dalam instrumen yang mewah namun tetap terasa dekat.
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara





