Jakarta: Literasi membaca buku pada anak usia dini dinilai sangat penting di tengah gempuran screen time dari handphone. Sebab, saat ini mayoritas anak lebih suka melihat handphone ketimbang membaca buku.
"Di banyak rumah hari ini, anak-anak lebih akrab dengan layar gawai dibandingkan dengan halaman buku. Mereka bisa duduk lama menonton video, tetapi cepat bosan ketika diajak melihat buku cerita," ujar Ketua Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka-Pendidikan Anak Usia Dini, Febri Pratiwi Hendriyani, dalam keterangannya, Minggu, 17 Mei 2026.
Menurut dia, menonton tidak selalu buruk. Ada tontonan yang mendidik dan bisa menambah ilmu pengetahuan. Namun, jika sejak kecil anak lebih sering disuapi tontonan daripada diajak membaca atau dibacakan buku, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang, yaitu kesempatan anak untuk berpikir, membayangkan, bertanya, dan berdialog.
Febri menjelaskan pendidikan anak usia dini adalah masa yang sangat penting. Pada usia ini kebiasaan, rasa ingin tahu, cara berbicara, dan dasar karakter mulai terbentuk. Oleh karena itu, mengenalkan buku kepada anak usia dini bukan berarti memaksa mereka cepat membaca, mengeja, atau menghafal huruf.
"Yang lebih penting adalah membuat anak merasa bahwa buku itu menyenangkan. Anak boleh memegang buku, melihat gambar, menunjuk tokoh, menebak cerita, menirukan suara binatang, atau bertanya apa saja. Dari kegiatan sederhana itu, anak belajar bahasa, emosi, perhatian, dan kedekatan dengan orang tua atau guru," ujar pemerhati pendidikan anak ini.
Menurut Febri, membaca buku berbeda dengan menonton. Saat menonton, gambar bergerak cepat dan anak tinggal menerima. Saat membaca atau dibacakan buku, anak belajar menunggu, mendengarkan, membayangkan, dan memahami cerita sedikit demi sedikit.
"Di sinilah nilai penting buku. Buku melatih kesabaran,” ujar dia.
Dia menyampaikan buku mengajak anak menggunakan imajinasi. Buku membuat anak mengenal kata-kata baru, serta membuka ruang percakapan antara anak dan orang dewasa.
"Ketika seorang ibu membacakan cerita tentang anak yang jujur, misalnya, anak tidak hanya mendengar cerita. Ia bisa diajak bertanya, “Menurutmu, kenapa tokoh itu harus berkata jujur?” Pertanyaan kecil seperti ini adalah awal pembentukan karakter," ujar dia.
Ilustrasi hari buku. Dok. Freepik
Anak yang terbiasa membaca atau dibacakan buku sejak kecil biasanya lebih mudah mengenal perasaan orang lain. Dia belajar ada tokoh yang sedih, gembira, takut, berani, kecewa, lalu bangkit lagi.
"Dari cerita, anak belajar empati. Ia memahami orang lain juga punya perasaan. Dari buku, anak juga belajar keberanian, tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, dan rasa hormat. Nilai-nilai ini tidak selalu mudah diajarkan lewat nasihat panjang. Anak sering lebih mudah menangkapnya lewat cerita yang dekat dengan kehidupan mereka," ungkap dia.
Menurut dia, Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei perlu dikaitkan langsung dengan gerakan membaca di keluarga, PAUD, posyandu, taman bacaan, dan lingkungan masyarakat. Jangan sampai gerakan literasi hanya ramai di sekolah formal, sedangkan anak usia dini dibiarkan tumbuh bersama layar tanpa pendampingan.
“Masyarakat Indonesia sebenarnya punya banyak ruang untuk menumbuhkan budaya baca. Di rumah bisa dibuat pojok buku kecil. Di PAUD, guru bisa membacakan cerita setiap hari. Di posyandu, kader bisa menyediakan buku anak saat orang tua menunggu antrean. Di balai warga, masjid, gereja, atau taman kampung, masyarakat bisa membuka rak buku bersama," kata dia.
Namun, buku yang diberikan kepada anak juga harus sesuai usia. Untuk bayi dan balita, buku bergambar tebal, berwarna cerah, dan berisi kata-kata sederhana lebih cocok.
Untuk anak usia tiga sampai lima tahun, buku cerita bergambar tentang keluarga, hewan, alam, persahabatan, kebersihan, dan kebiasaan baik sangat membantu perkembangan mereka.
Saat anak mulai masuk SD, bacaan dapat diarahkan ke cerita rakyat, kisah tokoh, sains sederhana, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Ketika anak bertambah besar, buku petualangan, sejarah, biografi, pengetahuan, dan novel remaja bisa menjadi jembatan menuju kedewasaan berpikir.
Yang perlu diperhatikan, lanjut dia, memilih buku untuk anak bukan hanya soal lucu atau tidak lucu. Buku anak sebaiknya aman dalam segi bahasa, baik pesannya, indah gambarnya, dan sesuai tahap perkembangan.
Anak-anak tidak perlu dijejali bacaan yang terlalu berat. Mereka membutuhkan buku yang membuat mereka senang, tetapi juga pelan-pelan menuntun mereka menjadi pribadi yang baik. Buku tentang berbagi, merawat lingkungan, menghargai teman yang berbeda, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah adalah contoh bacaan yang bisa membentuk karakter masa depan.
“Orang tua juga perlu menjadi teladan. Kita tidak bisa berharap anak gemar membaca jika setiap hari ia melihat orang dewasa hanya sibuk dengan ponsel. Anak meniru apa yang ia lihat. Maka, langkah paling sederhana adalah menyediakan waktu 10 sampai 15 menit sehari untuk membaca bersama anak," kata dia.
"Tidak harus lama, tidak harus mahal, tidak harus sempurna. Yang penting rutin. Bila belum mampu membeli buku, keluarga bisa meminjam dari perpustakaan, taman bacaan, sekolah, atau memanfaatkan buku digital resmi yang kini tersedia," sambung dia.
Hari Buku Nasional seharusnya menjadi ajakan untuk mengubah kebiasaan kecil di rumah-rumah Indonesia.
"Matikan televisi sebentar. Letakkan gawai sebentar. Ambil satu buku. Duduk bersama anak. Bacakan dengan suara hangat. Biarkan anak bertanya, tertawa, menunjuk gambar, bahkan mengulang cerita yang sama berkali-kali. Dari kegiatan sederhana itu, karakter anak dibentuk pelan-pelan," tutur dia.
Jika anak sejak dini akrab dengan buku, dia tidak hanya tumbuh menjadi anak yang pintar membaca. Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peka, lebih kaya bahasa, lebih luas imajinasi, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Maka, memperingati Hari Buku Nasional bukan hanya soal merayakan buku, tetapi juga soal merawat masa depan anak Indonesia. Sebab anak yang dekat dengan buku hari ini, berpeluang menjadi orang dewasa yang lebih bijak esok hari.
Hari Buku Nasional diperingati setiap 17 Mei bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional RI pada 17 Mei 1980, sebagaimana dicatat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bojonegoro. OECD PISA 2022 menunjukkan tantangan literasi membaca siswa Indonesia masih besar.
Kementerian yang menaungi pendidikan menjelaskan literasi membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, merefleksi, dan berinteraksi dengan teks. American Academy of Pediatrics juga menekankan membaca bersama sejak dini mendukung perkembangan bahasa, kognitif, sosial-emosional, dan kedekatan anak dengan orang tua.




