jpnn.com - NGANJUK - Presiden Prabowo Subianto memuji Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas keberhasilan mewujudkan swasembada pangan nasional hanya dalam waktu satu tahun, jauh lebih cepat dari target empat tahun yang ditetapkan pemerintah.
Prabowo menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan dalam Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
BACA JUGA: Kepala Bapanas: Impor Hanya 5 Persen, Indonesia Resmi Capai Swasembada Pangan
"Swasembada pangan, perjuangan yang tidak ringan. Indonesia negara besar dengan 287 juta rakyat. Menjamin pangan 287 juta orang bukan pekerjaan ringan. Namun, berhasil,” katanya.
Prabowo menegaskan bahwa sebagai kepala negara dirinya memikul tanggung jawab penuh atas ketahanan pangan nasional.
BACA JUGA: Indonesia Pasok Pupuk ke Australia, Mentan Amran Terima Telepon Julie Collins
Karena itu, ia memberi mandat langsung kepada Mentan Amran beserta seluruh jajaran pertanian untuk mencapai swasembada pangan dalam empat tahun. Namun, target tersebut mampu diwujudkan jauh lebih cepat.
“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya, saya minta swasembada pangan dalam empat tahun. Mereka bisa hasilkan dalam satu tahun,” tuturnya.
BACA JUGA: Hadapi Ancaman El Nino, Mentan Amran Siapkan 5 Strategi Jaga Swasembada Pangan
Presiden Prabowo juga secara khusus menyampaikan rasa terima kasih dan kekagumannya kepada Mentan Amran yang dinilainya memiliki kapasitas, pengalaman, dan keberpihakan kuat kepada petani Indonesia.
“Saya berterima kasih. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ketemu seorang seperti Andi Amran Sulaiman. Saya tidak pernah kenal beliau. Kebetulan saya ketemu, saya tanya dua tiga pertanyaan, ini orang oke pemikirannya,” ujar Presiden.
Menurutnya, Mentan Amran memahami persoalan pangan secara utuh karena memiliki pengalaman sebagai Menteri Pertanian, pelaku usaha, sekaligus berasal dari latar belakang petani.
“Beliau akhirnya berjuang karena beliau menguasai permasalahan. Beliau pernah menjadi Menteri Pertanian, sebelumnya beliau adalah pelaku, dan beliau datang dari keluarga petani, beliau anaknya petani, jadi beliau mengerti masalah,” katanya.
Prabowo juga menekankan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan persoalan hidup dan mati suatu bangsa. Karena itu, pemerintah memilih memperkuat produksi dalam negeri dibanding bergantung pada impor pangan.
“Saya tidak memandang pangan sekadar komoditas, tapi survival suatu bangsa. Jadi saya tidak ikut paham yang mengatakan bahwa beras dan jagung lebih efisien kalau kita impor. Survival bangsa bukan sekadar lebih murah, tetapi ada atau tidak,” tutur Prabowo.
Keberhasilan Indonesia menjaga produksi dan stok pangan nasional, lanjut Presiden Prabowo, kini membuat banyak negara mulai meminta pasokan beras dari Indonesia di tengah krisis pangan global dan pengetatan ekspor sejumlah negara produsen.
“Sekarang banyak negara minta beli beras dari Indonesia. Tetangga yang menganggap dirinya lebih hebat sekarang harus datang ke Indonesia minta boleh beli beras,” ujarnya.
Presiden Prabowo menambahkan, pemerintah tetap mengutamakan kepentingan rakyat dan kesejahteraan petani dalam setiap kebijakan pangan nasional. Karena itu, ekspor pangan dilakukan secara terukur dengan memastikan kebutuhan dalam negeri tetap aman dan harga di tingkat petani tetap menguntungkan.
“Yang utama amankan rakyat dulu. Jangan petani jadi korban. Harga harus minimal untung,” katanya.
Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras di 2025 sebesar 34,69 juta ton, mengalami peningkatan 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun 2024. Cadangan beras pemerintah (CBP) di 2026 juga tercatat telah mencapai 5,3 juta ton. (*/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




