Jakarta, VIVA – Tantangan generasi muda saat ini tak lagi sekadar soal mendapatkan pendidikan, tetapi juga bagaimana mampu bertahan dan beradaptasi di tengah persaingan global serta perkembangan teknologi yang bergerak cepat, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Fenomena ini menjadi perhatian di banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia. Berdasarkan data International Labour Organization (ILO), sekitar 16 persen pemuda di ASEAN masuk dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training), yakni tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Di Indonesia sendiri, angka pemuda usia 15–24 tahun yang termasuk kategori NEET mencapai 19,44 persen. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan pentingnya memperluas akses pendidikan sekaligus pengembangan keterampilan agar generasi muda mampu menjadi kelompok produktif yang berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Country Director SCG Indonesia, Warit Jintanawan, mengatakan tantangan yang dihadapi anak muda saat ini semakin kompleks, terutama dengan hadirnya disrupsi teknologi AI dan kompetisi global yang semakin ketat.
“Tantangan generasi muda semakin kompleks untuk menemukan posisinya di industri dan masyarakat, dengan adanya persaingan global yang semakin kompetitif serta disrupsi teknologi AI. Untuk itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan adaptasi, berpikir kritis (critical thinking), dan inisiatif untuk menjadi problem-solver bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Pendidikan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan kuncinya,” jelas Warit dalam keterangannya, dikutip Senin 18 Mei 2026.
Menurutnya, kemampuan akademik saja kini tidak cukup. Generasi muda juga dituntut memiliki kemampuan memecahkan masalah sosial di lingkungan sekitar serta mampu berkolaborasi dengan masyarakat.
Hal serupa terlihat dalam berbagai program pengembangan pelajar dan mahasiswa yang kini mulai menitikberatkan pada peningkatan soft skills dan pengalaman langsung di masyarakat.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan adalah mendorong siswa menulis esai berbasis persoalan nyata di lingkungan sekitar. Peserta diajak mengamati masalah sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah, akses air bersih, kesehatan masyarakat, pendidikan, hingga kemiskinan.
Brand & Communication Manager SCG Indonesia, Amanda Dwi Ayu Utari, menjelaskan bahwa kemampuan observasi dan empati sosial menjadi poin penting dalam proses pembelajaran generasi muda saat ini.





