Indeks Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup turun pada perdagangan Jumat (15/5). Penurunan itu terjadi setelah lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi global.
Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 537,29 poin atau 1,07 persen ke 49.526,17. S&P 500 turun 92,74 poin atau 1,24 persen ke 7.408,50, sementara Nasdaq Composite melemah 410,08 poin atau 1,54 persen ke 26.225,15.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, saham energi naik 2,3 persen. Sementara 10 sektor lainnya turun, dengan sektor material dan utilitas mengalami penurunan paling tajam.
“Ada kesadaran bahwa pasar sudah bergerak terlalu jauh,” kata Kenny Polcari, Kepala Strategi Pasar di Slatestone Wealth di Jupiter, Florida.
"Pasar tidak cukup memperhatikan apa yang disampaikan pasar obligasi dan data ekonomi. Pasar terlalu terbawa momentum perdagangan AI," imbuhnya.
Harga minyak mentah melonjak setelah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menimbulkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh di antara kedua negara. Situasi ini juga mengurangi harapan bahwa lalu lintas normal di Selat Hormuz yang penting bagi perdagangan energi dunia akan segera pulih.
Pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa banyak hasil konkret. Beijing juga tidak memberikan dukungan yang jelas untuk membantu penyelesaian konflik AS-Iran.
“Tentu saja positif melihat kedua negara kembali terlibat di level tertinggi. Secara historis, peristiwa seperti ini biasanya menghasilkan berbagai komitmen,” kata Matthew Keator, Managing Partner Keator Group di Lenox, Massachusetts.
“Pertemuan pekan ini tampaknya lebih merupakan upaya mengatur ulang hubungan kedua negara dibanding menghasilkan dampak jangka pendek yang terukur," tambahnya.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi indikator biaya pinjaman global, sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025. Saat itu pasar terguncang oleh pengumuman tarif “Liberation Day” dari Trump.
Imbal hasil obligasi global juga naik seiring meningkatnya bukti bahwa perang Iran menimbulkan kerusakan ekonomi yang lebih luas.
Jumat menjadi hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua Federal Reserve AS, posisi yang dipegangnya selama masa pandemi, periode lonjakan inflasi, hingga siklus kenaikan dan penurunan suku bunga.
Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, berpotensi menghadapi kebutuhan menaikkan suku bunga apabila perang Iran berlangsung berkepanjangan dan membuat inflasi bertahan tinggi.
“Pelemahan hari ini menyoroti kekhawatiran bahwa angka inflasi terbaru bukan bersifat sementara, dan sulit membayangkan ketua baru akan menyampaikan kebijakan selain netral, setidaknya sampai ada perubahan data yang konsisten dan berarti,” kata Keator.
Peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendekati 40 persen, naik dari 13,6 persen sepekan sebelumnya menurut FedWatch CME Group.
Indeks semikonduktor Philadelphia turun 4 persen, dipicu pelemahan saham-saham yang sebelumnya diuntungkan oleh fenomena lonjakan AI. Nvidia turun 4,4 persen, AMD melemah 5,7 persen, dan Intel turun 6,2 persen.
Microsoft menguat 3,1 persen setelah hedge fund Pershing Square milik Bill Ackman mengungkap posisi investasi baru di perusahaan tersebut.
Dexcom melonjak 6,6 persen setelah perusahaan perangkat medis itu mengumumkan akan menunjuk dua direktur independen dan merombak komite dewan bersama investor aktivis Elliott Investment Management.
Ford turun 7,5 persen setelah sebelumnya melonjak hampir 21 persen dalam dua sesi terakhir berkat optimisme terhadap bisnis penyimpanan energinya.
Di Bursa Efek New York (NYSE), saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 3,88 banding 1. Tercatat ada 128 saham mencetak level tertinggi baru dan 187 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.121 saham naik dan 3.623 saham turun, dengan rasio saham melemah terhadap saham menguat sebesar 3,23 banding 1.
S&P 500 mencatat 12 level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 32 level terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 53 level tertinggi baru dan 151 level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 19,32 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 18,13 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.





