Analisis Pakar soal Taiwan dan Akhir Perang Iran Usai Jumpa Trump-Xi Jinping

detik.com
7 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Pertemuan bersejarah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah terjadi di Beijing. Momen bersuanya dua pemimpin negara adidaya ini diprediksi memiliki dampak pada dinamika politik global.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan pertemuan Trump dan Xi Jinping baik bagi kestabilan dunia. Momen itu menjadi ruang bagi kedua negara dalam mengendurkan ketegangan setelah merasa menjadi pesaing satu sama lain.

"KTT kedua negara adi kuasa ini baik bagi dunia karena menghindari kesalahpahaman jika keduanya bersaing dan saling mengalahkan. Padahal, keduanya masih menyimpan potensi kerja sama," kata Teuku saat dihubungi, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Saat Delegasi Trump Ogah Bawa Barang dari China saat Balik ke AS

Teuku mengatakan Amerika sangat membutuhkan China dalam menekan Iran. Dalam pertemuan itu, China dan Amerika juga sepakat mengenai larangan Iran dalam memiliki senjata nuklir. Menurut Teuku, China juga berpotensi menjadi fasilisator dalam mendamaikan Amerika dan Iran.

"Sebagai adi kuasa yang sedang naik daun, China cukup mengetahui permintaan Amerika Serikat, namun dalam praktiknya nanti, akan menyaring seluruh butir permintaan Amerika Serikat, dalam sebuah bingkai yang fleksibel, guna selanjutnya dikomunikasikan dengan Iran," jelas Teuku.

"Bingkai tersebut memuat kepentingan nasional jangka panjang China, berisi prinsip-prinsip hukum internasional yang berbasis peradaban dunia yang tinggi, yang dimengerti oleh Iran sebagai sesama negara yang juga berperadaban tinggi," sambungnya.

Baca juga: Tanda Tanya di Balik AS Tak Jadi Kirim 4.000 Tentara ke Polandia

Meski melihat ada secercah asa terkait perang Iran, Teuku menilai pertemuan Trump dan Xi Jinping membuat posisi Amerika terjepit dalam pusaran konflik China dan Taiwan. Dia mengatakan pertemuan hangat kedua pemimpin itu membuat Amerika kini sulit mendukung Taiwan secara militer.

"Karena AS telah melihat kebangkitan China yang luar biasa secara ekonomi, diplomasi, dan pertahanan keamanan. Dengan demikian, akan semakin sulit bagi AS mendukung Taiwan secara militer, termasuk melakukan latihan militer dengan Taiwan dan sekutunya di Jepang dan Korea Selatan," katanya.




(ygs/gbr)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manajemen Persib Pastikan Kondisi Tim Aman Usai Kerusuhan Suporter PSM Makassar
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Bunda PAUD Jeneponto Buka Resmi Manasik Haji Cilik 2026, Diikuti Ribuan Anak Usia Dini
• 3 jam laluterkini.id
thumb
Laba Bersih Japfa (JPFA) Diramal Makin Solid Sentuh Rp4,2 Triliun pada 2026
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Asah Kemampuan Manajerial Hingga Leadership, Pelajar SMA di Surabaya Gelar Festival Lari
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemenag Gelar Sidang Isbat Penetapan Idul Adha 2026 Hari Ini, Cek Jadwal Lengkapnya
• 21 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.