Museum Marsinah Berdiri, Bagaimana Nasib Buruh Kini?

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Perintah meresmikan museum dan rumah singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur. Sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi pengingat tentang perjuangan hak buruh di Indonesia. Nama Marsinah dikenal telah menjadi simbol perlawanan buruh, khususnya buruh perempuan terhadap ketidakadilan di era Orde Baru.

Lalu seperti apa peresmian museum ini? Dan mengapa sosok Marsinah masih terus dikenang hingga saat ini? 
Peresmian Museum Marsinah
Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan museum dan rumah singgah Marsinah di Nganjuk. Museum ini berlokasi tepat di desa kelahiran Marsinah, yaitu di Ngelundo, Kabupaten Nganjuk. Dan peresmian tersebut ini dihadiri oleh berbagai elemen dari buruh, dari sejumlah serikat pekerja. Sejak pagi ratusan buruh memadati kawasan menuju lokasi acara dengan membawa atribut dan juga spanduk organisasi masing-masing. 

Dari peresmian dan juga pendirian museum Marsinah, ini menjadi simbol dan juga penghormatan terhadap keberanian dari seorang Marsinah yang dikenal sebagai pejuang dari kalangan buruh yang masih berusia muda dan juga perempuan untuk bisa memperjuangkan hak-hak pekerja khususnya.

Baca Juga :

Usai Resmikan Museum, Prabowo Tabur Bunga di Makam Marsinah
Di dalam museum Marsinah ini tersimpan ada berbagai dokumen, kemudian foto sampai dengan barang-barang peninggalan Marsinah yang merekam perjalanan hidup dan juga perjuangannya. Tempat ini juga tentu diharapkan bisa menjadi ruang edukasi untuk generasi-generasi mendatang agar bisa memahami bagaimana sejarah dari gerakan buruh di Indonesia. 
Pembangunan Museum Marsinah tidak pakai APBN
Terkait dengan pembangunan museum Marsinah ini turut menjadi sorotan karena diklaim tidak menggunakan dana dari APBN maupun APBD dan dilakukan secara swadaya dari kalangan buruh.

Hal ini disampaikan oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Weya. Ia mengatakan total anggaran pembangunan museum Marsinah ini mencapai 3,8 miliar rupiah dan dana ini tidak berasal dari APBN maupun APBD melainkan dari pengumpulan para buruh sendiri. Ia juga menyebut bahwa buruh punya kemampuan yang mandiri dan dapat membangun museum yang megah.
Mengenal sosok Marsinah
Marsinah lahir di Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 10 April 1969  dan ia juga mengenyam pendidikan sampai ke bangku SMA tepatnya lulusan dari SMA Muhammadiyah I Nganjuk. Usai lulus, karena adanya keterbatasan ekonomi Marsinah tidak melanjutkan ke bangku perkuliahan melainkan langsung bekerja dan salah satu catatan karirnya adalah bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya yang merupakan pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Tepatnya adalah pada tahun 1990. Dan Marsinah juga dikenal sebagai sosok buruh yang aktif menyuarakan hak-hak buruh seperti misalnya kenaikan upah atau pemberian upah yang layak untuk buruh kemudian juga kesejahteraan bagi para pekerja atau buruh perempuan.

Baca Juga :

Sejuta Rumah untuk Buruh, Pemerintah Siapkan Skema KPR 40 Tahun
Jejak perjuangan Marsinah
Lantas seperti apa jejak dari perjuangan Marsinah? Puncak perjuangan Marsinah terjadi pada bulan Mei tahun 1993, tidak lama setelah peringatan Hari Buruh Internasional. Saat itu Marsinah dan rekan-rekan buruh melakukan mogok kerja dengan mengajukan 12 tuntutan kepada perusahaan. Tuntutan tersebut meliputi kenaikan upah harian, tunjangan hari raya hingga hak cuti melahirkan bagi pekerja perempuan.

Setelah aksi tersebut ada 13 buruh yang kemudian dipanggil oleh aparat dan mereka bahkan dipaksa untuk mengundurkan diri. Marsinah menolak diam, ia pun memprotes tindakan tersebut kepada aparat. Dan pada malam hari tanggal 5 Mei 1993 laporan pun muncul yaitu keberadaan dari Marsinah tiba-tiba tidak diketahui dan. Tiga hari kemudian pada tanggal 8 Mei 1993 ternyata jasad Marsinah pun ditemukan dalam kondisi penuh dengan luka. 

Kematiannya pun menjadi perhatian publik di Indonesia maupun internasional. Hingga kini kasus pembunuhan terhadap Marsinah masih menjadi salah satu kasus yang dianggap belum tuntas karena belum diketahui secara pasti siapa dalang di balik kematiannya.
Desakan penuntasan kasus meninggalnya Marsinah
Sudah lebih dari 3 dekade berlalu desakan untuk menuntaskan kasus Marsinah ini masih terus muncul. Ketua Komnas HAM Anis Hidayah sempat menyatakan di bulan November 2025, setelah pemberian gelar pahlawan nasional kepada Marsinah. Menurut Komnas HAM ini negara masih memiliki hutang keadilan terhadap Marsinah dan para pekerja yang memperjuangkan hak-hak mereka.

Kasus Marsinah belum diselesaikan atau diusut secara tuntas. Pernyataan tersebut pun menegaskan bahwa langkah untuk membangun museum saja sebetulnya tidak cukup karena penyelesaian kasus dan perwujudan menjamin perlindungan hak pekerja tentunya ini menjadi yang paling penting dan kini masih menjadi janji dari negara. 
Janji Presiden di Hari Buruh
Ini disampaikan oleh Presiden pada hari Buru Internasional 1 Mei 2026 lalu. Pemerintah menyampaikan sejumlah program yang akan dijalankan untuk pekerja dan juga masyarakat rentan. Di antaranya adalah pembangunan rumah khusus untuk buruh. Ada kawasan yang nantinya akan dibangun dengan fasilitas daycare di kawasan industri khususnya ini untuk mempermudah buruh bisa mengakses tempat tinggal. 

Kemudian juga ada potongan tarif aplikator untuk ojek online, dimana tarif yang sebelumnya sebesar 20%, pemerintah berjanji akan memberikan tarif yang lebih rendah yaitu potongannya hanya 8%. Pemerintah juga menjanjikan ada BPJS kesehatan dan juga jaminan keselamatan kerja bagi para pengemudi ojek online yang tentunya di masa kini juga dianggap sebagai buruh.

Kemudian juga ada janji pemberian kredit rakyat dengan bunga maksimal 5% per tahunnya serta ada pembentukan Satgas PHK untuk melindungi para pekerja dari adanya risiko pemutusan hubungan kerja. Selain itu juga pemerintah berjanji akan segera meresmikan RUU (7:02) ataupun penguatan dari regulasi terkait keteragakerjaan. Tidak hanya itu pemirsa juga ada janji terkait dengan perlindungan dan juga kesejahteraan dari para nelayan.

Ini juga yang dicanangkan oleh Presiden dengan adanya pembangunan kampung-kampung nelayan dan juga bantuan berupa kapal-kapal nelayan. Komitmen dari pemerintah ini memperluas juga jaminan sosial bagi pekerja di sektor informal. Nah berbagi janji ini tentu diharapkan tidak hanya menjadi wacana tapi juga benar-benar memberikan dampak bagi kesejahteraan buruh di Indonesia sekaligus juga menghargai jasa dari pahlawan buruh Marsina.

Musium Marsina kini berdiri di tanah kelahirannya bukan hanya sebagai bangunan tetapi juga sebagai pengingat bahwa hak buruh dibangun dari perjuangan panjang dan juga pengorbanan besar. Nama Marsina mungkin telah menjadi bagian dari sejarah tapi semangatnya tetap hidup dalam suara para pekerja saat ini.

Sumber: Redaksi Metro TV


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
I.League Hapus Regulasi Wajib Mainkan Pemain U23 Mulai Musim Depan
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Pramono Ungkap Alasan CFD di Rasuna Said Efektif 1 Juni, Singgung Fasilitas
• 18 jam laludetik.com
thumb
Lestari Moerdijat Dorong Pemerataan PAUD Wujudkan Wajib Belajar 13 Tahun
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pembajak Buku Bunuh Intelektual Indonesia
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Tanggapi Pernyataan Prabowo, Kanang Kritik Dampak Pelemahan Rupiah
• 21 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.