Pembajak Buku Bunuh Intelektual Indonesia

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Buku-buku laris Indonesia digandakan secara ilegal dan dijual bebas jaringan pembajak dari lapak fisik hingga toko daring. Praktik yang berlangsung bertahun-tahun itu tak hanya merusak industri perbukuan karena merampas hak ekonomi penulis dan mengancam eksistensi penerbit. Namun, praktik itu juga mengancam intelektualisme di Indonesia.

Salah satu korban dari pembajakan buku ini adalah Maman Suherman, seorang penulis buku. Di pasar buku bajakan, buku Maman berjudul Re: dan Perempuan dijual antara Rp 4.000 sampai Rp 8.000 per buku.  Ia merasa penjualan buku bajakan itu melecehkan kerja intelektualnya.  ”Sebagai penulis saya sedih,” kata Maman di Jakarta, Selasa (14/3/2026).

Maman pernah melaporkan pembajakan bukunya ke penerbit. Namun, lama-kelamaan, ia kelelahan melawan pembajak buku. Pasalnya, begitu dilaporkan, muncul lagi pembajak baru dengan identitas baru.

Rantai bisnis

Investigasi Kompas mengungkap, pembajakan buku di Indonesia dijalankan melalui rantai bisnis yang melibatkan bandar atau agen buku, percetakan, operator percetakan, sales, hingga penjual di lapak fisik dan daring.

Kompas, antara lain, mendatangi kawasan Kalibaru di Senen, Jakarta Pusat, yang diduga kuat sebagai lokasi produksi buku bajakan. Di kawasan ini, Kompas bertemu Andre (38), nama lain seorang desainer grafis dan layouter lepas. Dalam rantai bisnis pembajakan buku, Andre bertugas membuat master file buku bajakan sebelum dicetak.

Di layar monitornya, Andre, Selasa (7/4/2026), memperlihatkan puluhan master file buku bajakan buatannya yang tersimpan dalam penyimpanan awan (cloud storage) Google Drive. Salah satu yang ia perlihatkan adalah master file buku bajakan berjudul Dark Psychology karya Novita WD.

Paling sering Andre menerima pesanan dari Ana, nama lain pemilik percetakan di kawasan Kalibaru. Siang itu, Andre menerima panggilan telepon Ana yang memintanya membuat master file buku Prinsipil Ekonomi karya Ferry Irwandi. Ana membatasi interaksi dengan orang lain sejak tersangkut kasus pembajakan buku Oktober 2025. Namun, ia tetap menjalin komunikasi dengan jaringan pembajak buku.

Sosok bandar seperti Ana tidak bekerja sendirian. Setelah memutuskan proyek buku bajakan, bandar bekerja dengan desainer, percetakan, dan pedagang pengecer di toko fisik maupun daring. Kompas juga menemui Ripto, bandar buku bajakan di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Kompas berpura-pura membeli 100 eksemplar buku berjudul Reset Indonesia untuk dijual kembali. Pasalnya, versi bajakan buku itu banyak beredar di pasaran. Siang itu, Ripto hanya punya 20 stok di kiosnya, kekurangan stok akan dipenuhi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Ripto memiliki akses ke percetakan di kawasan Kalibaru. Ini membuat Ripto bisa mendapatkan buku yang dicari dalam hitungan hari. Di kalangan penjual buku, nama Ripto cukup terkenal seperti pengakuan Munaseh. Ia beberapa kali memesan buku bajakan lewat Ripto yang agresif menawarkan buku-bukunya di toko daring.

Kompas melacak jejak Ripto ke toko buku di Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Yani, nama lain penjual buku bekas di sana, menyebut para pedagang buku sering membeli buku bajakan ke toko A_plusbookXXXXX, milik Ripto. Saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026), Ripto membantah bahwa pedagang buku membeli dari tokonya. Namun, ia membenarkan namanya dikenal di kalangan pedagang buku. ”Dulu (toko saya) paling komplet. Tapi sejak pandemi, sudah tidak,” ujarnya.

Baca JugaPembajakan Buku Tak Terkendali, Bagaimana Masa Depan Literasi?

Selain Ripto, nama lain yang dikenal sebagai bandar buku bajakan adalah Suwarno alias Paimin. Di kalangan penjual buku, Suwarno dikenal sebagai bandar senior di Pasar Senen, Jakarta. Selain dari Jakarta, Suwarno memasok buku-buku bajakan dari Surabaya, Semarang, Solo, hingga Yogyakarta. ”Kalau di Jakarta, ya, dari Kalibaru (produksinya),” kata Suwarno.

Suwarno biasa menyuplai buku bajakan ke Blok M Square, Jakarta Selatan, seperti diungkapkan Ali, nama lain penjual buku bajakan di Blok M Square. Tahun 2025, keduanya terjerat kasus pelanggaran hak cipta karena mengedarkan buku bajakan berjudul Sirah Nabawiyah terbitan Aqwam Jendela Ilmu. Nama mereka terungkap setelah Polda Metro Jaya menangkap seorang penjual buku daring yang memasarkan Sirah Nabawiyah. Ali berperan sebagai perantara buku ke penjual itu, sedangkan bukunya didapat dari Suwarno. ”Saya biasanya ambil buku di Suwarno Rp 15.000,” ujar Ali di kawasan Blok M.

Dijual bebas

Untuk mendapatkan gambaran tentang skala pembajakan buku, Kompas mendatangi sejumlah pasar buku di Jakarta, yaitu Blok M, Senen, Kwitang, hingga toko daring di dalam dan luar negeri. Ternyata, buku bajakan dijual terang-terangan, baik di toko buku fisik maupun daring. Mereka tak segan menawarkan buku bajakan yang diklaim asli kepada pembeli, seperti yang terjadi kawasan Senen, Kwitang, dan Blok M.

Di kawasan ini, pedagang menjual buku-buku bajakan yang laris di pasaran, seperti buku Reset Indonesia, Filosofi Teras, dan sejumlah buku lain. Di Kwitang, Kompas berpura-pura membeli buku 100 eksemplar. Seorang calo menyanggupi, tetapi tidak bisa langsung menyediakan sejumlah permintaan tim. ”Kalaupun ada, saya gak akan kasih langsung 100,” kata Nando, calo buku di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026).

Situasi serupa terlihat di pasar buku Blok M dan Senen. Di kawasan itu sejumlah toko memajang buku-buku bajakan. Mereka agresif menawarkan buku-buku kepada pengunjung dengan harga murah. Di pasar daring, akun Instagram bernama ”XXXXrigenz” di media sosial menjual e-book Filosofi Teras lewat tautan daring. Setelah transaksi menggunakan QRIS, akun itu membagikan folder berisi e-book bajakan melalui Google Drive senilai Rp 3.000.

Hasil pelacakan metadata dengan perangkat pemrograman exiftool, file PDF itu dibuat 29 Maret 2019, empat bulan setelah Filosofi Teras pertama kali terbit. Dokumen itu dibuat menggunakan aplikasi CamScanner, artinya pembuat terindikasi memotret satu per satu halaman buku asli, lalu mengedit ulang teks menggunakan aplikasi iText.

Lebih murah dari kopi

Praktik pembajakan ini memukul semangat para penulis. Henry Manampiring kecewa bukunya dihargai lebih murah dari segelas kopi kekinian. Bukunya berjudul Filosofi Teras yang bertahun-tahun menjadi salah satu buku terlaris Indonesia beredar di toko daring dalam bentuk PDF seharga Rp 3.000 hingga Rp 10.000. ”Nafkah banyak orang di industri itu dicuri pembajak buku,” kata Henry, Senin (13/4/2026) di Jakarta.

Kepala Perpustakaan Nasional E Aminudin Aziz menegaskan, pembajakan buku adalah bentuk pelecehan terhadap karya intelektual penulis. Selain hak ekonomi atas karyanya, penulis juga berhak mendapat penghargaan, antara lain, dengan dibaca karya-karya orisinilnya. ”Menulis itu perlu kreativitas dan perjuangan. Jadi kalau kemudian karya mereka dibajak dan dicuri, pasti timbul ketidaknyamanan. Ada perasaan seperti dilecehkan atau dinistakan,” tegasnya.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur bahwa setiap orang yang melakukan penerbitan, penggandaan, pendistribusian, dan pengumuman yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, diganjar hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 4 miliar. Hanya saja, aturan ini berlaku apabila pemegang hak cipta membuat pengaduan.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arys Hilman Nugraha menilai hukum pelanggaran hak cipta di Indonesia belum mendukung industri kreatif perbukuan. Pada 2019, Ikapi pernah menerima laporan tentang pelanggaran hak cipta dari 11 penerbit dengan potensi kerugian Rp 116 miliar. ”Kalau penerbit tidak mengadukan, tidak ada tindak kejahatan. Sementara, tidak semua penerbit punya kemampuan melakukan ini,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hilal Bulan Dzulhijjah Tampak Di Lamongan, 12 Titik Lain Di Jatim Tertutup Mendung
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Karnaval SCTV 2026 Dongkrak Ekonomi Warga Jember
• 5 jam lalueranasional.com
thumb
8 Poin dari Bea Cukai soal Heboh Pemeriksaan Kartu Pokemon di Soetta
• 6 jam laludetik.com
thumb
Timnas Indonesia Dapat Kabar Gembira, Striker 196 Cm Ini Disebut Siap Bela Timnas Indonesia
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Tetapkan Iduladha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.