Hari-Hari Terakhir Gletser di Puncak Jaya

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Selama 44 tahun terakhir, lapisan es di Puncak Jaya, Papua telah menyusut hingga 97 persen. Fenomena El Nino yang melanda tahun 2026 ini bisa mempercepat hilangnya lapisan gletser tropis terakhir di Benua Asia ini.

Penelitian terbaru Francine Hematang dari Fakultas Kehutanan, Universitas Papua dan tim di jurnal Cold Regions Science and Technology pada April 2026 menyelidiki perubahan luas gletser di Puncak Jaya sebagai respons terhadap isu perubahan iklim global yang sedang berlangsung.

Dalam kajian tersebut, Hematang menggunakan seri citra satelit Landsat 2–9 untuk melihat dinamika perubahan gletser menggunakan metode digitalisasi di layar.

Temuan penting kajian ini yakni gletser tropis Papua bertahan hingga tahun 2024, tapi mencair dan menghilang lebih cepat dari yang diprediksi peneliti sebelumnya. Hasil menunjukkan luas gletser berkurang sebesar 7,28 kilometer persegi (km2) atau 97 persen dalam lebih dari 44 tahun.

Pada tahun 1980, gletser Puncak Jaya dan Idenburg meliputi 7,46 km2 dan kemudian berkurang jadi 0,19 km2 pada 2024. Riset juga menunjukkan hanya dua gletser tersisa yakni Gletser Carstensz dan Gletser East Firn Northwall. Empat lainnya yaitu Gletser Ngga Pilimsit, Meren, Gantung Southwall, dan Gletser Firn West Northwall menghilang.

Pada tahun 2024, Gletser Carstensz hanya meliputi area seluas 0,050 km2 dan Gletser East Firn Northwall seluas 0,136 km2. Temuan penting lainnya yakni Gletser East Firn Northwall diprediksi menghilang lebih cepat pada tahun 2028–2029 dibandingkan Gletser Carstensz pada tahun 2029–2030.

Jika gletser ini menghilang, maka Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang telah kehilangan semua gletsernya. Hilangnya gletser atau lapisan es di Puncak Jaya ini merupakan kehilangan besar bagi dunia.

Baca JugaAlarm Bahaya dari Menyusutnya Es di Bumi

Es di Puncak Jaya merupakan keajaiban alam karena lokasi es di wilayah khatulistiwa, pada garis lintang selatan, yaitu hanya 4 derajat. Wilayah ini biasanya dicirikan oleh hutan hujan tropis yang rimbun dengan suhu rata-rata di permukaan tanah hampir konstan 28 derajat celcius.

Tingginya gunung ini membuat suhu di puncak cukup dingin, sehingga tidak hanya memungkinkan terjadinya hujan salju, tetapi juga gletser untuk tumbuh dan berkembang. Suhu udara diketahui akan turun sebesar 0,65 - 1 derajat celcius untuk setiap ketinggian 100 meter.

Dengan ketinggian 4.884 meter dari permukaan laut, suhu di Puncak Jaya bisa di bawah titik beku. Selama ribuan tahun, akhirnya terbentuk lapisan es, setidaknya hingga saat ini. Namun, hasil studi terbaru tersebut menunjukkan saat ini es di Puncak Jaya memasuki hari-hari terakhirnya.

Pengaruh El Nino

Kenaikan suhu global secara langsung berkontribusi pada pencairan gletser global. Bagi gletser Indonesia, hal ini ditandai dengan tahun-tahun El Niño.

Bagi Papua, kondisi jadi kering dan hangat selama El Niño, berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan lebih banyak pencairan. Keduanya bisa menjadi malapetaka, terutama bagi gletser kecil.

El Niño Southern Oscillation (ENSO) adalah fenomena iklim global yang ditandai pola cuaca bergantian antara kondisi La Niña dan El Niño yang memengaruhi tiap wilayah planet ini dengan cara berbeda. Di Indonesia, kondisi El Niño secara dramatis meningkatkan pencairan gletser.

"Bagi Papua, kondisi jadi kering dan hangat selama El Niño, berarti lebih sedikit salju di dataran tinggi dan lebih banyak pencairan. Keduanya bisa menjadi malapetaka, terutama bagi gletser kecil," kata Mike Kaplan, ahli geologi di Lamont-Doherty Earth Observatory, bagian Columbia Climate School, dirilis Earth Institute-Columbia University, Rabu (14/5/2026).

Kaplan telah mempelajari sejarah gletser, iklim, dan bentang alam masa lalu. Selama peristiwa El Niño antara tahun 2015 dan 2016, gletser Indonesia mengalami dampak yang besar.

" Pemanasan menyebabkan ketinggian lapisan beku meningkat, yang berarti lebih banyak curah hujan turun sebagai hujan daripada salju, yang mempercepat pencairan, alih-alih menyehatkan gletser," kata Donaldi Permana, peneliti iklim yang memimpin pemantauan gletser di BMKG, badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika Indonesia.

Dalam wawancara dengan GlacierHub, Permana menjelaskan bagaimana laju penipisan vertikal meningkat dari sekitar 1,0 m per tahun menjadi 5,3 m selama peristiwa El Niño 2015–16—peningkatan hampir lima kali lipat.

Wawancara sebelumnya dengan Kompas, Permana juga memperingatkan, es di Puncak Jaya telah menurun signifikan, baik luasan maupun ketebalan esnya. Bahkan, dia memprediksi, tahun 2026 ini bisa menjadi tahun terakhir keberadaa es di Puncak Jaya.

Serial Artikel

Gletser Bumi Menyusut Drastis, Es di Papua Diprediksi Lenyap Tahun Ini

Gletser di berbagai belahan dunia menyusut karena pemanasan global, termasuk di Puncak Jaya, Papua, yang diprediksi lenyap tahun ini.

Baca Artikel

Permana dan timnya menggunakan inti es yang diambil pada tahun 2010 untuk meninjau variabilitas iklim di daerah tersebut selama setengah abad terakhir. Inti es sepanjang 32 meter tersebut mengungkapkan efek ENSO selama periode waktu ini.

Tim tersebut menyimpulkan bahwa tren linier positif yang signifikan dari penurunan es diselingi oleh El Niño dan mereka memodelkan kehilangan es di masa depan berdasarkan tren ini.

" Pemodelan dan pengamatan terbaru menunjukkan penurunan yang fatal. Luasnya berkurang dari sekitar 19,3 km² pada tahun 1850 menjadi hanya sekitar 0,16–0,23 km² pada tahun 2022–2024," kata Permana.

Hal itu berarti gletser menyusut dari ukuran sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya 40 lapangan. Ia memperingatkan, beberapa model menunjukkan gletser bisa menghilang dalam satu tahun ke depan.

" Dengan meningkatnya kemungkinan El Niño yang kuat pada paruh kedua tahun 2026, hilangnya gletser Indonesia kemungkinan akan terjadi pada tahun 2026–2027," kata dia.

Tak bisa diselamatkan lagi

Kaplan mengatakan, nasib es di Puncak Jaya, Papua, amat sulit diselamatkan lagi. Bahkan jika hari ini, kita secara ajaib bisa menghentikan peningkatan gas rumah kaca, suhu global akan terus meningkat beberapa tahun karena Bumi butuh waktu mencapai keseimbangan.

“ Dalam skenario hipotetis seperti itu, pemanasan mungkin masih berlanjut hingga tahun 2030….Bahkan dalam kondisi saat ini, yaitu, jika kita menstabilkan emisi CO2, kemungkinan besar terlalu hangat dan kering bagi gletser-gletser ini untuk tetap ada, terutama jika terjadi tahun El Niño yang kuat,” ungkapnya.

Tak hanya di kawasan tropis, gletser di berbagai belahan Bumi saat ini menyusut dengan kecepatan mengkhawatirkan, dengan riset di jurnal Nature Reviews Earth & Environment, April 2026, lalu mengungkapkan tahun 2025 termasuk di antara tahun-tahun terburuk yang pernah tercatat untuk kehilangan es global.

Studi ini memberikan penilaian global terbaru tentang perubahan massa gletser atau lapisan es di dunia. Studi yang ditulis Michael Zemp dan para ilmuwan lain anggota World Glacier Monitoring Service (WGMS) ini menunjukkan tren percepatan yang didorong oleh kenaikan suhu.

Temuan ini mengungkapkan, gletser di seluruh dunia kehilangan sekitar 408 gigaton es pada tahun 2025, menandai tahun terburuk keenam sejak pencatatan dimulai pada 1975. Dekade terakhir menyaksikan percepatan dramatis kehilangan es, dengan kehilangan tahunan hampir empat kali lebih tinggi daripada yang diamati pada akhir abad ke-20.

Peneliti Monash University, Levan Tielidze, dari Monash School of Earth, Atmosphere and Environment dan Securing Antarctica's Environmental Future (SAEF), yang turut dalam studi tersebut menggarisbawahi skala dan urgensi penurunan gletser yang sedang berlangsung.

“Gletser adalah salah satu indikator perubahan iklim yang paling jelas, dan kita sekarang menyaksikan hilangnya es global yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Tielidze.

Menurut dia, fakta bahwa enam tahun dengan kehilangan es paling ekstrem semuanya terjadi dalam tujuh tahun terakhir menyoroti betapa cepatnya sistem ini berubah.

“ Perubahan ini tidak hanya membentuk kembali lanskap pegunungan, tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap kenaikan permukaan laut global dan memengaruhi sumber daya air bagi jutaan orang,” kata dia.

Gletser tropis termasuk yang pertama punah karena ukurannya yang lebih kecil. Musim dingin yang lebih panjang dan lebih dingin di lintang yang lebih tinggi seringkali melestarikan gletser di sana, menunda penyusutan.

Namun menghilangnya gletser tropis di Puncak Jaya ini berfungsi sebagai peringatan bagi gletser di seluruh dunia. Hanya soal waktu sebelum gletser-gletser lain di berbagai belahan dunia bakal mengalami nasib sama, dan warga yang terkait dengannya merasakan dampak hilangnya gletser-gletser tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Periksa Muhadjir Effendy Terkait Korupsi Kuota Haji, Ini Alasannya!
• 15 menit lalurctiplus.com
thumb
Kemendagri dan Garuda TV Siapkan Penghargaan untuk Pemda Berprestasi 2026
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bantargebang Kini Disebut Jadi “Bom Waktu” bagi Jakarta
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Penuh Haru dan Nostalgia, Konser 20 Tahun Sammy Simorangkir Digelar Meriah
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Menkomdigi Tegaskan Tak Ada Transfer Data Kependudukan Indonesia ke AS
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.