Beirut: Sedikitnya tujuh orang tewas akibat serangan militer Israel di Lebanon pada Minggu, 17 Mei 2026, termasuk seorang komandan kelompok Jihad Islam dan dua anak-anak.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata antara kedua pihak.
Dikutip dari Arab News, Senin, 18 Mei 2026, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan tiga orang tewas di kota Tayr Felsay, termasuk seorang anak, sementara dua korban lainnya tewas di Tayr Debba yang juga merenggut nyawa seorang anak-anak.
Sebanyak 11 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.
Kantor berita National News Agency (NNA) menyebut serangan rudal Israel sekitar tengah malam menghantam sebuah apartemen di pinggiran Baalbek, Lebanon timur.
Serangan itu menewaskan komandan Jihad Islam Wael Abdel Halim beserta putrinya yang berusia 17 tahun.
Meski gencatan senjata masih berlaku, militer Israel dilaporkan terus melancarkan serangan di wilayah Lebanon selatan dan rutin mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil. Dua serangan udara lain juga menghantam kota Sohmor di lembah Bekaa.
Tak lama kemudian, militer Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi untuk empat desa di dekat kota pesisir Sidon, sebelum tiga desa di antaranya dibombardir. Netanyahu Soroti Ancaman Drone Hizbullah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pasukannya terus mempertahankan wilayah pertahanan untuk melindungi warga Israel. Ia juga mengakui militer Israel tengah menghadapi tantangan serius menghadapi drone FPV (First-Person View) yang digunakan Hizbullah.
“Kami menghadapi tantangan untuk menetralisir drone FPV,” ujar Netanyahu saat rapat kabinet.
Ketegangan terbaru ini terjadi setelah Israel dan Lebanon merampungkan putaran ketiga negosiasi di Washington terkait perpanjangan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Namun, Hizbullah menolak keras jalur negosiasi tersebut.
Anggota parlemen Hizbullah, Hussein Hajj Hassan, menyebut perundingan langsung dengan Israel hanya akan membawa Lebanon pada “jalan buntu” dan memicu konsesi demi konsesi.
Menurutnya, tidak ada pihak yang dapat memenuhi tuntutan Israel, terutama terkait desakan pelucutan senjata kelompok perlawanan.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah juga mengecam usulan pembentukan jalur keamanan yang difasilitasi AS dan menyebutnya sebagai bentuk konsesi gratis bagi Israel.
Kelompok itu mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap target militer Israel di wilayah utara.
Hingga kini, pasukan Israel masih menduduki sejumlah wilayah dekat perbatasan Lebanon.
Data pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 2.900 orang tewas sejak perang pecah, termasuk lebih dari 400 korban jiwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April lalu. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Israel Tetap Serang Lebanon Meski Gencatan Senjata Diperpanjang, Tujuh Orang Tewas




