Film Indonesia kian mendapat perhatian di platform streaming global. Netflix mencatat sebanyak 35 judul Indonesia masuk dalam daftar Global Top 10 Non-English hingga Januari 2026, seiring meningkatnya minat penonton terhadap cerita lokal.
Hal itu diungkap dalam laporan The Netflix Effect yang dirilis Netflix. Laporan ini menyoroti dampak ekonomi, budaya, dan sosial dari film dan serial Netflix di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Secara global, Netflix menyebut telah berkontribusi lebih dari US$ 325 miliar terhadap ekonomi dunia dalam satu dekade terakhir. Dalam periode yang sama, perusahaan menginvestasikan lebih dari US$ 135 miliar untuk memproduksi film dan serial, menciptakan lebih dari 425 ribu lapangan kerja, serta melibatkan lebih dari 700 ribu pekerja tambahan di berbagai lokasi produksi di dunia.
Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, mengatakan Netflix kini memproduksi film dan serial di lebih dari 4.500 kota dan wilayah di lebih dari 50 negara. “Setiap produksi Netflix adalah produksi lokal, yang turut menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan bisnis setempat, serta menghadirkan dampak yang jauh melampaui layar,” ujar dia dalam keterangan pers, akhir pekan lalu (15/5).
Netflix juga mencatat perubahan besar dalam pola konsumsi tontonan global. Jika 10 tahun lalu konten non-Bahasa Inggris hanya menyumbang kurang dari 10% total konsumsi tontonan di Netflix, kini porsinya telah meningkat menjadi lebih dari sepertiga.
Di Indonesia, lebih dari 90% anggota Netflix tercatat menonton konten lokal sepanjang 2025. Sejumlah judul Indonesia bahkan berhasil masuk daftar Global Top 10 Netflix kategori Non-English.
Film zombie Indonesia Abadi Nan Jaya (2025) misalnya, meraih lebih dari 11 juta penayangan hanya dalam beberapa hari setelah dirilis. Film tersebut menduduki posisi pertama Global Top 10 dan masuk daftar Top 10 di 75 negara.
Sementara itu, serial drama periode Gadis Kretek (2023) mencatat 1,6 juta penayangan dalam sepekan dan masuk Global Top 10 Netflix. Film thriller aksi The Shadow Strays (2024) juga berhasil masuk Top 10 di 85 negara dalam waktu satu minggu setelah dirilis.
Adapun film Luka Makan Cinta (2026) yang menggabungkan unsur romansa, kuliner, dan lanskap Bali mencapai posisi keenam Global Top 10 dengan sekitar 2,4 juta penayangan, serta masuk Top 10 di 30 negara.
Sutradara Lucky Kuswandi menilai keberagaman audiens di Netflix memberi ruang lebih luas bagi sineas untuk mengeksplorasi cerita dan genre.
“Bagi sineas Indonesia, ekosistem ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan dan memperkuat berbagai suara, sekaligus memungkinkan terciptanya hiburan yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu menantang dan mempertanyakan norma serta kondisi yang sudah ada,” kata dia.
Popularitas konten Indonesia juga disebut memicu percakapan mengenai budaya lokal di tingkat internasional. Abadi Nan Jaya misalnya, mengangkat unsur budaya Indonesia melalui tanaman kantong semar dan minuman tradisional jamu. Proses syuting di Yogyakarta turut membuat sejumlah lokasi dalam film ramai dibicarakan di media dan komunitas online.
Sementara itu, Gadis Kretek disebut kembali mengangkat perhatian terhadap kebaya janggan dan mendorong minat penonton mengunjungi Museum Kretek serta Museum Kereta Api Ambarawa setelah serial tersebut tayang.
Di sisi lain, laporan Media Partners Asia (MPA) dan platform pengukurannya, AMPD, menunjukkan pasar video on demand (VOD) premium Asia Tenggara tumbuh pesat sepanjang 2025.
Jumlah pelanggan VOD premium di Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura meningkat 19% secara tahunan menjadi lebih dari 61 juta pelanggan berbayar. Indonesia menjadi kontributor utama pertumbuhan pelanggan baru dan jam menonton di kawasan.
MPA mencatat kuartal IV 2025 menjadi momen pertama ketika konten lokal Indonesia mencapai kesetaraan dengan konten Korea dalam jumlah penonton VOD premium, masing-masing sebesar 30%.
Analis Utama dan Kepala Wawasan MPA dan AMPD, Dhivya T, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perubahan struktural dalam konsumsi konten di Indonesia. “Indonesia menonjol tahun ini, dengan judul-judul lokal bersaing langsung dengan drama Korea di puncak peringkat VOD premium,” ujar dia dalam keterangan pers berbeda.
Menurut dia, peningkatan kualitas konten, distribusi yang lebih kuat, dan meningkatnya kepercayaan penonton terhadap cerita lokal menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan tersebut.




