“Busana modest adalah untuk semua orang. Ini bukan pembatasan, melainkan pilihan sadar yang kita tampilkan dengan martabat.”
oleh Anna Mason & Arsh Sarao
Di tengah dunia mode yang dipenuhi pakaian terbuka dan provokatif, Rebecca Lord tampil berbeda.
Blogger “modest fashion” berusia 32 tahun sekaligus ibu rumah tangga ini, dengan gaun andalannya berupa rok mengembang penuh dan atasan berlengan yang rapi, menginspirasi banyak orang untuk membuat pilihan sadar tentang cara mereka berpakaian dan merepresentasikan diri.
“Feminitas sejati bagi saya adalah sifat alami dan mendasar yang ditempatkan Tuhan dalam diri seorang wanita,” kata Rebecca Lord kepada The Epoch Times. “Inilah yang membedakan wanita dari pria.”
Mrs. Lord adalah seorang seniman, perancang busana, blogger gaya vintage, dan model. Baginya, kesopanan adalah “kemurnian pikiran dan tindakan yang tidak membangkitkan pikiran tidak senonoh pada orang lain.” Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Desainer muda tersebut mulai membagikan perjalanan busana modest-nya secara daring pada tahun 2016, menginspirasi wanita lain untuk berpakaian lebih feminin. Courtesy of Maxim and Rebecca LordDesainer muda tersebut mengatakan bahwa nilai-nilai tradisional kewanitaan seperti kelembutan, kasih sayang, dan rasa peduli, serta perbedaan alami antara pria dan wanita yang saling melengkapi, kini mulai dilupakan.
Selain menghapus “keunikan individu,” menurut Rebecca, mode modern dengan gaya uniseks cenderung menyamakan kedua gender dengan mengaburkan batas antara pria dan wanita.
Rebecca mengakui bahwa keyakinan dan pola asuh keluarganya sangat memengaruhi cara ia berpakaian. Ia merasa optimistis ketika melihat banyak perempuan muda mulai memilih busana modest yang feminin dibanding pakaian minim yang mencari perhatian.
Menurutnya, seseorang tidak perlu menganut agama tertentu untuk mengenakan gaya berpakaian yang elegan, anggun, dan tidak provokatif.
“Busana modest adalah untuk semua orang,” katanya, seraya menambahkan bahwa dunia pada akhirnya akan memahami bahwa “busana modest bukanlah pembatasan, melainkan pilihan sadar yang kita tampilkan dengan martabat.”
Mrs. Lord percaya bahwa pakaian wanita harus menjunjung nilai “kesopanan, kesalehan, dan tidak provokatif.” Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Mrs. Lord bersama suaminya, Maxim Lord. Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Dibesarkan dengan Nilai-nilai TradisionalRebecca lahir di Kyiv, Ukraina, lalu pindah ke Israel bersama keluarganya saat remaja awal.
“Saya dibesarkan dalam keluarga religius oleh orang tua yang penuh kasih, yang menjadi contoh klasik maskulinitas dan feminitas secara sehat. Hal itu sangat memengaruhi cara pandang saya terhadap dunia, nilai moral, dan persepsi tentang peran gender,” ujarnya.
Ia belajar psikologi dan ilmu sosial di universitas, tetapi sejak lama mencintai dunia mode dan belajar menjahit secara otodidak. Selama sepuluh tahun ia merancang dan menjahit pakaian sendiri sebelum akhirnya mengikuti pendidikan formal di bidang tersebut.
Kini Rebecca telah menikah dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu yang tetap mencintai desain dan modeling busana.
Menurutnya, berpegang pada nilai-nilai tradisional yang baik adalah kunci kehidupan yang indah dan harmonis.
“Saya percaya kepada Tuhan,” katanya. “Keyakinan ini membantu saya terus berusaha memperbaiki karakter, tidak menyerah pada masa-masa gelap, dan tetap percaya pada kebaikan, kasih sayang, dan cinta.”
Ibu rumah tangga berusia 32 tahun itu mengatakan bahwa keyakinannya kepada Tuhan membuatnya tetap teguh dan memberinya kekuatan untuk hidup berdasarkan nilai-nilai “kebaikan, kasih sayang, dan cinta.” Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Mrs. Lord mengikuti serangkaian aturan dasar kesopanan dalam merancang busana yang benar-benar feminin. Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Aturan Dasar Busana ModestRebecca sangat dipengaruhi gaya berpakaian era Renaissance, Romantic, serta mode tahun 1950-an dan 1960-an. Ia fokus pada pakaian yang menonjolkan “kelembutan dan keindahan” wanita.
Menurutnya, pada masa-masa tersebut pakaian wanita masih memegang nilai “kesopanan, kesalehan, dan tidak provokatif.”
“Kesopanan bagi saya adalah perilaku yang bermartabat, tidak provokatif, serta kemurnian pikiran dan tindakan yang tidak memancing pikiran tidak senonoh pada orang lain,” ujarnya.
Gaya berpakaian Rebecca memang feminin dan kreatif, tetapi tetap mengikuti prinsip tertentu. Aturan busana modest versinya meliputi:
- garis leher tidak terlalu rendah,
- lengan di bawah siku,
- rok tidak memperlihatkan lutut,
- bahu, perut, dan punggung tertutup,
- tidak memakai kain transparan tanpa lapisan,
- serta tidak mengenakan gaun ketat seperti kulit kedua.
Paduan favoritnya adalah atasan pas badan berlengan dipadukan dengan rok A-line berlipit dan mengembang.
Menurut Rebecca, membangun lemari pakaian modest tidak harus mahal. Ia menyarankan para wanita mencari merek kecil yang fokus pada produksi berkelanjutan dan bahan alami, serta memanfaatkan toko barang bekas berkualitas.
Ketika berbicara tentang pakaian pria, Rebecca menyebut suaminya sebagai “contoh terbaik” gaya tersebut.
“Ia selalu berpakaian sangat stylish dan tetap sopan,” katanya.
Mrs. Lord sangat percaya bahwa cara seseorang berpakaian mencerminkan keadaan dunia batinnya. Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Ia mengatakan bahwa “keseluruhan penampilan seseorang lebih penting daripada kecantikan wajah dan bentuk tubuh.” Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Pakaian Mencerminkan Dunia BatinRebecca mulai membagikan perjalanan modest fashion-nya secara daring pada tahun 2016 melalui akun Instagram-nya, @rebecca_lord_art. Ia mengunggah busana bernuansa historis serta pakaian buatannya sendiri. Ia juga memulai blog pribadinya, RebeccaLordArt.
Banyak wanita merespons positif, meski ada juga yang menolak nilai-nilai tradisional yang ia usung.
Seiring waktu, Rebecca menyadari bahwa ia dapat membatasi pemikiran dan kontennya pada lingkaran orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Kini ia lebih sering menerima rasa kagum, ketertarikan, dan dukungan tulus.
Bagi Rebecca, berpakaian seperti ini bukan hanya mendorong orang lain bersikap lebih hormat dan santun, tetapi juga membantu pemakainya merasakan harmoni khusus dalam dirinya.
“Pakaian kita adalah cerminan dunia batin kita,” katanya. “Yang paling penting, Anda harus merasa selaras dengan pakaian Anda. Pakaian harus secara anggun menunjukkan preferensi dan prinsip hidup Anda … karena keseluruhan penampilan lebih penting daripada sekadar kecantikan wajah dan bentuk tubuh.”
Menurutnya, pakaian modest membuat pemakainya merasakan ketenangan dan harmoni yang khas dari dalam diri Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Kesopanan Bukanlah PembatasanMenurut Rebecca, nostalgia kini kembali menjadi tren. Ketertarikan pada film-film lama dan dongeng, munculnya gaya “cottage core,” serta romantisasi kehidupan rumah tangga yang sederhana menjadi tanda-tandanya.
Namun baginya, modest fashion bukan sekadar tren sesaat, melainkan memiliki makna lebih dalam.
Rebecca menilai banyak wanita mulai beralih ke pakaian yang lebih sopan karena kejenuhan terhadap tren mode terbuka pada era 1990-an dan 2000-an yang terlalu menonjolkan seksualitas.
Media sosial juga ikut membantu perkembangan modest fashion dengan memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang membagikan gaya dan visi pribadi mereka, yang kemudian menginspirasi orang lain.
Dalam salah satu tulisan blognya, Rebecca mengatakan bahwa “busana modest tidak lagi menjadi simbol penindasan atau kemunduran hak-hak perempuan.”
Sebaliknya, banyak wanita kini memilih pakaian yang lebih tertutup karena membuat mereka merasa “lebih nyaman dan percaya diri.”
“Sekarang wanita adalah pribadi yang memiliki pandangan hidup sendiri; sosok aktif yang menjalani kehidupan aktif, sehingga pakaiannya harus nyaman untuk kehidupan itu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa berpakaian modest memiliki banyak manfaat seperti “keindahan, misteri, sikap hormat dari orang lain, rasa aman, dan membantu wanita kembali terhubung dengan feminitasnya.”
“Saya benar-benar berharap mereka yang masih ragu akan terdorong untuk mulai melangkah dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam keinginan untuk tampil feminin dan sopan,” ujarnya.
Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Courtesy of Maxim and Rebecca Lord Courtesy of Maxim and Rebecca Lord




