IHSG Ambles 4%, Analis: Investor Asing Ramai-Ramai Tinggalkan Emerging Market

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Senin (18/5). Berdasarkan data RTI Business pukul 10.33 WIB, IHSG tercatat anjlok 288,024 poin atau 4,28 persen ke level 6.435,295.

Sebanyak 676 saham tercatat melemah, sementara hanya 70 saham menguat dan 67 saham stagnan.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan tekanan terhadap pasar saham RI tidak terjadi sendiri, melainkan juga dialami mayoritas negara berkembang atau emerging market.

“Ada juga potensi The Fed bakal kemungkinan tidak menurunkan suku bunga pada tahun ini atau malah ada kemungkinan naikin bunga karena data inflasi kemarin Amerika masih terus naik ke level 3,8% year-on-year,” ujar Gunarto kepada kumparan, Senin (18/5).

Menurut Gunarto, ekspektasi suku bunga tinggi AS membuat investor global mulai menarik dana dari pasar negara berkembang dan kembali masuk ke aset berbasis dolar AS.

“Dan berikutnya juga ada kemungkinan dari sisi harga minyak terus melonjak karena tensi geopolitik masih tinggi. Itulah kenapa investor global banyak keluar dari emerging market,” katanya.

Gunarto menjelaskan penguatan dolar AS membuat mata uang negara-negara Asia mengalami pelemahan. Kondisi itu kemudian memicu aksi profit taking di pasar saham.

“Mata uang utama Asia itu seluruhnya melemah terhadap dolar pada pekan lalu. Jadi wajar kalau terjadi profit taking di pasar saham terutama di emerging market seperti Indonesia,” ujarnya.

Meski IHSG berada di bawah tekanan, Gunarto menilai masih ada beberapa sektor yang relatif menarik untuk dicermati investor.

“Ya kita lihat ini sektor-sektornya, memang kalau kita lihat sektor kesehatan ternyata masih bisa bangkit ya,” katanya.

Dia juga menyebut sektor energi baru terbarukan, minyak dan gas, hingga komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara masih memiliki daya tarik di tengah kondisi global saat ini.

“Lalu juga sektor energi baru terbarukan saya rasa juga menarik. Terus juga sektor yang terkait dengan energi minyak, gas, terus juga sektor yang memang masih under value ya. Ininya nilainya seperti komoditas kelapa sawit ataupun juga batu bara,” ujarnya.

Selain itu, sektor berbasis kebutuhan domestik seperti pangan dinilai masih cukup defensif menghadapi tekanan pasar.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menilai pasar masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah terutama perang di Iran.

“Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz,” ujar Nafan.

Nafan mengatakan ancaman Presiden AS Donald Trump yang siap meningkatkan intensitas militer terhadap Iran semakin memperbesar kekhawatiran investor global.

“Apalagi ditambah ancaman Trump yang siap meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak sehingga hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh,” katanya.

Di sisi lain, pasar juga masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard maupun Small Cap Index.

Menurut dia, pergerakan rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp 17.597 per dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham domestik.

“Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per USD tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks,” katanya.

Katanya, pelaku pasar kini cenderung memilih posisi defensif sambil menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 20 Mei 2026 mendatang.

“Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi BI menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026. Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75% demi menjaga stabilitas Rupiah,” ujarnya.

Nafan pun mengingatkan investor agar lebih selektif dalam memilih saham dan disiplin menerapkan manajemen risiko di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waka Komisi III DPR Dukung Kapolda Metro Dijabat Komjen: Jangkauannya Luas
• 33 menit laludetik.com
thumb
Palang Rel Mati saat Tragedi Kereta Tabrak Bus di Bangkok
• 22 jam laludisway.id
thumb
Menkeu Purbaya Pastikan Anggaran Pertahanan Tak Ganggu Program Nasional
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Pangan Nasional Hari Ini 18 Mei: Cabai Rawit Merah Naik, Bawang Putih-Daging Sapi Turun Tajam
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
MK Dengarkan Keterangan Ahli Enam Pemohon Uji Materi KUHP
• 7 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.