REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp 17.600 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha. Ia menilai perlunya respons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel rupiah terus menciptakan level baru all-time low.
"Namun perlu dipahami tekanan ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas," ujar Shinta dalam keterangan yang diterima Republika di Jakarta, Senin (18/5/2026).
- Rupiah Terus Melemah Senin Pagi Sentuh Rp 17.658 per Dolar AS
- Rupiah 17.600 Alarm Serius, Pemerintah Diminta Jangan Anggap Remeh Dampaknya bagi Rakyat
- OJK Sebut Pelemahan Rupiah Bisa Pengaruhi Kinerja Keuangan Perbankan
Dia menyampaikan kenaikan yield US Treasury yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah mendorong terjadinya global capital reallocation menuju aset dolar AS. Shinta mengatakan kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow.
"Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," lanjut Shinta.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bagi dunia usaha, sambung dia, situasi ini dipandang sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Shinta menyebut pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
"Saat ini, sekitar 70 persen bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55 persen dalam struktur biaya produksi," sambung Shinta.
Dengan demikian, lanjut Shinta, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah. Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan.
Shinta memaparkan sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi. Sebagai contoh, kenaikan harga nafta yang merupakan bahan baku utama industri plastik telah meningkat signifikan dan mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen, yang kemudian berdampak berantai pada industri kemasan dan sektor hilir lainnya.
"Ini menunjukkan adanya cost-push inflation pressure yang tidak hanya terbatas pada satu sektor, tetapi memiliki efek transmisi yang luas ke seluruh rantai pasok," ungkap Shinta.
Di sisi lain, tekanan juga dirasakan dari aspek keuangan korporasi. Dia mengatakan penguatan dolar AS meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik dari sisi pembayaran bunga maupun pokok utang.
"Hal ini berdampak pada cash flow management dan meningkatkan profil risiko perusahaan," lanjutnya.
Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, Shinta mengatakan ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Hal tersebut kemudian menekan margin dan mempengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja.
"Menyikapi kondisi ini, dunia usaha pada dasarnya melakukan penyesuaian strategi ke arah yang lebih prudent dan risk-adjusted," ucap Shinta.
Shinta menyampaikan pendekatan yang saat ini banyak diambil adalah selective growth, di mana ekspansi tetap dilakukan tetapi secara lebih selektif dengan mempertimbangkan visibilitas permintaan, efisiensi biaya, serta kepastian return on investment. Sementara itu, investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda.
Dari sisi antisipasi, sambung dia, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Shinta mendorong penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing. Di sisi operasional, lanjutnya, fokus diarahkan pada efisiensi melalui rasionalisasi capex, optimalisasi working capital, serta peningkatan produktivitas.
"Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan, meskipun kami melihat kemampuan substitusi domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor," sambungnya.
Dengan kata lain, ucap dia, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini. Shinta menyebut tekanan eksternal masih cukup kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas ke depan sehingga sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial.
"Dunia usaha pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap peluang secara selektif. Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," kata Shinta.




