Logika Sumir Prabowo Anggap Kurs Lemah Tak Pengaruhi Desa

harianfajar
15 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR — Dampak pelemahan rupiah sangat terasa di desa. Tak seperti klaim Prabowo.

Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait kenaikan dolar hanya berdampak bagi mereka yang sering keluar negeri dianggap logika sumir. Dia terlalu meringkas problem kurs hanya dalam dikotomi pelancong ke luar negeri dan warga desa.

Di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang terus naik, ucapannya dianggap bertolak belakang dengan kenyataan yang dirasakan warga di lapangan. Masyarakat desa memang tidak memahami secara teknis soal kurs rupiah terhadap dolar. Namun, mereka merasakan langsung dampaknya melalui kenaikan harga barang di pasar.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan pangan, kebutuhan rumah tangga, hingga perlengkapan usaha kecil disebut terus mengalami kenaikan. Kondisi itu perlahan mulai menekan daya beli masyarakat pedesaan.

Warga mengaku penghasilan mereka tidak mengalami peningkatan signifikan, sementara kebutuhan sehari-hari terus membengkak. Situasi tersebut membuat banyak keluarga harus mengurangi jumlah belanja, bahkan menekan pengeluaran lain agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi.

Di sejumlah pasar tradisional di Sulsel, kenaikan harga paling terasa terjadi pada komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga. Harga minyak goreng, bawang merah, cabai, ayam potong, telur, hingga ikan naik bertahap.

Tidak hanya itu, beberapa produk juga mulai mengalami pengurangan ukuran tanpa penurunan harga. Bagi masyarakat desa, persoalan dolar memang tidak hadir secara langsung dalam transaksi sehari-hari. Mereka tidak membeli barang menggunakan mata uang asing.

Akan tetapi, banyak barang kebutuhan masyarakat ternyata dipengaruhi biaya distribusi, harga impor bahan baku, hingga ongkos produksi yang berkaitan dengan nilai tukar rupiah.

Kenaikan dolar juga berdampak pada sektor konstruksi dan distribusi barang. Harga semen, besi, hingga bahan bangunan mulai mengalami penyesuaian. Efek berantainya kemudian ikut mendorong kenaikan harga di sektor lain karena biaya transportasi dan distribusi meningkat.

Herawati (29), warga, Desa Teamalala, Kecamatan Ulaweng, Bone, mengatakan kondisi belanja rumah tangga kini jauh lebih berat dibanding sebelumnya. Uang yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur kini tidak lagi memadai.

Minyak goreng, bawang merah, hingga ayam potong menjadi barang yang paling terasa naik. “Kalau dulu bawa-ka uang Rp100 ribu ke pasar masih banyak bisa dibeli. Sekarang bawa Rp500 ribu saja belum tentu cukup,” katanya, Minggu, 17 Mei 2026.

Masyarakat sebenarnya tidak punya pilihan selain tetap membeli barang-barang tersebut karena semuanya merupakan kebutuhan pokok keluarga. Kondisi itu membuat pengeluaran rumah tangga makin sulit dikendalikan.

“Minyak sekarang sudah di atas Rp50 ribu, bawang merah juga mahal sekali. Ayam juga naik terus. Mau tidak mau tetap dibeli karena kebutuhan,” sambung Herawati.

Kenaikan harga saat ini jauh lebih terasa bagi warga desa karena sebagian besar masyarakat hanya bergantung pada penghasilan harian dan sektor pertanian. Ketika harga barang naik, kemampuan membeli masyarakat otomatis ikut turun.

Serba Naik

Sementara itu, Abd Samad Saleh (54), warga Baturappe, Kelurahan Biringbulu, Gowa, mengaku hampir seluruh kebutuhan dapur kini naik harga. Bahkan beberapa pedagang mulai mengurangi porsi agar harga jual tetap terlihat sama.

Kondisi itu makin menyulitkan masyarakat dengan penghasilan terbatas. Kenaikan harga ayam, ikan, telur, dan cabai sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Harga ikan yang biasa dijual keliling kini jauh lebih mahal dengan ukuran yang lebih kecil dibanding sebelumnya.

“Tempe memang tidak naik harganya, tapi ukurannya jadi kecil sekali. Ayam sekarang sampai Rp70 ribu, dulu masih sekitar Rp40 ribuan,” katanya.

Keluhan serupa datang dari Darmawati (39), warga Dusun Maccope, Desa Benteng Tellue, Kecamatan Amali, Bone. Perempuan yang menjalankan usaha minyak VCO rumahan itu mengaku kenaikan harga bahan kemasan membuat usahanya makin tertekan.

Harga botol plastik ukuran 100 mililiter yang sebelumnya hanya sekitar Rp3 ribu kini melonjak hingga Rp13 ribu per botol. Kenaikan itu membuat biaya produksi membengkak drastis.

Dia kesulitan menaikkan harga jual produk karena khawatir pembeli akan berkurang. “Jadi untungnya sangat sedikit sekarang,” kata Darmawati.

Warga berharap pemerintah lebih serius megawasi pasar dan distribusi barang agar kenaikan harga tidak terus terjadi. Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak ketika harga kebutuhan melonjak.

“Masyarakat maunya ada tindakan nyata, bukan hanya pernyataan yang menenangkan,” ujarnya.

Memang benar masyarakat desa tidak menggunakan dolar untuk bertransaksi. Tetapi, mereka justru jadi yang paling rentan terkena dampak. Di tengah kesulitan yang dihadapi masyarakat, pernyataan kontroversial bermunculan justru dari kepala negara.

Wahidah (55), ibu rumah tangga (IRT) asal Polewali Mandar, menyampaikan bahwa kenaikan harga barang yang sangat terasa bagi dirinya adalah harga bahan pokok. Cabai, bawang merah, beras hingga minyak goreng di desa justru lebih tidak terkontrol dibandingkan dengan di kota.

“Di sini biasa beda Rp10.000 harga lombok (cabai rawit dan merah besar), harga bawang merah bawang-putih, daripada di kota,” katanya.

Itu terjadi karena distribusi bahan pokok dari daerah produksi. Di sana bukan daerah produksi bawang atau cabai. Ia khawatir harga makin tinggi mengingat Iduladha sudah dekat.

“Bisa jadi minggu depan tambah naik lagi harganya karena mau Lebaran. Minyak goreng juga begitu,” sebutnya.

Rahmah (48) dari Bungi, Pinrang menyebut harga gas elpiji 3 kg kadang mengalami fluktuasi. Apalagi menuju hari Lebaran. Selain itu, belakangan harganya meningkat dan sulit mendapatkannya.

“Kalau di tempat yang agak jauh dari kota biasa kalau terlanjur susah didapat. Atau kalau ada, harganya beda Rp5.000 dibanding di tempat biasa,” akunya.

Pada peluncuran 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KMP) di Desa Ngelawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026, Prabowo menyentil kurs yang menyentuh Rp17.600 per USD.

“Mau dolar berapa ribu kek, kan, kalian di desa-desa nggak pakai dolar. Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri,” kata Prabowo. Pernyataan ini yang dianggap kurang peka dan merupakan konklusi sumir atas gejolak ekonomi saat ini. (uca-an/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga TBS Kelapa Sawit Kaltim Merangkak Naik Periode I Mei 2026
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Ketidakpastian di Pasar Saham Masih Tinggi, BEI Ingatkan Ini pada Investor
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Wagub Sumbar Alami Cedera Ringan Usai Kecelakaan: Terkilir dan Memar
• 1 jam laludetik.com
thumb
Urung Diulang! Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kalbar 2026 Dibatalkan, Ini Penjelasan MPR RI
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Gudang di Cengkareng Jakbar Terbakar, 19 Unit Damkar Dikerahkan
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.