Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memberikan sejumlah rekomendasi mitigasi risiko bagi industri terhadap dampak dari pelemahan atau depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Adapun nilai tukar rupiah pada Senin (18/6) pagi bergerak melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti saat dihubungi di Jakarta, Senin, mengatakan rekomendasi pertama bagi industri dalam memitigasi risiko ini adalah dengan perusahaan memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk melindungi arus kas dari fluktuasi kurs mata uang asing.
Esther menilai hal ini karena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara signifikan dapat menekan industri manufaktur, terutama industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Kondisi ini berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi, kenaikan inflasi impor (imported inflation), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha,” kata dia.
Baca juga: Ekonom nilai hilirisasi jadi kunci capai target investasi
Baca juga: Indef nilai insentif infrastruktur EV dan energi bersih pacu ekonomi
Lebih lanjut, ia juga merekomendasikan perusahaan atau industri untuk mulai mencari dan bermitra dengan pemasok lokal sebagai alternatif bahan baku impor, meskipun upaya ini diakui memiliki tantangan tersendiri.
“Rekomendasi selanjutnya adalah efisiensi dan pengendalian biaya operasional. Pelaku usaha melakukan efisiensi (cost cutting) seperti merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Esther.
Selain itu, ia juga menyarankan dunia industri dan usaha untuk mencoba bertransaksi dengan menggunakan mata uang lokal Local Currency Settlement (LCS) terhadap pembayaran perdagangan internasional.
“Semakin banyak perusahaan yang mencoba melakukan pembayaran perdagangan internasional dengan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Esther.
Baca juga: Indef yakin insentif elektrifikasi kendaraan investasi pacu ekonomi
Baca juga: Indef: "Swap currency" bantu stabilkan rupiah dalam jangka pendek
Adapun nilai tukar rupiah pada Senin (18/6) pagi bergerak melemah 33 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.630 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.597 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti saat dihubungi di Jakarta, Senin, mengatakan rekomendasi pertama bagi industri dalam memitigasi risiko ini adalah dengan perusahaan memperkuat penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk melindungi arus kas dari fluktuasi kurs mata uang asing.
Esther menilai hal ini karena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara signifikan dapat menekan industri manufaktur, terutama industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
“Kondisi ini berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi, kenaikan inflasi impor (imported inflation), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha,” kata dia.
Baca juga: Ekonom nilai hilirisasi jadi kunci capai target investasi
Baca juga: Indef nilai insentif infrastruktur EV dan energi bersih pacu ekonomi
Lebih lanjut, ia juga merekomendasikan perusahaan atau industri untuk mulai mencari dan bermitra dengan pemasok lokal sebagai alternatif bahan baku impor, meskipun upaya ini diakui memiliki tantangan tersendiri.
“Rekomendasi selanjutnya adalah efisiensi dan pengendalian biaya operasional. Pelaku usaha melakukan efisiensi (cost cutting) seperti merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Esther.
Selain itu, ia juga menyarankan dunia industri dan usaha untuk mencoba bertransaksi dengan menggunakan mata uang lokal Local Currency Settlement (LCS) terhadap pembayaran perdagangan internasional.
“Semakin banyak perusahaan yang mencoba melakukan pembayaran perdagangan internasional dengan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Esther.
Baca juga: Indef yakin insentif elektrifikasi kendaraan investasi pacu ekonomi
Baca juga: Indef: "Swap currency" bantu stabilkan rupiah dalam jangka pendek





