REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta, Ade Suherman mengapresiasi Jakarta Job Fair 2026 yang akan digelar Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta pada 19–20 Mei 2026 di Gedung Serbaguna Gelora Sunter, Jakarta Utara.
“Job fair seperti ini sangat penting karena membuka akses langsung pencari kerja dengan dunia industri. Namun paling utama bukan sekadar ramainya pengunjung, tetapi seberapa besar kegiatan ini benar-benar menghasilkan penyerapan tenaga kerja,” ujar Ade Suherman, akhir pekan lalu.
Kegiatan yang menghadirkan puluhan perusahaan dari berbagai sektor industri tersebut, dinilai menjadi langkah strategis pemerintah daerah (pemda) memperluas akses lapangan kerja dan menekan angka pengangguran di Jakarta.
Menurutnya, pelaksanaan job fair harus dibarengi penguatan program pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, serta peningkatan kualitas Balai Latihan Kerja (BLK) dan Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kita membutuhkan sistem link and match yang lebih kuat antara pelatihan kerja dengan kebutuhan industri. Jangan sampai perusahaan membutuhkan tenaga siap kerja, tetapi lulusan pelatihan belum terserap secara optimal,” katanya.
Ade juga mengapresiasi keterlibatan perusahaan dari berbagai sektor dalam Jakarta Job Fair tahun ini, termasuk adanya ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas dan pelaku UMKM melalui kegiatan pendukung seperti talkshow dan bazar usaha.
Menurutnya, pendekatan yang inklusif seperti ini penting untuk memastikan peluang ekonomi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Ade mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar tidak berhenti pada penyelenggaraan acara semata, tetapi juga memperkuat sistem monitoring dan evaluasi pascakegiatan. Data penyerapan kerja setelah job fair harus menjadi indikator utama keberhasilan program.
“Pemerintah perlu memastikan berapa banyak pencari kerja yang benar-benar diterima bekerja setelah job fair berlangsung. Outcome seperti itu yang harus menjadi fokus utama,” tegasnya.
Menurut dia, Jakarta membutuhkan tenaga kerja kompeten, adaptif, dan siap bersaing. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pelatihan harus terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi benar-benar menghadirkan kesempatan kerja bagi warga.