REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Beragam persoalan masyarakat perkotaan menjadi pembahasan dalam audiensi DPRD DKI Jakarta dengan organisasi kepemudaan, Jakarta Maju Bersama (JMB).
Di antaranya partisipasi warga, kesadaran generasi muda, hingga persoalan transportasi di Kepulauan Seribu. Audiensi tersebut berlangsung dalam suasana diskusi terbuka dan kolaboratif. JMB menyampaikan sejumlah aspirasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Khususnya kalangan anak muda dan warga di wilayah kepulauan.
Wakil Ketua DPRD Jakarta, Wibi Andrino menyambut baik kehadiran komunitas tersebut. JMB bukan organisasi baru dalam mengawal berbagai isu sosial dan pembangunan di Jakarta. Selama ini, relawan JMB disebut aktif menyuarakan persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Keterlibatan komunitas dan organisasi kepemudaan, kata Wibi, sangat penting membantu DPRD DKI memahami kebutuhan riil warga. Sebab, kebijakan dan pengawasan yang dilakukan DPRD harus sesuai kondisi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Kami di DPRD DKI Jakarta sangat amat tersanjung didatangi teman-teman JMB. Kolaborasi yang akan kami kerjakan ke depan mudah-mudahan bisa menjadi satu manfaat untuk masyarakat Jakarta,” ujar Wibi dalam keterangan yang dikutip Senin (18/5/2026).
Satu hal yang menjadi perhatian, membangun kesadaran masyarakat atas rasa memiliki Kota Jakarta. Menurut Wibi, warga menikmati hasil pembangunan sehingga perlu menjaga kota secara bersama-sama.
Ia menilai konsep good citizenship atau warga negara yang baik harus kuat di tengah masyarakat perkotaan yang kian dinamis. Kesadaran itu penting agar masyarakat memahami hak sekaligus kewajiban mereka sebagai warga Jakarta.
“Dan poin utamanya, bagaimana kita meraih awareness untuk membuat warga Jakarta menjadi good citizenship. Jadi warga Jakarta yang baik, memahami hak dan kewajibannya,” kata Wibi menegaskan.
Wibi juga menekankan pentingnya ruang kolaborasi DPRD dengan komunitas masyarakat. Seluruh anggota DPRD DKI membuka lebih banyak kanal komunikasi. Dengan begitu, aspirasi warga dapat terserap secara langsung.
Pendekatan kolaboratif, lanjut dia, membuat kebijakan dan penyusunan program lebih tepat sasaran. Sesuai kebutuhan masyarakat. Bukan hanya berdasarkan asumsi. “Sehingga kerja-kerja kita memang yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif JMB, Gana Ramadhan mengatakan, audiensi dilakukan untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini ditemui masyarakat Jakarta.
Menurut Gana, DPRD menjadi salah satu mitra strategis untuk mendorong penyelesaian masalah-masalah tersebut. Pihaknya melihat rekam jejak Wibi Andrino yang cukup aktif memperjuangkan kebutuhan warga Jakarta.
Karena itu, JMB berharap kolaborasi yang terbangun dapat menghasilkan solusi konkret bagi masyarakat. “Untuk menyampaikan permasalahan yang sedang dialami warga Jakarta,” kata dia.
Terkait peran anak muda, menurut Gana, memiliki pengaruh besar terhadap masa depan Jakarta. Sebab anak muda merupakan kelompok mendominasi populasi kota.
Membangun kesadaran sosial dan kepedulian anak muda sangat penting terhadap lingkungan perkotaan, kebijakan publik, hingga keberlangsungan kota. Selain partisipasi masyarakat dan generasi muda, audiensi membahas persoalan transportasi bagi warga Kepulauan Seribu.
Chief PR JMB, Hilmi Mulya Setiawan menyoroti tingginya biaya transportasi laut yang masih menjadi kendala bagi mobilitas masyarakat kepulauan. Menurut dia, warga Kepulauan Seribu masih bergantung pada kapal Dishub untuk menuju Jakarta daratan.
Namun biaya perjalanan dinilai cukup mahal bagi sebagian masyarakat. “Yang pertama mobilitas teman-teman, saudara-saudara kita di Pulau Seribu juga perlu sangat diprioritaskan ya,” kata dia.
Karena itu, JMB mengusulkan kajian layanan Transjakarta Laut yang lebih murah dan terjangkau. Usulan tersebut juga dapat mendorong sektor pariwisata di Kepulauan Seribu.
Selain biaya, Hilmi juga menyoroti sejumlah persoalan teknis yang masih dihadapi transportasi laut menuju Kepulauan Seribu. Mulai dari kelangkaan bahan bakar hingga jadwal kapal yang dinilai belum menentu.
“Supaya teman-teman saudara-saudara kita di Pulau Seribu juga bisa merasakan moda transportasi yang begitu murah Rp 3.500 tapi juga bisa mobilitas antarpulau gitu ya,” kata Hilmi.




