Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi faktor domestik dan global. Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.26 WIB, rupiah melemah 81,50 poin atau 0,47 persen ke level Rp 17.680 per dolar AS.
Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuabi menilai salah satu pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut masyarakat desa tidak terdampak pelemahan dolar ikut menjadi perhatian pelaku pasar.
Ibrahim menjelaskan ketika dolar AS menguat, dampaknya dapat merembet ke sejumlah sektor ekonomi, terutama kenaikan harga komoditas global dan impor energi.
“Kita tahu bahwa pada saat dolar mengalami penguatan, harga minyak mentah mengalami penguatan, kemudian berdampak terhadap impor minyak yang begitu besar 1,5 juta barel per hari,” kata Ibrahim kepada wartawan, Senin (18/5).
Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Sebab, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi arus modal, perilaku masyarakat dalam menyimpan aset, hingga beban impor.
Ibrahim mendorong pemerintah seharusnya lebih fokus pada upaya menjaga stabilitas ekonomi dan memberi arah kebijakan yang jelas kepada pasar.
“Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar posil, kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis agar rupiah ini kembali mengalami penguatan,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) Muhammad Syarkawi Rauf melihat pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan tingginya premi risiko atau risk premium Indonesia.
Ia mengacu pada pandangan ekonom senior dari MIT, Oliver Blanchard, yang menyebut investasi tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendapatan, melainkan juga dipengaruhi suku bunga dan premi risiko.
Menurut Syarkawi, sejak Januari 2026 Indonesia mengalami peningkatan persepsi risiko yang tercermin pada tingginya country risk premium sebesar 2,46 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding Malaysia sebesar 1,55 persen dan Thailand 2,07 persen.
Tak hanya itu, equity risk premium Indonesia juga mencapai 6,69 persen, lebih tinggi dibanding Malaysia sebesar 5,78 persen dan Thailand 6,30 persen. Tingginya persepsi risiko itu, kata dia, berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar dan pasar saham domestik.
Syarkawi menilai fenomena ini terlihat dari anomali pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Padahal, sejumlah indikator fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan, termasuk pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen atau tertinggi sejak 2023.
“Artinya, depresiasi ekstrem rupiah per dolar AS tidak dapat dicegah dengan indikator fundamental makro yang baik, khususnya selisih suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi antara Indonesia dengan AS,” kata Syarkawi.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan tingginya premi risiko perekonomian nasional dibanding semata persoalan fundamental ekonomi.
Syarkawi mendorong pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat komunikasi kebijakan yang lebih rasional dan teknokratis agar mampu menurunkan persepsi risiko pasar.
Menurutnya, pelaku pasar membutuhkan kepastian terkait arah kebijakan fiskal dan moneter, termasuk menjaga independensi Bank Indonesia agar kepercayaan investor tetap terjaga.





