Jakarta (ANTARA) - Peselancar longboard putri Indonesia Dhea Natasya menorehkan sejarah setelah menjuarai World Surf League (WSL) Longboard Qualifying Series (LQS) 1000 Hamamatsu Open 2026 di Hamamatsu, Jepang, Minggu.
Dikutip dari akun media sosial resmi Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) atau Surfing Indonesia, pencapaian itu membuat Dhea berhak tampil di turnamen dunia WSL Longboard Tour 2026/2027. Dia menjadi perempuan Indonesia pertama mencatatkan pencapaian itu.
"Dhea juga wanita Asia keempat (tiga sebelumnya dari Jepang) yang masuk ke jajaran elite longboarder putri dunia," sebut PSOI dalam unggahannya.
Pada pertandingan final di Pantai Nakatajima, Hamamatsu, Dhea mampu mencatatkan total 15,87 dari dua ombak terbaik. Jumlah itu tertinggi untuk sektor putri di kompetisi tersebut.
Dhea juga mengukir poin terbaik kompetisi untuk ombak tunggal yakni 8,67.
Baca juga: Tiga atlet surfing Indonesia lolos ke WSL Challenger Series
Dia secara luar biasa mengungguli dua peselancar putri Jepang yang masing-masing ada di posisi kedua dan ketiga yakni Hiroki Yoshikawa dan Yamaguchi Hana.
Prestasi tersebut menjadi yang kedua bagi peraih medali emas longboard putri di SEA Games 2019 itu di WSL.
Sebelumnya, pada Juli 2025, Dhea menjadi yang terbaik di WSL Longboard Qualifying Series Siheung Korea Open.
"Kemenangan ini (di Hamamatsu) menjadi yang kedua bagi saya di WSL. Saya sangat bahagia. Sekarang saya akan kembali ke rumah dan terus berlatih agar lebih siap untuk Longboard Tour," tutur atlet berusia 25 tahun itu, dikutip dari laman WSL.
Selain Dhea, peselancar longboard Indonesia Dhany Widianto juga menggoreskan prestasi apik di Hamamatsu dengan merebut runner-up LQS 1000 putra.
Dhany mengumpulkan total 12,96 poin terbaik dari dua ombak. Dia memberikan perlawanan sengit kepada sang juara Taka Inoue (Jepang) yang mengantongi total 13,36 poin terbaik dari dua ombak.
Baca juga: Demi Olimpiade, skateboarder Wayan Malana latihan fisik lewat surfing
Baca juga: Ombak yang mengetuk pintu dunia
Dikutip dari akun media sosial resmi Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) atau Surfing Indonesia, pencapaian itu membuat Dhea berhak tampil di turnamen dunia WSL Longboard Tour 2026/2027. Dia menjadi perempuan Indonesia pertama mencatatkan pencapaian itu.
"Dhea juga wanita Asia keempat (tiga sebelumnya dari Jepang) yang masuk ke jajaran elite longboarder putri dunia," sebut PSOI dalam unggahannya.
Pada pertandingan final di Pantai Nakatajima, Hamamatsu, Dhea mampu mencatatkan total 15,87 dari dua ombak terbaik. Jumlah itu tertinggi untuk sektor putri di kompetisi tersebut.
Dhea juga mengukir poin terbaik kompetisi untuk ombak tunggal yakni 8,67.
Baca juga: Tiga atlet surfing Indonesia lolos ke WSL Challenger Series
Dia secara luar biasa mengungguli dua peselancar putri Jepang yang masing-masing ada di posisi kedua dan ketiga yakni Hiroki Yoshikawa dan Yamaguchi Hana.
Prestasi tersebut menjadi yang kedua bagi peraih medali emas longboard putri di SEA Games 2019 itu di WSL.
Sebelumnya, pada Juli 2025, Dhea menjadi yang terbaik di WSL Longboard Qualifying Series Siheung Korea Open.
"Kemenangan ini (di Hamamatsu) menjadi yang kedua bagi saya di WSL. Saya sangat bahagia. Sekarang saya akan kembali ke rumah dan terus berlatih agar lebih siap untuk Longboard Tour," tutur atlet berusia 25 tahun itu, dikutip dari laman WSL.
Selain Dhea, peselancar longboard Indonesia Dhany Widianto juga menggoreskan prestasi apik di Hamamatsu dengan merebut runner-up LQS 1000 putra.
Dhany mengumpulkan total 12,96 poin terbaik dari dua ombak. Dia memberikan perlawanan sengit kepada sang juara Taka Inoue (Jepang) yang mengantongi total 13,36 poin terbaik dari dua ombak.
Baca juga: Demi Olimpiade, skateboarder Wayan Malana latihan fisik lewat surfing
Baca juga: Ombak yang mengetuk pintu dunia





