Serial K-Drama Perfect Crown Tuai Kontroversi, Adegan Penobatan Raja Picu Kritik Penonton

tabloidbintang.com
1 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Tim produksi drama Korea Perfect Crown akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi setelah menuai kritik terkait penggambaran sejarah Korea dalam serial tersebut. Kontroversi muncul karena ritual kerajaan era Joseon yang ditampilkan dinilai menggambarkan kerajaan Korea berada dalam posisi lebih rendah atau tunduk pada kekaisaran lain.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah pada akhir pekan lalu di situs resmi drama, tim produksi menyampaikan penyesalan kepada para penonton.

“Kami dengan tulus meminta maaf kepada banyak penonton yang telah mendukung drama ini atas kekhawatiran yang muncul terkait pembangunan dunia cerita dan akurasi sejarah,” tulis pihak produksi.

Kritik terutama mengarah pada adegan penobatan raja yang diperankan Byeon Woo-seok. Dalam adegan tersebut, karakter Pangeran Besar I-an naik takhta sambil mengenakan mahkota Guryu Myeonryugwan, sementara para pejabat kerajaan meneriakkan kata “Cheonse”.

Tim produksi mengakui kontroversi itu muncul karena kurangnya kajian mendalam mengenai perkembangan ritual dan etiket istana Joseon.

Mereka juga memastikan bahwa bagian yang dipermasalahkan akan direvisi untuk penayangan berikutnya.

“Kami menerima kritik penonton dengan rendah hati dan akan segera memperbaiki audio serta subtitle terkait untuk penayangan ulang, layanan video on demand, dan platform streaming,” lanjut pernyataan tersebut.

Kontroversi semakin memanas setelah episode yang tayang pada Jumat (15/5) memperlihatkan penggunaan istilah “Cheonse” yang berarti “hidup seribu tahun”. Secara historis, frasa tersebut identik dengan negara bawahan kekaisaran, berbeda dengan “Manse” atau “hidup sepuluh ribu tahun” yang melambangkan negara berdaulat dan independen.

Tak hanya istilah seremonial, aksesori kepala kerajaan yang digunakan juga menjadi sorotan. Dalam sejarah Korea, penguasa independen biasanya mengenakan Sibi Myeonryugwan dengan 12 untaian manik giok, sedangkan Guryu Myeonryugwan diperuntukkan bagi penguasa feodal di bawah kekaisaran.

Karena itu, banyak penonton menilai drama tersebut secara tidak langsung menggambarkan Joseon sebagai kerajaan di bawah kekaisaran Tiongkok.

Kontroversi ini bahkan berdampak pada penerbitan buku naskah drama tersebut. Menjelang perilisan pada Senin (18/5), penerbit O’Fanhouse Studio mengumumkan sedang berdiskusi dengan tim produksi untuk merevisi istilah seremonial yang dipermasalahkan.

Pihak penerbit menyebut persoalan ini sangat serius dan akan memberikan pemberitahuan khusus kepada pelanggan yang telah melakukan pre-order edisi pertama. Mereka juga berjanji memasukkan istilah yang telah diperbaiki dalam cetakan berikutnya.

Mulai 18 Mei ini, pembeli edisi pertama juga dapat mengunduh file PDF berisi teks revisi melalui akun media sosial resmi perusahaan. Selain itu, stiker koreksi fisik akan dibagikan bagi pelanggan yang memintanya.

Meski diterpa kontroversi, Perfect Crown tetap mencatat performa impresif dari sisi rating. Berdasarkan data Nielsen Korea, episode ke-12 yang tayang pada 16 Mei meraih rating nasional 13,8 persen, naik dari episode sebelumnya yang mencatat 13,5 persen.

Sementara itu, Disney+ selaku platform eksklusif penayang Perfect Crown di Korea Selatan mengumumkan bahwa serial tersebut menjadi drama Korea paling banyak ditonton secara global dalam 28 hari pertama penayangannya sejak debut pada 10 April lalu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Mal Terbesar di Dunia 2026, Nomor 1 Ada di Negara Perang
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kronologi 2 Bocah Kakak Adik Tenggelam di Kubangan Sungai Bodri Kendal Sedalam 2 Meter
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Jet Rafale dan Radar GCI Perancis Perkuat Pertahanan Udara Nasional
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Jadwal Laga Penentuan Persib atau Borneo FC yang Juara BRI Super League
• 4 jam lalubola.com
thumb
Iduladha 2026 Akan Dirayakan Serentak, MUI Ajak Umat Islam Perkuat Persatuan dan Kesatuan
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.