Bisnis.com, CIREBON — Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mencatat produksi gabah kering giling (GKG) pada panen perdana Januari–April 2026 mencapai 139.811 ton. Volume tersebut setara dengan 89.633 ton beras yang berpotensi masuk ke rantai pasok pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari upaya percepatan masa tanam, pendampingan teknis kepada petani, serta koordinasi intensif dengan kelompok tani di lapangan.
Strategi itu, kata dia, diarahkan untuk menjaga konsistensi produktivitas di tengah anomali iklim yang memengaruhi pola tanam.
“Secara teknis produktivitas kita bagus, tetapi memang terjadi pergeseran waktu panen karena kondisi iklim yang tidak menentu. Ini yang terus kami antisipasi dengan penyesuaian pola tanam,” ujar Deni, Senin (18/5/2026).
Dia mengemukakan produksi pada awal 2026 menjadi modal penting untuk memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.
Dengan volume tersebut, distribusi beras dari hasil panen pertama dinilai cukup untuk menopang kebutuhan beberapa bulan ke depan sebelum masuk ke panen berikutnya.
Baca Juga
- Sawah Indramayu Dipasang Target Tinggi, 10 Ton per Hektare
- Harga Cabai Naik Tajam, Pangan Pokok Lain di Cirebon Relatif Stabil
- Kesehatan 13.945 Hewan Kurban di Jabar Sudah Diperiksa
Data Dinas Pertanian menunjukkan bahwa total produksi beras di Kabupaten Cirebon mencapai 296.416 ton sepanjang 2025. Sementara kebutuhan beras masyarakat pada Januari–Oktober 2025 berjumlah 229.310 ton. Dengan demikian, Cirebon mencatatkan surplus beras sebesar 67.106 ton beras.
Menurut Deni, surplus tersebut menjadi cadangan pasokan sekaligus penyangga ketika terjadi keterlambatan panen akibat perubahan musim. Terlebih, realisasi produksi gabah sangat dipengaruhi pola tanam dan kondisi cuaca selama periode produksi berlangsung.
“Realisasi produksi gabah sangat dipengaruhi pola musim tanam dan kondisi cuaca yang berubah selama periode produksi berlangsung. Karena itu, pendampingan teknis kepada petani menjadi prioritas kami,” katanya.
Pendampingan dilakukan mulai dari penentuan waktu tanam, pemilihan varietas padi, hingga pengelolaan air di tingkat lahan. Dinas Pertanian juga memperkuat koordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan untuk mempercepat penyampaian informasi terkait perubahan cuaca kepada petani.
Selain itu, percepatan masa tanam dilakukan untuk menjaga ritme produksi dan mengurangi potensi kehilangan waktu akibat pergeseran musim.
Deni menilai sektor pertanian di Cirebon masih memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah tantangan perubahan iklim. Namun, dia mengingatkan variabilitas cuaca ke depan berpotensi semakin meningkat.
“Kami mendorong penguatan sektor pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan, pendampingan teknis kepada petani, serta penguatan kesiapan menghadapi perubahan iklim agar produksi padi tetap optimal sepanjang 2026,” ujarnya.
Menurutnya, stabilitas produksi padi turut berpengaruh terhadap kestabilan harga beras di tingkat konsumen karena pasokan lokal dapat menekan tekanan harga ketika distribusi dari luar daerah terganggu.
Dia juga menilai keberlanjutan produksi penting untuk menjaga pendapatan petani melalui kepastian musim tanam dan panen.
“Adaptasi itu kuncinya. Petani harus cepat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang berubah,” katanya.





