Setahun ke belakang, cerita-cerita anak muda mengirim ratusan lamaran pekerjaan tetapi belum juga dipanggil wawancara menghiasi media nasional dan internasional. Persaingan di pasar kerja terasa brutal.
Airlangga Aridharma, Career Content Creator di Lokerse.rem (komik kisah dunia kerja) mengakui, setidaknya ada empat kekhawatiran yang kini mendera kalangan angkatan kerja muda generasi milenial dan gen Z. Kekhawatiran pertama, jumlah pencari kerja dianggap lebih besar dibanding lapangan pekerjaan yang tersedia.
Kedua, perkembangan teknologi digital seperti akal imitasi (artificial intelligence/AI) bergerak sangat cepat. Jika 2025, pembahasan angkatan kerja muda masih seputar bagaimana agar jago prompting AI kini bergeser ke kemampuan membangun alur kerja berbasis AI dan menciptakan sistem otomasi sendiri.
“Disrupsi AI luar biasa (cepat),” ujar Airlangga saat menjadi salah satu pembicara di sesi diskusi “19 Juta Lapangan Kerja?”, bagian dari acara Manager Fest 2026, Sabtu (16/5/2026). Proses beradaptasi dengan disrupsi bikin pencari kerja terengah-engah.
Sejalan dengan kekhawatiran kedua, kekhawatiran ketiga yang banyak dirasakan pekerja muda ialah persoalan ketidakcocokan keterampilan yang mereka miliki semakin besar. Masih banyak pencari kerja yang tidak memiliki keterampilan sesuai sehingga lowongan yang tersedia tidak selalu dapat terisi.
Kekhawatiran keempat yaitu ketegangan geopolitik global. Pekerja muda mengamati situasi itu memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar kerja di Indonesia dan nasib mereka.
Kekhawatiran tersebut dirangkum dari curahan hati dan pengamatan Lokerse.rem. Semuanya berpotensi membuat angkatan kerja muda frustasi. Ada sejumlah lulusan sarjana dan S-2 sekalipun yang dikabarkan telah melamar ratusan lowongan belum mendapatkan pekerjaan.
“Kalau sampai melamar ratusan lowongan pekerjaan, itu bukan berarti mereka kehilangan motivasi. Kebanyakan mereka hanya tidak tahu bagaimana menghadapi situasi perubahan pasar kerja. Forum-forum seperti ini (Manager Fest) penting diselenggarakan untuk membantu menambah wawasan sehingga generasi muda lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja,” ucap dia.
Di acara Manager Fest 2026, isu dunia kerja kekinian beserta kekhawatiran menghadapi perubahan lapangan kerja layak bagi anak muda mewarnai beberapa sesi diskusi. Selain sesi diskusi “19 Juta Lapangan Kerja?”, ada diskusi lainnya yaitu “Shaping the Digital Workforce:What Managers Can Do Now?” dan “The Skills You Learned Outside the Classroom”.
Laporan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) berjudul Lifelong Learning and Skills for The Future (5 Mei 2026) mengakui, dunia kerja secara global sedang mengalami perubahan. Teknologi digital dan AI mengubah cara kerja.
Pergeseran ke arah ekonomi berkelanjutan membentuk kembali sistem produksi dan lapangan kerja. Pada saat bersamaan, penuaan penduduk di berbagai negara mendorong tuntutan lebih besar dari angkatan kerja lebih tua dan kebutuhan perawatan. Perubahan tersebut mendorong perubahan keterampilan yang dimiliki angkatan kerja.
Di tengah berbagai perubahan di dunia kerja, Staf Ahli Menteri Ketenagakerjaan bidang Ekonomi Ketenagakerjaan Aris Wahyudi mengatakan, Kemenaker fokus pada kebijakan pelatihan vokasi. Pelatihan vokasi memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai suplemen untuk menambah keterampilan yang belum dimiliki lulusan, untuk melengkapi kompetensi yang sudah ada. Selain itu sebagai substitusi ketika keterampilan yang dipelajari di pendidikan formal tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, saat dihubungi Senin (18/5/2026), di Jakarta, berpendapat, persoalan yang pekerja muda hadapi sesungguhnya bukan sebatas ketidakcocokan keterampilan, tetapi lapangan kerja formal yang tersedia tengah terbatas.
Sebagai gambaran, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang atau bertambah 1,86 juta orang dibandingkan Februari 2025. Dari jumlah tersebut, penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang, naik 1,89 juta orang dibandingkan setahun sebelumnya.
Dilihat dari sektor pekerjaan, jumlah penduduk bekerja di sektor pekerjaan formal dan informal sama-sama naik. Hanya saja, kenaikan penduduk bekerja di sektor informal lebih besar dibanding formal.
Pada Februari 2026, penduduk bekerja di sektor pekerjaan formal mencapai 59,93 juta orang, naik 740.000 orang dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 59,19 juta orang.
Di sisi lain, jumlah penduduk bekerja di sektor pekerjaan informal pada Februari 2026 mencapai 87,74 juta orang. Dibandingkan Februari 2025, jumlah pekerja informal bertambah sekitar 1,16 juta orang.
Jumlah pengangguran di Indonesia sesuai Sakernas Februari 2026 yaitu 7,24 juta orang, sedangkan setengah pengangguran mencapai 10,73 juta orang.
Sementara sesuai satudata.kemnaker.go.id, sepanjang Januari — April 2026 terdapat 15.425 orang tenaga kerja mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK yang terklasifikasi sebagai peserta program jaminan kehilangan pekerjaan BPJS Ketenagakerjaan.
Tenaga kerja ter-PHK pada periode ini paling banyak terdapat di provinsi Jawa Barat yaitu sekitar 21,65 persen dari total tenaga kerja ter-PHK yang dilaporkan.
Bhima mengamati, sejumlah lulusan sarjana akhirnya memutuskan membantu usaha orangtua yang berada di sektor informal. Misalnya, warung dan bengkel. Ada juga yang memilih menjadi pengemudi transportasi daring dan jenis pekerjaan gig lainnya.
Dari kacamata pelaku industri, Vice President Human Resources di PT Blue Bird Tbk (Blue Bird), Mutiara Dewi Ariani menjelaskan, pekerjaan gig terus berkembang menjadi bagian penting dalam dunia kerja modern dan tidak lagi identik dengan pekerjaan musiman atau industri kreatif saja. Di banyak perusahaan, termasuk perusahaan konvensional yang cenderung konservatif, pekerjaan gig sekarang mulai digunakan untuk berbagai fungsi profesional dan teknis.
Perusahaan saat ini tidak selalu bisa merekrut karyawan tetap setiap kali membutuhkan tenaga kerja baru karena kebanyakan dituntut harus menjaga efisiensi dan rasio biaya perusahaan.
”Penggunaan pekerja gig menjadi salah satu solusi yang dinilai lebih fleksibel,” kata Mutiara yang turut hadir sebagai salah satu pembicara di acara Manager Fest 2026, Sabtu (16/5/2026), di Jakarta.
Kehadiran AI dan lemahnya sistem pendidikan, Bhima melanjutkan tidak cukup dilihat sebagai akar masalah. Sebaliknya, dia menilai, persoalan lebih mendasar adalah ketidakjelasan arah positioning ekonomi nasional. Indonesia belum menentukan secara tegas ingin bersaing di sektor industri apa.
Saat ini, dia memandang, di sektor padat karya, Indonesia justru kalah bersaing dengan India dan Vietnam yang dianggap memiliki kepastian bisnis serta iklim investasi lebih menarik. Bahkan, investor asing disebut mulai mengalihkan ekspansi manufakturnya dari Indonesia ke India dan Vietnam.
Jika mau mengarahkan posisi ke industri berbasis AI dan teknologi tinggi, Indonesia juga belum memiliki ekosistem yang cukup kuat untuk bersaing dengan negara yang lebih dulu berkecimpung, seperti China atau Amerika Serikat. Industri semikonduktor saja, Malaysia sebagai negara tetangga sudah lebih dulu mengembangkan.
Arah digitalisasi Indonesia yang dia nilai lebih banyak melahirkan ekonomi perantara atau middleman economy dibandingkan menciptakan inovator teknologi. Bentuk digitalisasi yang berkembang saat ini lebih didominasi bisnis lokapasar.
Situasi serupa juga dinilai terjadi pada program hilirisasi sumber daya alam. Indonesia memang kaya akan komoditas seperti nikel, timah, dan tembaga, tetapi hilirisasinya belum lengkap. Dalam industri nikel misalnya, masih banyak tahapan industri lanjutan yang belum berkembang di dalam negeri.
“Peta jalan ketenagakerjaan Indonesia juga belum jelas (arahnya),” tuturnya.





