Kondisi ekonomi Indonesia mulai disorot karena dinilai tertinggal dari tren pemulihan global pasca gejolak geopolitik awal 2026. Tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan justru masih berlanjut ketika banyak negara lain mulai bangkit.
Nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level terlemah di kisaran Rp17.700 per dolar AS pada Senin (18/5/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan global yang sebelumnya juga dirasakan oleh banyak negara berkembang.
Namun, berbeda dengan negara lain yang mulai pulih, Indonesia disebut belum menunjukkan tanda rebound yang kuat. Hal ini memicu kritik terhadap kebijakan stabilisasi yang dijalankan otoritas moneter.
Anggota Komisi XI DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, menilai kondisi tersebut sebagai anomali dalam perekonomian nasional. Ia menyebut ada ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar.
Menurut Primus, secara makro ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang cukup baik. Namun, kondisi rupiah yang melemah tajam justru bertolak belakang dengan capaian tersebut.
“Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61%, tetapi nilai tukar Rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar,” kata Primus dalam rapat kerja dengan Bank Indonesia di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah. Kondisi pasar keuangan domestik juga dinilai mengalami penurunan yang cukup dalam.
“Indeks kita juga habislah, merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus. Dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20%,” ujar dia.
Pernyataan tersebut merujuk pada kondisi pasar global setelah eskalasi konflik geopolitik pada akhir Februari 2026. Saat itu, banyak negara mengalami tekanan serupa sebelum akhirnya mulai menunjukkan pemulihan.
Di sejumlah negara, indeks saham dan indikator keuangan lain sudah kembali ke zona positif dalam beberapa pekan terakhir. Pemulihan ini didorong oleh stabilisasi pasar dan ekspektasi kebijakan yang lebih adaptif.
Sementara itu, Indonesia dinilai masih tertinggal dalam proses pemulihan tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan terkait daya tahan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal.
Selain itu, pelemahan rupiah yang terjadi secara konsisten juga dinilai memperburuk persepsi investor global. Ketika mata uang negara lain mulai stabil, rupiah justru terus mengalami tekanan.
Baca Juga: Panji Manusia Milenium Minta Gubenur BI Mundur Usai Rupiah Terjun ke Level Terendah!
Situasi ini dinilai berpotensi memicu capital outflow dan memperbesar tekanan pada sektor keuangan. Jika tidak diantisipasi, dampaknya bisa meluas ke sektor riil dan harga kebutuhan masyarakat.
Primus menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa. Ia meminta otoritas terkait untuk mengambil langkah lebih tegas dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, ketertinggalan dari tren global harus segera direspons agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar ke depan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.





