Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini masih nyaman berada di zona merah. Kinerja IHSG sore terpantau semakin turun.
Mengacu data RTI, Senin, 18 Mei 2025, IHSG turun 124,079 poin atau setara 1,85 persen ke posisi 6.599. Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di posisi 6.628.
Sementara itu, IHSG sempat berada di level terendah yaitu 6.398. Sedangkan untuk level tertinggi adalah 6.631. Total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 32,023 miliar lembar senilai Rp20,717 triliun.
Sore ini, tercatat 125 saham bergerak menguat. Namun sebanyak 616 saham melemah dan 79 saham lainnya stagnan. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11,562 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.570.391 kali.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Baca Juga :
IHSG Turun, Purbaya Klaim Ekonomi Indonesia Masih SolidIHSG turun seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap era suku bunga tinggi akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang menyebabkan harga minyak mentah naik.
"Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 18 Mei 2026.
Sementara dari mancanegara, konflik antara AS dengan Iran masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks bursa global selama pekan ini, di tengah naik turunnya eskalasi antara kedua negara tersebut.
Yield US Treasury mengalami peningkatan, dengan tenor 30 tahun mencapai 5,1 persen, di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga global akibat kenaikan harga minyak mentah.
Pelaku pasar akan mencermati rilis FOMC Minutes dari bank sentral AS The Fed, pelaku pasar mencari indikasi arah suku bunga setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.
Sementara itu, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berakhir tanpa adanya kesepakatan besar, sehingga membuat pelaku pasar kecewa.
Sementara dari Tiongkok, pelaku akan mencermati sejumlah data ekonomi, seperti industrial production dan retail sales. Bank Sentral Tiongkok (PBoC) diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama satu tahun dan lima tahun masing-masing tetap di level tiga persen dan 3,5 persen.



